Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Harus Bersabar


__ADS_3

Nayra masih bingung dengan ucapan Rainer. Dia hanya bisa pasrah saat Rainer mematikan televisi dan menariknya berjalan menuju kamar. Entah mengapa jantungnya langsung berdegup kencang saat membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi.


Tiba-tiba pipi Nayra mendadak terasa panas. Telapak tangannya juga langsung berkeringat saat itu.


"Kita tidur di sini kan malam ini?" tanya Rainer saat sudah berada di dalam kamar Nayra.


"Ehm i-iya. Maaf kamarnya sempit." Nayra merasa tidak enak. Biasanya, Rainer memang tidur di tempat yang nyaman dan enak. Sangat berbeda dengan tempat tinggal Nayra saat itu. Ya, meskipun tempat tinggal Nayra termasuk memiliki fasilitas yang lengkap dan sangat bersih.


"Tidak apa-apa. Aku justru lebih suka jika tempat tidurnya sempit," jawab Rainer.


Nayra menoleh ke arah Rainer dan mengernyitkan kening bingung. Dia masih belum mengerti apa maksud Rainer. 


Rainer menarik Nayra mendekat ke arah tempat tidur. Dia hendak merebahkan tubuhnya di sana, namun langsung di tahan oleh Nayra.

__ADS_1


"Sudah sikat gigi? Cuci kaki?"


Rainer menoleh dengan bibir mengerucut. Sebenarnya, dia cukup kesal dengan ucapan Nayra. Namun, mau tidak mau Rainer melepaskan tangannya pada tangan Nayra dan bergegas ke kamar mandi. Nayra sudah memberikan sikat gigi baru kepada Rainer sejak tadi.


Sementara Rainer ke kamar mandi, Nayra membuka lemari bajunya. Dia mengambil baju tidur untuknya. Nayra berniat mengganti baju setelah Rainer selesai. Begitu Rainer kembali ke dalam kamar, Nayra memilih beranjak ke kamar mandi untuk berganti baju. Tidak mungkin dia mengganti baju di dalam kamar. Bisa-bisa, Rainer akan langsung minta bayaran kontan saat itu juga.


Begitu Nayra selesai, dia langsung mematikan lampu dan berjalan memasuki kamar. Awalnya, dia merasa ragu-ragu dan khawatir. Namun, Nayra kembali meyakinkan dirinya sendiri jika saat ini Rainer sudah menjadi suaminya yang sah di mata hukum dan agama. Jadi, tidak ada alasan untuk membuatnya takut. Hanya saja, Nayra masih sedikit takut jika mereka harus melakukan 'itu' di rumah kontrakannya.


Bukan apa-apa. Nayra hanya khawatir suara yang mereka hasilkan akan membuat para tetangga penasaran. Pasalnya, mereka tidak tahu jika Nayra sudah menikah. Tepatnya, mereka belum tahu.


"Iya, iya, Ma. Minggu depan aku akan menyiapkan semuanya. Kalau perlu, pakai WO saja sekalian," ucap Rainer sambil mendengus kesal. Rupanya, Rainer tengah bertukar suara dengan sang mama.


Nayra perlahan-lahan memasuki kamar dan segera menutup pintunya. Dia masih berdiri di dekat pintu hingga Rainer selesai menelpon mamanya. Hingga beberapa saat kemudian, Rainer sudah mematikan sambungan telepon tersebut. Dia menyimpan ponselnya di atas meja rias Nayra yang ada di samping sebelah kiri kamar.

__ADS_1


"Kenapa masih berdiri di sana? Nggak mau tidur disini?" tanya Rainer sambil menepuk-nepuk tempat tidur di sampingnya.


"Ehm, iya mau." Nayra mendekat dengan perasaan dag dig dug der. Otaknya sudah mulai memilih dan memilah adegan lanjutan yang kemungkinan besar bisa terjadi.


"Tadi mama telepon. Mama minta minggu depan kita menyelenggarakan acara lamaran," ucap Rainer saat Nayra sudah duduk di sampingnya.


"Eh, jadi rencana yang itu?" tanya Nayra.


"Tentu saja jadi. Mama ingin kamu tidak melewatkan acara seperti itu. Dan, mama juga minta kita harus bersabar untuk tidak melakukan 'itu' sampai resepsi pernikahan," ucap Rainer dengan ekspresi kesal. 


"Yaahhh."


•••

__ADS_1


Eh, siapa sih itu yang kecewa?


__ADS_2