
Citra langsung menoleh ke arah Felix dengan kening berkerut. Sementara yang sedang diperhatikan masih belum menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Hingga beberapa saat kemudian, Felix menoleh ke arah Citra dengan ekspresi tak kalah bingungnya.
"Kenapa?" tanya Felix dengan tampang tanpa dosa. "Apa ada yang salah dengan ucapanku?" lanjut Felix.
Citra mencebikkan bibir sambil kembali menyantap sarapannya.
"Apa maksud ucapan Om tadi? Maksudnya apa menjadi mamanya Finn? Aku menikah sama Om begitu?" tanya Citra sambil mendengus kesal.
Seketika Felix tersadar dengan ucapannya tersebut. Dia tidak bermaksud seperti itu.
"Eh, bu-bukan begitu maksudku tadi. Maksudnya, dari pada kamu pindah ke Lembang, mendingan disini jagain Finn. Aku akan membayar dua kali lipat gaji yang ditawarkan untuk kamu. Bahkan, kamu bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik dari sana," ucap Felix.
Kedua bola mata Citra langsung terbuka dengan lebar. Dia tidak menyangka jika Felix akan menawarkan pekerjaan untuknya.
"Maksud Om, aku jadi baby sitter Finn begitu?" tanya Citra menegaskan ucapan Felix.
__ADS_1
"Iya. Aku akan kasih kamu gaji dua kali lipat dari yang ditawarkan sebagai penjaga villa itu. Selain itu, kamu bisa tinggal disini dan makan juga disini. Aku juga akan memberikan bayaran untuk asi yang kamu berikan kepada Finn. Dan, tentu saja semua itu diluar dari gaji kamu menjaganya. Bagaimana? Kamu tertarik?" Felix menoleh ke arah Citra dengan ekspresi serius.
Lagi-lagi kedua bola mata dan mulut Citra terbuka dengan lebar. Dia mulai menghitung bayaran yang akan diterimanya selama satu bulan bekerja di tempat Felix. Setidaknya, dalam dua bulan dia bisa membayar uang kuliahnya selama satu semester. Ini benar-benar kesempatan yang bagus menurut Citra.
Namun, tawaran tersebut tidak serta merta langsung diterima. Citra kembali menimbang-nimbang ucapan Felix tersebut dengan apa yang diketahuinya tentang laki-laki itu.
Dimata Citra, Felix adalah laki-laki yang suka celup sana celup sini. Dia bahkan berpikir jika Felix mungkin saja mempunyai anak lain dari perempuan-perempuan yang berbeda di luar sana. Entah mengapa Citra mendadak takut saat memikirkan hal itu.
"Ehm, jika aku menerima tawaran ini, apa itu artinya aku akan pindah kesini, Om?" tanya Citra.
"Tentu saja. Jika kamu menerima tawaranku, kamu harus pindah kesini segera. Bukankah kamu bilang hanya sementara tinggal di sebelah?"
Citra menganggukkan kepala dengan wajah ditekuk.
"Memang benar, Om. Tapi, kalau aku menerima tawaran Om, apa aku akan dapat jaminan tidak akan diapa-apain sama Om?" tanya Citra masih dengan ekspresi ditekuknya.
__ADS_1
Kening Felix berkerut. Dia masih belum bisa mencerna ucapan Citra barusan.
"Diapa-apain bagaimana maksudnya? Kamu kira aku laki-laki yang suka cari-cari kesempatan begitu?" Felix langsung meninggikan suaranya. Entah mengapa dia merasa tidak terima dengan ucapan Citra tersebut.
Citra menggelengkan kepala sambil mengedikkan bahu.
"Bukan begitu maksudku, Om. Ya, aku hanya berjaga-jaga saja. Siapa tahu 'nakal' Om sedang kumat dan aku harus berjaga-jaga, dong?" ucap Citra seolah tidak takut dengan Felix.
"Ccckkkk." Felix berdecak kesal. "Apa maksud kamu berjaga-jaga jika aku 'nakal'? Kamu kira aku laki-laki yang suka jajan sembarangan?" lanjut Felix.
Citra mengedikkan bahu sambil lalu.
"Ya, mana aku tahu, Om. Itu buktinya ada Finn, kan?"
Felix hendak marah, namun entah mengapa tiba-tiba mulutnya mendadak terkunci. Memang benar apa yang dikatakan oleh Citra.
__ADS_1
Jika dia merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan oleh Citra, bagaimana mungkin Finn bisa memiliki wajah yang sangat mirip dirinya saat masih kecil? Apa benar dirinya sudah pernah melakukan 'itu' sebelumnya? Tapi, sama siapa? Felix benar-benar tidak bisa mengingatnya.