
Kedua netra Nayra langsung membulat saat mendapati Aaron sudah berada di depannya. Bahkan, saat ini dia sedang mencengkram lengan Nayra dengan erat.
"A-apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" Bisik Nayra.
Namun, bukannya melepaskan tapi Aaron justru menarik Nayra hingga tubuh mereka terhalang sebuah pembatas yang dihiasai beberapa bunga.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu," ucap Aaron.
"Apa? Apa yang ingin kamu bicarakan?" Nayra menghempaskan tangan Aaron dengan kasar setelah mereka berhenti dan saling berhadapan.
Bukannya menjawab pertanyaan Nayra, Aaron justru hanya menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Karena kesal, Nayra langsung kembali bersuara.
"Jika tidak ada yang ingin kamu sampaikan, aku akan pergi," ucap Nayra sambil hendak berbalik. Namun, langkahnya terhenti saat lagi-lagi tangannya di cekal oleh Aaron.
"Apa kamu bahagia?" tanya Aaron tiba-tiba.
__ADS_1
Seketika Nayra mengerutkan kening sambil menatap ke arah Aaron.
"Apa maksud kamu?" tanya Nayra bingung.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Aaron lagi.
"Tentu saja aku bahagia. Jika aku tidak bahagia, aku tidak akan memilih menjalani pernikahan ini," jawab Nayra.
Terlihat Aaron mendesahkan napas berat sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah itu, kedua netranya menatap wajah Nayra dalam-dalam.
Nayra masih mencerna maksud ucapan Aaron tersebut. Apa maksudnya dengan merelakan? Memangnya Nayra siapanya Aaron? batin Nayra bingung.
Namun, Nayra hanya bisa diam sambil mengangguk samar. Dia hanya ingin menyudahi obrolan ini dan segera pergi dari sana. Nayra tidak ingin membuat sang suami marah dan akan berujung pada tubuhnya yang akan remuk kemudian.
"Aku akan menikah. Dan, aku harap kamu bisa datang nanti. Akan aku kirimkanĀ undangan resepsi pernikahanku nanti," lanjut Aaron.
__ADS_1
Nayra yang memang sudah mengetahui rencana pernikahan Aaron tersebut, hanya bisa mengangguk.
"Aku tidak bisa janji. Tapi, aku mendoakan jika pernikahan kalian nanti bisa menjadi pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah. Dan, aku harap kamu bisa menerima pernikahan ini dengan lapang dada."
Aaron hanya bisa menganggukkan kepala sambil tidak mengalihkan tatapannya dari wajah Nayra. Setelah itu, Nayra buru-buru berpamitan dan beranjak pergi dari sana. Dia tidak ingin membuat kesalahpahaman dengan Rainer nantinya. Dan, beruntung Rainer masih mengobrol dengan beberapa kolega.
Menjelang petang, Rainer dan Nayra berpamitan. Mereka langsung bergegas pulang. Sebelumnya, Resta juga sudah menghubungi Nayra jika mobil Nayra sudah diantarkan pulang. Jadi, Nayra tidak perlu mengambil mobilnya kembali di kantor.
Ketika Nayra baru saja memasangkan seatbelt, tiba-tiba suara Rainer membuatnya terkejut.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Bass tadi?" tanya Rainer sambil menoleh ke arah Nayra. Jangan lupakan tatapan mata yang seolah ingin menguliti Nayra sudah dilayangkan oleh Rainer.
Glek. Nayra menelan salivanya dengan keras sambil menoleh ke arah Rainer yang sedang duduk disampingnya.
'Kok dia bisa tahu jika tadi aku ngobrol dengan Aaron. Atau jangan-jangan, sebenarnya dari tadi dia mengawasi kami? Siiall! Jika sudah seperti ini, rasa-rasanya aku tidak akan bisa beristirahat malam. Ini. Atau bahkan, malam-malam esok harinya lagi,' gumam Nayra dalam hati.
__ADS_1
Hhmmm, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Rainer ya? Mungkin, ada yang bisa jadi peramal nih? š¤