
Rainer masih diam membeku. Dia terlihat cukup syok karena mendapatkan berita yang diluar imajinasinya. Entah mengapa Rainer tiba-tiba merasa berada di dimensi lain. Dia hanya mendengar sayup-sayup suara sang mama yang masih heboh berteriak-teriak histeris. Hingga sebuah sentuhan lembut menyadarkan Rainer dari kebekuannya.
"Ma-mas? Kamu tidak senang dengan berita ini?" tanya Nayra lirih. Bisa dilihat ekspresi wajah Nayra berubah menjadi sendu.
Nayra sempat berpikir jika Rainer tidak bahagia dengan berita kehamilannya tersebut. Rainer yang langsung terdiam saat diberitahu tentang kehamilan Nayra, membuat sang istri berpikir macam-macam. Padahal, yang Nayra tidak tahu adalah saat itu Rainer masih syok. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya akan mengalami fase seperti ini.
Kening Rainer berkerut saat kesadarannya sudah kembali. Dia menatap Nayra masih dengan tatapan syok. Namun, seketika tatapan itu berubah menjadi tatapan haru, bahagia, dan bersemangat.
Seketika Rainer langsung menubruk tubuh Nayra dan memeluknya dengan erat.
Grep.
"Eh."
Nayra cukup terkejut dengan tindakan tiba-tiba Rainer yang langsung memeluknya dengan erat. Mama Rainer yang melihat tingkah sang putra langsung memukul punggung Rainer dengan lirih.
"Heh! Apa yang kamu lakukan, Rain. Kamu bisa menekan calon cucu-cucu Mama. Lepasin Nayra!" Mama Rainer menarik-narik lengan sang putra agar segera melepaskan pelukannya pada sang istri.
Mendapati tarikan dari sang mama, mau tidak mau Rainer akhirnya menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang istri. Wajahnya langsung ditekuk saat menoleh ke arah mama.
__ADS_1
"Apaan sih, Ma? Aku cuma mau peluk istriku." Rainer langsung menggerutu kesal.
"Cckkk. Nanti saja peluknya. Sekarang biar dokter menjelaskan kondisi calon anak-anak kalian."
Mau tidak mau, Rainer akhirnya menurut. Dia bahkan belum menjawab pertanyaan Nayra tentang apakah dia bahagia dengan berita kehamilannya itu.
Setelah selesai dengan pemeriksaan, dokter segera meminta Nayra untuk kembali ke kursinya. Entah dapat wangsit dari mana, Rainer langsung bergegas membantu Nayra turun dari brankar dan memegangi lengannya hingga duduk di depan dokter.
Mama Rainer yang melihat tingkah putra semata wayangnya langsung mencubit pinggang Rainer.
"Aauuwww! Apa-apaan sih, Ma? Ngapain cubit-cubit segala." Rainer mengusap-usap pinggangnya sambil menggerutu kesal.
"Kamu pikir Nayra sakit apa pakai dipegangin seperti itu? Nayra itu hamil, Rain, bukan sakit." Mama mendelik ke arah Rainer.
Entah Rainer dapat pemikiran dari mana itu. Mama dan yang lainnya hanya bisa melongo mendengar ucapan Rainer.
Plaakkk.
Mama menggeplak paha Rainer hingga membuat si empunya meringis.
__ADS_1
"Aduuhh, Ma. Suka banget mukulin anak sendiri. Aku anak kandung atau anak pungut, sih?" Lagi-lagi Rainer menggerutu kesal.
"Anak pungut!" Mama langsung menjawab. "Lagian kamu ada-ada saja, Rain. Kamu pikir calon anak-anak kamu merasa terguncang di dalam perut Nayra hanya karena mamanya berjalan? Sembarangan saja! Justru kamu itu yang berpotensi membuat mereka terguncang di dalam perut. Makanya, sampai melahirkan nanti jangan menyentuh Nayra agar calon anak-anak kamu nggak syok karena guncangan," ucap mama dengan bersungut-sungut kesal.
Sontak saja ucapan mama membuat Rainer syok berat. Otaknya jelas langsung menolak apa yang diucapkan mamanya itu. Belum sempat Rainer protes, Nayra sudah lebih dulu menengahi perdebatan tidak berfaedah ibu dan anak tersebut.
"Sudah, Mas. Kita dengarkan dulu penjelasan dokter Ayu. Nanti dilanjutkan lagi ngobrolnya," ucap Nayra sambil melirik ke arah dokter Ayu dengan ekspresi tidak enak.
Sebenarnya, sejak tadi Nayra sudah merasa malu kepada dokter Ayu saat suami dan mama mertuanya mulai berdebat. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan mereka. Hingga akhirnya Nayra sudah tidak sabar dan menghentikan perdebatan tersebut.
Dokter Ayu hanya bisa mengulas senyumannya dengan lembut ke arah Nayra. Beliau memang sudah cukup mengetahui jika mama Rainer adalah tipe orang yang langsung ceplas ceplos jika berbicara. Jadi, dokter Ayu sudah tidak terlalu kaget.
"Tidak apa-apa mbak Nayra. Tidak ada yang perlu khawatir dengan kondisi kehamilan anda. Hanya saja, nanti tetap saya buatkan resep vitamin untuk dikonsumsi, ya." Dokter Ayu menjelaskan sambil masih mengulas senyuman ke arah mereka bertiga.
"Iya, Dok. Terima kasih." Nayra langsung menjawab.
Rainer yang mendengarkan ucapan dokter Ayu langsung nyeletuk.
"Ehm, hanya Nayra yang dikasih resep, Dok? Untuk calon papa nggak dikasih?"
__ADS_1
Mohon maaf othor lagi di fase kejar tayang akhir tahun. Semoga nggak lama-lama upnya. 🙏