
Nayra langsung mendorong wajah Rainer yang mulai mendekat ke arahnya. Tentu saja hal itu membuat Nayra kesal. Entah mengapa semakin kesini atasan yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu ternyata laki-laki yang berpikiran messoomm.
"Apa-apa, sih? Masih saja suka aneh-aneh," Nayra langsung menggerutu kesal.
Rainer langsung menatap tajam ke arah Nayra karena tidak terima. "Cckkk. Memangnya kenapa? Kita kan sudah menikah. Bukankah kamu bilang nggak mau macam-macam sebelum kita sah menikah, kan?"
"Lha ini kita kan sudah menikah. Jadi, kita sudah bisa ngapa-ngapain. Bahkan, macam-macam juga." Rainer tampak masih tidak terima.
Kini, giliran Nayra yang kesal. "Bukannya kemarin ada yang bilang nggak akan tertarik denganku dalam waktu yang lama, ya?" Nayra mencibir.
Seketika Rainer teringat ucapannya tempo hari. Ah, sial. Kenapa jadi senjata makan tuan begini? umpat Rain dalam hati. Dia benar-benar merutuki kebodohannya tersebut.
Nayra masih menatap tajam ke arah Rainer. Melihat hal itu, Rainer hanya bisa mendengus kesal. Sambil mengerucutkan bibir, Rainer langsung membuka pintu mobil.
"Ayo keluar. Aku ada meeting siang ini," ucap Rainer.
__ADS_1
Nayra hanya bisa menggerutu kesal. Mau tidak mau, dia harus menuruti keinginan suaminya tersebut. Nayra segera keluar dari mobil dan berjalan menyusul Rainer. Mereka langsung menuju lift khusus yang akan membawa mereka menuju penthouse.
Tak berapa lama kemudian, Nayra dan Rainer sudah sampai di penthouse. Setelah memasukkan kode pintu, Rainer dan Nayra segera memasuki penthous tersebut.
Langkah kaki Nayra langsung terhenti saat melihat tatanan ruang yang berubah. Keningnya berkerut melihat meja kerja Rainer beserta rak yang berisi berkas ada di dekat jendela kaca besar. Ada sebuah partisi kayu yang memanjang dengan beberapa hiasan kristal di sana.
"Ini kenapa meja kerjanya jadi di luar?" tanya Nayra sambil menoleh ke arah Rainer.
"Aku mengeluarkan semua meja kerja tersebut. Sekarang, ruangan kerja ku akan menjadi kamarmu seutuhnya." Rainer menjawab sambil berjalan mendekati Nayra.
Kening Nayra berkerut. Dia masih belum bisa mencerna ucapan Rainer. "Kita tidur terpisah? Tidak sekamar begitu?" tanya Nayra bingung.
Seketika Nayra merutuki mulutnya yang keceplosan bicara. Dengan cepat Nayra menggelengkan kepala sambil menggoyang-goyang kedua tangan.
"Ti-tidak. Bukan begitu meksudku." Nayra tampak salah tingkah.
__ADS_1
Rainer berusaha memahami maksud ucapan Nayra. "Jangan khawatir. Meski kita tidak tidur dalam satu kamar, tapi kamar kita masih tetanggaan. Kamar kita masih mepet."
Nayra hanya bisa mengangguk. Entah bagaimana wajahnya terlihat saat itu. Setelahnya, Nayra segera bergegas menuju ruang kerja Rainer yang sekarang sudah berubah menjadi kamar tidurnya. Nayra ingin segera melepas dan menghapus riasan yang masih melekat pada tubuhnya.
Beruntung Nayra masih punya baju di lemari bajunya. Setelah ini, Nayra harus mengambil semua barang-barang miliknya dari rumah kontrakan seperti yang Rainer ucapkan.
Beberapa saat kemudian, Nayra sudah selesai membersihkan diri. Dia mendengar pintu kamarnya diketuk. Suara Rainer juga sudah memanggil-manggil dari luar. Nayra bergegas membukakan pintu kamarnya.
Ceklek.
Nayra membuka pintu. Terlihat Rainer yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Sedangkan Nayra, saat itu dia baru selesai mandi dengan handuk yang masih menggulung rambut.
"Aku ke kantor dulu. Ini, ponsel kamu aku kembalikan. Ingat, jangan lagi memblokir nomorku," ucap Rainer sambil mengembalikan ponsel Nayra yang sejak kemarin disita olehnya.
Nayra hanya mencebikkan bibir. "Bukan aku yang mau. Mama Pak Rain yang…," belum sempat Nayra menyelesaikan ucapannya, Rainer sudah lebih dulu membungkam bibir Nayra dengan bibirnya.
__ADS_1
•••
Kira-kira, pertahanan siapa yang jebol duluan nih?