
Rainer sempat kaget dengan tindakan tiba-tiba Nayra. Namun, secepat kilat dia langsung mulai mengenyot bakpao jumbo berboba yang sudah memenuhi mulutnya. Tidak mungkin kan jika Rainer menyia-nyiakannya?
"Aahhh, eehhmmm, Maassshh." Tubuh Nayra langsung bergetar saat lidah Rainer mulai memainkan boba alami miliknya.
Nayra semakin membusungkan dadanya dan mendekap kepala Rainer agar tidak berpindah dari bulatan kenyal tersebut. Nayra bahkan tidak menyadari jika tangan Rainer sudah mulai melucuti kancing baju tidurnya. Bahkan, tangan Rainer langsung menyusup ke belakang punggung Nayra untuk mencari pengait kacamata jumbo tersebut.
Dan, braahhh. Bakpao jumbo tersebut langsung terekspos dengan sempurna di depan wajah Rainer. Rainer sempat melepaskan bibirnya dari puncak bakpao jumbo yang sudah mengeras tersebut.
Tatapan kedua netra Rainer langsung berbinar saat melihat kedua buah bakpao jumbo menantang di depannya. Saking gemesnya, Rainer mengangkat kedua tangannya dan mencengkram kedua bakpao jumbo tersebut dengan keras.
Grep. Uyekkk uyekkk uyekkk. Uyekkk uyekkk uyekkk.
Mendapati tindakan tiba-tiba tersebut, sontak saja Nayra langsung kelojotan
"Aaahhh, Massshh. Aduuhh. Ke-kencengin, aahhh." Nayra bergerak-gerak gelisah bak cacing kepanasan.
Rainer yang melihat reaksi Nayra, seperti terasa terbakar. Seolah ada yang memantik sumbu bawahnya yang semakin membesar dan menggeliat gelisah. Apalagi, Nayra masih saja menggerakkan pinggulnya maju mundur cantik. Bahkan, Nayra tak segan-segan bergerak naik menekan-nekan bagian bawah tubuhnya.
Karena sudah sama-sama kesulitan menahan gejolak, Rainer segera mengangkat pinggul Nayra. Secepat kilat dia menurunkan celana boxernya, dan menendangnya entah kemana hingga membuatnya sudah langsung polosan di bagian bawah.
Tak hanya itu, Rainer juga langsung menarik baju tidur Nayra dan melemparnya ke bawah tempat tidur. Setelahnya, Rainer langsung mendorong pinggul Nayra agar sedikit berdiri dan menarik turun celana tidurnya hingga tersangkut pada kedua lututnya.
Nayra yang merasa tidak nyaman pun langsung ikut berdiri dan melepas sendiri celana tidurnya. Dan, kini Nayra dan Rainer sama-sama sudah polosan. Nayra yang berdiri di atas tubuh Rainer yang tengah terlentang, hanya menatap wajah sayu suaminya yang berada di bawahnya.
Entah apa yang dipikirkan Nayra, hingga kini dia tampak menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman jahil. Nayra tersenyum sambil bergeser agak sedikit ke depan.
Rainer tang menatap pemandangan di depannya, hanya bisa menelan salivanya berulang kali. Tangannya sudah mengusap-usap kedua betis Nayra. Dan, tanpa menunggu lebih lama lagi, Nayra langsung menurunkan pinggulnya hingga benar-benar berada di atas dada bidang Rainer.
Kedua bola mata Rainer langsung membesar saat mendapati Nayra berani melakukan hal seperti itu. Namun, belum sempat Rainer bersuara, tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak mulut bahkan wajahnya.
Sluruuppp aaahhhhh. 🙄
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Felix yang baru saja kembali dari bar, tampak berjalan sempoyongan. Kepalanya benar-benar pusing. Bahkan, rasa mual pun sudah mulai dirasakannya.
Beruntung Felix masih bisa menjaga kesadarannya hingga bisa kembali ke kamar hotel. Felix langsung berjalan memasuki kamar hotelnya setelah berhasil membuka pintu kamar tersebut. Bahkan, tanpa mengganti baju, Felix langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Felix tidak menyadari jika selama dia berada di bar dan minum-minum tadi, ada sepasang mata yang mengawasinya. Bahkan, Felix juga tidak menyadari jika ada yang mengikutinya hingga ke hotel tempatnya menginap.
Hhmmm, siapa sih ini?
Bagi yang belum mampir di cerita baru othor, bisa samperin cerita barunya. Othor kasih bocoran sedikit, ya.
Pasangan pengantin baru tersebut masih sibuk baku hantam di dalam kamar. Mereka benar-benar tidak menyadari jika tingkah keduanya tersebut membuat kedua orang tua Alesya yang kebetulan belum tidur, menjadi salah sangka.
"Yah, Ibu tidak menyangka jika putri kita seganas itu. Daniel sampai teriak-teriak kejepit dan mau muntah begitu," ucap Ibu sambil mencengkram lengan ayah.
"Biarkan saja, Bu. Namanya juga anak muda. Apalagi, mereka sudah halal."
"Iya, Yah. Besok kita lihat, kira-kira siapa yang KO duluan. Hihihi." Ibu cekikikan membayangkan apa yang akan dilakukannya untuk menggoda anak dan menantunya.
"Gampang. Kita lihat dari cara jalan mereka. Hehehe."
Sementara di dalam kamar, secepat kilat, Daniel beranjak dari tempat tidur dan melompat turun. Karena kurang keseimbangan, alhasil Daniel terpeleset dan terjatuh hingga menubruk kursi rias Alesya. Daniel langsung nyungsep hingga kursi rias Alesya pun ikut terguling. Alhasil, pangkal paha Daniel pun terkena ujung kaki kursi rias tersebut.
Brukkkk.
"Aaarrgghhh." Suara kesakitan Daniel pun langsung terdengar. Namun, karena dia laki-laki, Daniel langsung mendesis sambil meringis setelahnya.
Alesya yang melihat hal itu, langsung panik. Dia buru-buru menghampiri Daniel dan membantunya berdiri.
"Aduuhh, maaf, Da. Gue nggak sengaja tadi. Lagian, sudah tahu ada kursi di situ malah lo tabrak," ucap Alesya sambil membantu Daniel berdiri.
"Nggak lihat gue, Le. Sshhhh," jawab Daniel sambil meringis. Rasanya, ada yang ngilu di bagian pangkal pahanya. Daniel benar-benar tidak menyangka jika pagi pertamanya sebagai seorang suami, harus merasakan sakit karena menubruk kursi rias.
__ADS_1
Setelah itu, Daniel melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi. Dia menggosok gigi dan mengambil air wudhu. Tak berapa lama kemudian, Daniel sudah selesai. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan jalan yang sedikit kesulitan.
Alesya sudah menyiapkan perlengkapan sholat untuk Daniel. Setelah itu, dia segera keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Alesya ingin membuatkan kopi untuk Daniel. Dia sudah cukup hafal kebiasaan minum kopi suaminya itu.
Di dapur, Alesya bertemu dengan ibu yang sedang memasak sarapan. Alesya tidak menyadari ekspresi ibu yang sudah senyum-senyum sendiri melihat Alesya saat memasuki dapur.
"Pagi, Bu." Alesya menyapa sang ibu sambil mengambil gelas.
"Pagi, Sayang. Bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya ibu.
"Capek, Bu. Rasanya tulang-tulangku seperti 'dipreteli'. Lemes banget."
Ibu langsung senyum-senyum setelah mendengar jawaban sang putri. Entah apa yang dipikirkan ibu hingga membuatnya tampak bahagia.
Belum sempat ibu menjawab, terdengar suara ayah yang baru saja pulang dari masjid komplek. Ayah langsung menghampiri istri dan putrinya tersebut di dapur.
"Suami kamu belum bangun, Ca?" tanya ayah sambil mengambil air putih.
"Sudah, Yah. Tadi masih sholat." Alesya menjawab sambil menuangkan air mendidih pada kopi Daniel.
"Mungkin tidur lagi, Ca. Kasihan Daniel pasti capek. Dia tidak tidur sejak semalam," ucap Ayah.
Belum sempat Alesya menjawab ucapan sang ayah, terdengar sebuah suara dari arah ruang tengah.
"Aku sudah bangun kom, Yah. Ini baru selesai sholat," ucap Daniel yang kebetulan tadi sempat mendengar ucapan ayah mertuanya.
Ketiga orang yang tengah berada di dapur tersebut, langsung menoleh ke arah Daniel. Maklum, dapur tersebut terbuka dan hanya dibatasi oleh mini bar. Jadi, mereka bisa melihat orang yang ada di luar dapur.
Saat melihat Daniel melangkah dengan pelan-pelan, sontak saja hal itu membuat ibu Alesya berteriak heboh.
"Yah, sudah tahu siapa pemenangnya kan?"
__ADS_1
"He?"