
Citra terpaksa menunggu Felix yang berjanji untuk pulang lebih awal sore ini. Mau tidak mau, dia terpaksa ikut belanja seluruh barang kebutuhan Finn, mengingat Finn belum punya banyak barang-barang keperluannya.
Siang itu, Rainer dan Felix baru saja makan siang di luar. Nayra sudah meminta Rainer untuk segera kembali ke kantor. Ada salah seorang rekan bisnisnya yang sudah menunggu.
"Gue balik dulu, Lix. Semua sudah selesai, kan?" tanya Rainer saat menghampiri ruang kerja Felix.
"Beres, Rain." Felix mengacungkan jari jempolnya ke arah Rainer.
Rainer mengangguk-anggukkan kepala.
"Untuk bantuan yang gue bilang, nanti gue diskusikan dulu sama papa. Gue kabari jika sudah ada hasilnya."
"Oke, Boss," ucap Felix sambil berdiri dan memberikan hormat layaknya sedang upacara bendera. "Nggak salah nih gue punya bos begini," lanjut Felix sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Cckkk. Dasar." Rainer menggerutu kesal.
Felix langsung tergelak mendengar gerutuan Rainer. Namun, beberapa saat kemudian dia langsung tersadar. Felix segera menghentikan tawanya dan menatap Rainer dengan ekspresi memohon.
"Rain, gue boleh minta izin pulang cepet nggak hari ini? Gue mau belanja. Tuh bayi nggak punya popok dan segala macam keperluannya. Gue kasihan, Rain." Felix memasang wajah memelas di depan Rainer berharap dia mendapatkan izin. Jangan lupakan kedipan mata Felix yang membuat seimut mungkin.
__ADS_1
Rainer yang melihat tingkah Felix tersebut langsung merinding. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menoyor kening Felix.
"Muka lo nggak usah di setting begitu! Geli gue." Rainer masih bergidik.
Felix tertawa terbahak-bahak. Dia merasa senang bisa menggoda Rainer.
"Oke, oke. Jadi bagaimana? Gue bisa izin pulang cepat hari ini?" tanya Felix kembali memastikan.
"Hhhmmm."
Mendengar gumaman Rainer, Felix menjadi lebih semangat. "Serius, boleh?"
"Waahh, thanks Rain," ucap Felix sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Rainer. Namun, secepat kilat tangan Rainer menghalangi dada Felix yang hendak mendekat.
"Cckkkk. Sekali lagi lo berbuat aneh-aneh, gue cabut izin dan bantuan gue." Rainer menatap tajam ke arah Felix.
Felix segera menghentikan tindakannya dan tersenyum nyengir. Dia langsung mengangguk-anggukkan kepala menyetujui ucapan Rainer. Setelah itu, Rainer bergegas untuk kembali ke kantor. Dia tidak mau membuat kliennya menunggu lebih lama lagi.
Sementara itu, Nayra yang baru saja mengantarkan minuman untuk tamu Rainer, bergegas kembali ke ruangannya. Sudah ada Resta yang menemani klien tersebut. Biasanya, Nayra memang yang menemani tamu jika Rainer belum datang. Namun setelah menikah, Rainer melarang Nayra menghandle klien laki-laki. Mau tidak mau, Resta yang mengambil alih urusan tersebut.
__ADS_1
Nayra bergegas menuju ruangan Linda untuk mengambil titipan seblaknya. Siang ini, dia benar-benar ingin makan seblak.
"Thanks, Lin. Gue benar-benar ingin makan seblak hari ini," ucap Nayra dengan wajah berbinar bahagia.
"Iya. Apa sih yang enggak buat sahabat gue." Linda tersenyum sambil memutar kursinya ke arah Nayra.
Wajah Nayra langsung berbinar bahagia. Dia merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Linda yang bisa membantunya seperti ini.
Ketika Nayra hendak kembali ke ruangannya, Linda menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.
"Gimana kemarin?" tanya Linda.
"Eh, gimana apanya?" Nayra masih belum bisa memahami maksud pertanyaan Linda.
"Itu, yang tentang perasaan kamu."
Nayra baru mengerti maksud pertanyaan Linda. Dia mendesahkan napas berat sambil mulai menerawang.
'Apa benar aku sudah jatuh cinta sama mas Rain?'
__ADS_1
Hhmmm, benar nggak nih?