Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Benar Tidak Ingat?


__ADS_3

Citra mendesahkan napas berat ke udara setelah mendengar jawaban Felix. Ternyata, apa yang selama ini diduganya memang terbukti benar. 


Citra memang sudah menduga jika Finn adalah anak biologis Felix, terlepas dari bagaimana laki-laki itu menyangkalnya. Ya, Felix tidak sepenuhnya menyangkal sebenarnya. Hanya saja, Felix masih tidak mengakui sepenuhnya jika Finn adalah anak biologisnya.


"Jadi benar Finn anak biologis, Om?" Citra mengulang pertanyaannya.


"Iya. Dari hasil tes DNA itu, memang menyebutkan jika Finn adalah anak biologisku," jawab Felix sambil menatap wajah Citra lekat-lekat. Entah mengapa dia merasa was was. Felix khawatir Citra akan berubah sikapnya setelah mengetahui kebenaran ini.


Namun, setelah Felix mengamati ekspresi Citra, tidak terlihat jika Citra akan mengejeknya. Citra terlihat biasa saja. Bahkan, dia terlihat acuh meski sudah mengetahui kebenaran status Finn.


Citra hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil berbalik dan mulai memasak. Dia bahkan tidak berkomentar apapun setelahnya. Dan, tentu saja hal itu menarik perhatian Felix.


"Kok kamu diam saja? Nggak komentar apa gitu?" tanya Felix yang penasaran.


Citra menoleh ke arah Felix dengan kening berkerut.


"Komentar? Memangnya aku harus komentar apa, Om?" 


Felix menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah mengapa dia tidak suka jika Citra yang cuek dan tidak cerewet seperti ini.

__ADS_1


"Ya, apa gitu. Biasanya kamu kan paling cerewet. Masa ini setelah tahu kebenaran tentang Finn, kamu diam saja."


Lagi-lagi Citra melirik ke arah Felix sambil mencebikkan bibir.


"Memang aku mau cerewetin apa sih, Om? Mau cerewetin asal usul Finn begitu? Ada-ada saja, sih." Citra menggelengkan kepala sambil melanjutkan aktivitas memasaknya.


"Ehm, ya, nggak gitu juga, sih." Felix mendadak blank. "Kalau untuk asal usul Finn, aku sama sekali nggak ingat. Entah apa yang sebenarnya terjadi dulu. Aku benar-benar nggak ingat proses pembuatannya." Felix mendengus keras setelahnya.


Rupanya, Citra cukup tertarik dengan ucapan Felix. Dia berbalik dan menatap wajah Felix dengan ekspresi penasaran.


"Kok bisa sih nggak ingat, Om? Emang bisa 'gituan' nggak ingat apa-apa? Tapi kok bisa jadi, ya? Om yakin nggak ingat apa-apa tapi bisa menembak di tempat yang benar, ndak nggak salah lubang?" ucap Citra dengan entengnya. Sifat cerewetnya sudah mulai keluar.


Felix membolakan mulut dan kedua matanya setelah mendengar ucapan Citra.


Kali ini, Citra yang mulai gelagapan. Dia tidak menyadari jika ucapannya tersebut membuatnya bingung harus menjawab apa.


"Ya, i-itu, bukan begitu maksudnya, Om," cicit Citra.


Belum sempat Felix menyahuti ucapan Citra, ponsel yang berada di saku celana pendek Felix berbunyi. Felix buru-buru mengambil ponsel tersebut dan langsung mengangkat panggilan setelah melihat siapa yang menghubunginya sore itu.

__ADS_1


"Halo, iya. Bagaimana?"


"...."


"Benarkah? Lalu, bagaimana hasilnya?" tanya Felix dengan ekspresi berbinar bahagia.


"...."


"Baiklah. Kita akan bertemu satu jam lagi. Aku akan langsung ke sana."


"...."


"Iya. Terima kasih."


Tut.


Felix langsung menutup panggilan telepon tersebut. Setelah itu, dia tampak terburu-buru mencari nomor seseorang di ponselnya. 


Sambil menoleh ke arah Citra, Felix langsung bersuara. "Maaf, Cit. Sepertinya aku nggak bisa makan malam di rumah. Ada hal yang harus aku kerjakan sekarang. Kamu makan sendiri saja, ya. Nggak usah masak untukku." 

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Citra, Felix langsung bergegas keluar dari dapur sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Sepertinya, dia benar-benar sedang terburu-buru.


Melihat hal itu, Citra hanya bisa mendesahkan napas berat. Namun, dia tetap memutuskan untuk memasak makan malam yang sudah dibuat bumbunya tersebut.


__ADS_2