
Rainer berusaha menahan ******* yang bisa saja keluar dari bibirnya. Dia masih membiarkan Nayra memainkan tongkat kehidupannya yang sudah berdiri dengan gagahnya seolah menantang si pemilik dan membuktikan jika dia sudah siap untuk berperang.
Nayra menyadari jika Rainer berusaha untuk tidak tergoda. Namun, si senapan cairan kental miliknya justru tidak bisa bekerja sama. Bahkan, saat ini senapan tersebut sudah benar-benar berdiri tegak sekeras tiang listrik hanya dengan permainan tangan Nayra.
Entah belajar dari mana, Nayra terlihat benar-benar seperti seseorang yang sudah sangat ahli memainkan senapan alami.
Rahang Rainer mengeras dengan jakun naik turun. Sepertinya, Rainer benar-benar bertekad untuk tidak tergoda oleh tindakan Nayra.
"Mas, jangan diam saja. Aku minta maaf jika tadi membuat kamu tidak nyaman. Bukan mauku juga bertemu dengan Aaron tadi di sana. Aku juga tidak tahu jika ada Aaron tadi. Jika aku tahu ada dia disana, aku juga malas mau ikut, Mas," ucap Nayra sambil masih menggerakkan tangannya naik turun.
"Hhhmmm." Rainer hanya menjawab dengan gumaman. Namun, ekspresinya benar-benar tidak bisa berbohong.
Wajah Rainer sangat jelas sekali sudah terlihat mupeng. Bahkan, kedua tangan Rainer sudah mencengkram sprei dengan keras. Eh, ini siapa yang mempeerkaos siapa sih?
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nayra langsung beranjak duduk tanpa melepaskan aktivitas tangannya. Secepat kilat, Nayra tiba-tiba sudah berada di atas tubuh Rainer. Dan, tentu saja hal itu membuat Rainer terkejut. Tidak biasanya Nayra agresif seperti ini. Apalagi, Nayra melakukannya dengan inisiatif sendiri. Bukan karena permintaan Rainer.
"Kenapa diam saja dari tadi, Mas? Yakin nggak mau ngapa-ngapain, nih?" tanya Nayra sambil bergerak perlahan melepas kancing baju tidurnya.
Lagi-lagi, Rainer hanya bisa menelan salivanya dengan keras. Jakunnya sudah naik turun, dengan tatapan tertuju pada gerakan tangan Nayra.
Nayra benar-benar berhasil menggoda Rainer. Sambil membuka kancing-kancing baju tidurnya dengan gerakan sensyual, Nayra juga menggerakkan bookongnya maju mundur cantik.
Tentu saja hal itu membuat Rainer keenakan hingga merem melek hingga mendongakkan kepala. Jangan lupakan Rainer yang menggigit bagian dalam bibir bawahnya untuk meredam desisan.
Tentu saja Nayra yang merasa berhasil menggoda Rainer, langsung menyunggingkan senyuman.
"Kenapa, Mas?" tanya Nayra sambil masih menyunggingkan senyuman kemenangan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" desis Rainer lirih. Dia berusaha dengan keras menahan sesuatu yang sudah nyut nyutan di bawah sana.
"Memang aku ngapain sih, Mas? Kalau tadi, maunya sih naik 'kuda'. Tapi, ternyata kudanya lagi tidak bernafffsu. Jadi, ngapain harus aku lanjutkan," jawab Nayra.
Rainer yang mendengar jawaban Nayra, secepat kilat langsung menyambar tangan Nayra yang masih berusaha mengancingkan kembali kancing baju tidurnya. Tatapan mata Rainer langsung menghujam dalam-dalam kedua netra Nayra.
"Jangan main-main, Nay. Segera selesaikan apa yang telah kamu mulai. Kamu sudah berhasil membangunkannya. Jangan bergenti sebelum 'dia' mandi basah cairan dari kedua mulut kamu," ucap Rainer dengan tatapan menahan ga irah.
Bukannya takut, Nayra justru semakin berani menggoda Rainer. Kali ini, dia mengusapkan tangan kanannya pada dada bidang Rainer. Dan, tangan kirinya mulai menyibakkan baju tidurnya hingga memperlihatkan bahu kirinya dan salah bakpao jumbo miliknya.
Sebuah senyuman menggoda muncul pada bibir Nayra. Hingga ketika Rainer membuka mulut hendak bersuara, tiba-tiba Nayra membungkam bibir Rainer dengan bakpao jumbonya.
Haeempphhhh nyem nyem nyem.
__ADS_1
"Aahhhh, Maasss."