Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Suami


__ADS_3

Rainer langsung meletakkan sendok yang dipegangnya dengan kasar. Dia menoleh ke arah Nayra dengan tatapan tajamnya. Melihat ekspresi Rainer yang seperti itu, Nayra langsung mengerutkan kening.


"Ada apa?" tanya Nayra.


"Cckkk. Masih tanya ada apa? Kamu sadar tidak apa yang sudah kamu lakukan? Apa sopan berbalas pesan dengan laki-laki lain di depan suaminya?" Tatapan mata Rainer langsung menghunus tajam pada mata Nayra.


Nayra semakin bingung. "Berbalas pesan apa maksudnya? Ini saya hanya balas pesan Aaron, Pak."


Mendengar panggilan Nayra terhadapnya masih tidak berubah, tentu saja hal itu membuat Rainer langsung geram. Dia merasa benar-benar marah saat sang istri tidak mengindahkan ucapannya.


"Kamu masih memanggilku, Pak?" Tatapan mata Rainer masih tajam.


Menyadari hal itu, Nayra langsung menggelengkan kepala. "Ti-tidak. Ma-maksud saya, itu, anu…," Nayra terlihat bingung menjawab ucapan Rainer.


Sebenarnya, bukan karena dia tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh Rainer. Namun, Nayra masih merasa canggung jika harus memanggil Rainer dengan sebutan 'mas'. Padahal, selama ini dia sudah terbiasa memanggil dengan sebutan 'Pak'.

__ADS_1


"Itu, anu, apa? Masih beralasan lagi?" Rainer terus memojokkan Nayra.


Nayra segera menggelengkan kepala. "Ti-tidak. Bukan seperti itu. Ehm, saya masih merasa canggung jika harus mengganti nama panggilan. Selama ini, saya sudah terbiasa memanggil anda dengan panggilan 'Pak Rain'. Jika harus langsung berubah begini, rasanya jadi canggung, Pak." Nayra berusaha mengutarakan apa yang dirasakannya.


"Aku tahu jika semua ini mendadak. Tapi, setidaknya kamu juga bisa mulai membiasakannya. Aku tidak mau jika kamu masih membiasakan panggilan itu jika di rumah. Nanti, jika kita gelut di ranjang, masa iya kamu akan mendesah-desah panggil-panggil 'pak, pak' begitu. Berasa gelut sama anak." Rainer langsung mendengus kesal.


Nayra yang mendengar ucapan Rainer, langsung menggerutu kesal. Bisa-bisanya pikiran atasannya itu sudah sampai pada tahap gelut-gelutan. 


"Apa-apaan maksudnya itu gelut an? Ingat ya, Pak, jangan suka aneh-aneh. Anda kan sudah janji." Nayra mengingatkan Rainer.


Rainer mencebikkan bibir sambil mendengus kesal. Entah mengapa dia merutuki mulutnya yang sudah keceplosan.


"Ccckkk. Aneh-aneh apa sih maksudnya, Mas?" Kali ini, Nayra memberanikan diri memanggil Rainer dengan panggilan 'mas'. Dan, hal itu berhasil membuat Rainer terkejut.


Awalnya, wajah Rainer masih ditekuk karena kesal. Namun, saat mendengar Nayra memanggilnya dengan panggilan 'mas', Rainer langsung terlihat senang. Bibirnya yang semula mengerucut, kini mulai sedikit tertarik di kedua ujungnya.

__ADS_1


Nayra bukan tidak menyadari perubahan ekspresi Rainer, namun dia masih pura-pura tidak melihatnya. Nayra justru menunjukkan layar ponselnya yang berisi pesan balasannya untuk Aaron.


Maaf, sebelumnya. Aku tidak bisa mengiyakan ajakanmu sebelum meminta izin kepada suamiku. ~ Nayra.


Kedua bola mata Rainer langsung membulat setelah membaca pesan balasan Nayra. Dia tidak menyangka jika Nayra akan membalas pesan Aaron seperti itu. Rainer berpikir jika Nayra akan mengiyakan ajakan Aaron atau mungkin mengajaknya bertemu di lain waktu. 


Namun ternyata, pikirannya tersebut salah. Nayra justru menjawab dengan tidak mengiyakan ajakan Aaron sebelum bertanya kepadanya. Dan, satu kata yang berhasil membuat jantung Rainer sedikit terusik, adalah kata 'suami' yang diketikkan Nayra pada pesan balasannya tersebut.


Hingga secara tidak sadar, kedua ujung bibir Rainer tertarik semakin dalam. Tentu saja Nayra bisa melihatnya dengan jelas.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Nayra.


"Cckkk. Suami senyumin istri itu bisa dapat pahala lho. Dan, bakal jauh lebih banyak pahalanya jika senyuman itu dilakukan oleh sang istri pada kedua bibirnya."


"Bibir siapa yang dua?"

__ADS_1


•••


Mohon maaf, beberapa hari ini othor up agak jarang. Othor ada deadline pekerjaan di real life. 🙏


__ADS_2