Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Felix Absen


__ADS_3

Kening Rainer berkerut setelah mendengar jawaban sang sahabat sekaligus asistennya. Pasalnya, kemarin Felix masih terlihat segar bugar. Masa iya langsung bisa sakit dalam semalam? batin Rainer.


"Lo sakit?" tanya Rainer penasaran.


Terdengar helaan napas dari seberang sana. Entah apa yang dipikirkan oleh Felix hingga membuatnya seperti tengah tertekan tersebut.


"Nggak lah. Gue sehal wal afiat," jawab Felix.


"Terus, ngapain lo di rumah sakit? Jangan bilang lo cari gebetan disana? Balik kantor gih, ada meeting kita." Rainer tampak gusar. Jika Felix sakit, dia masih bisa memberikan toleransi. Namun, jika ternyata Felix tengah menggoda para wanita-wanita gebetannya, tentu saja Rainer tidak akan tinggal diam.


"Sembarangan. Gue ada urusan, Rain. Nanti deh, gue jelasin semuanya. Sekarang, gue lagi riweuh." Felix terdengar sedang berbicara dengan seorang perawat.


Mau tidak mau, Rainer harus bersabar menunggu penjelasan sahabatnya tersebut. Meskipun suka seenaknya sendiri, namun Felix cukup bisa dipercaya. 

__ADS_1


Setelah mematikan panggilan telepon, Rainer segera bergegas menuju ruangan meeting. Dia sudah ditunggu oleh beberapa orang disana. Pagi itu, sepertinya Rainer harus membutuhkan konsentrasi ekstra untuk melakukan meeting karena Felix tidak ada.


Sementara di kantor lain, Nayra sudah kembali berkutat dengan pekerjaannya setelah mendengarkan cerita Resta beberapa saat yang lalu. Dia sama sekali tidak menyangka jika Resta telah berhasil menarik perhatian seorang CEO muda yang sempat bertemu beberapa kali dnegannya. 


Dan, Nayra juga tidak habis pikir saat Resta mendapatkan beberapa pesan yang sedikit 'horor' dari perempuan tersebut. Dengan tanpa rasa malu, Resta menunjukkan isi pesan yang dikirim oleh perempuan tersebut pada ponsel Resta.


Resta merasa sangat bingung harus bersikap seperti apa. Dia khawatir jika tidak membalas pesan perempuan tersebut, nanti akan berakibat pada kerjasama dengan perusahaan. Namun, jika dia membalas pesan itu, Resta merasa tidak nyaman. 


Sebenarnya, bukan karena apa-apa jika Resta merasa tidak nyaman. Hanya saja, Resta merasa dia tidak pantas jika meladeni perempuan tersebut tang memang berasal dari keluarga kaya raya.


Menjelang makan siang, Rainer sudah bergegas kembali ke kantor. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Nayra untuk menyiapkan makan siang. Entah mengapa siang ini Rainer sangat ingin makan mie kuah dengan sayur sawi yang banyak dan kuning telur yang masih utuh. Bahkan, jumlah cabenya pun harus dihitung sebanyak lima biji untuk satu mangkuk.


Meskipun kesal, Nayra tetap memesan makan siang seperti permintaan Rainer tersebut. Jika tidak, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh suami sekaligus atasannya tersebut.

__ADS_1


Di rumah sakit.


Felix tampak menunggu di depan sebuah ruangan. Wajahnya masih tampak gelisah. Bahkan, Felix tidak sempat mandi tadi pagi. Tidak biasanya Felix mengabaikan penampilannya hari itu. Jika biasanya Felix akan terlihat rapi dengan rambut yang meskipun terkesan ditata asal, namun masih cukup rapi dilihat.


Beberapa kali Felix mengusap wajahnya dengan gusar. Tangannya bahkan tidak berhenti bergerak dan terlihat gelisah. Dia juga sering melongokkan kepalanya ke arah dalam ruangan tersebut.


Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, pintu ruangan tersebut terbuka. Terlihat seorang perawat perempuan tengah menggendong seorang bayi laki-laki keluar dari ruangan tersebut.


"Ini putranya, Pak. Semua prosesur sudah selesai dilakukan. Untuk hasil test DNA nya akan keluar sekitar satu minggu lagi," ucap perawat tersebut.


Anak? Felix punya anak? Kok bisa? Kapan dia depe nya? 


Setelah bab ini, nanti akan di ceritakan kisah Felix, ya. Tapi tenang saja, si Rainer dan Nayra juga tetap ada kok, belum end. Untuk visual, ada di igeh othor ya. 🤗

__ADS_1


Tinggalkan jejak yang banyak ya, biar othor semangat up. Jangan lupa bagi jatah vote untuk cerita ini sama Kudanil dan Ale-ale. 🤭


__ADS_2