Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Sabar Dulu


__ADS_3

Hap.


Tanpa menunggu aba-aba, Rainer langsung meluumat bibir Nayra. Jangan lupakan tangan kanannya yang semakin gencar bermain di dalam baju Nayra. 


Hhmmppphhh. Hhmmppphh.


Tindakan Rainer tersebut, tentu saja langsung membuat Nayra ikut terhanyut. Otomatis, dia semakin memejamkan kedua matanya. Kedua tangan Nayra juga langsung bergerak ke atas dan mengalung dengan sempurna pada leher Rainer.


Eemmhhppphh. Eeehhmmppphhhh.


Suara perpaduan bibir Nayra dan Rainer langsung menggema. Mereka benar-benar melupakan makan malamnya yang seharusnya mereka lakukan. Bahkan kini, kedua tangan Rainer sudah bergerak pada punggung Nayra dan mencari pengait 'kacamata' yang ada di sana. 


Klik. Rainer berhasil melepas pengait tersebut. Kini, saat bibir Nayra dan Rainer masih beradu, kedua tangan Rainer langsung bergerak ke depan. Dan, seperti dugaan reader semua, kedua tangan Rainer langsung mengolah bakpao jumbo yang ditemukannya.


Meg meg uyel uyel. Meg meg uyel uyel.


Merasa mendapatkan serangan dari kedua tangan Rainer, seketika Nayra langsung menjauhkan wajahnya. Dia langsung mendongak dengan mata terpejam dan bibir terbuka. Jangan lupakan kedua tangannya yang sudah mereemas rambut bagian belakang Rainer.

__ADS_1


"Aaauhhhhh, Ma-maassshhhhh."


Bukannya menghindar, tubuh Nayra seolah memberikan izin. Dadaanya otomatis langsung membusung. Dan, Rainer tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Secepat kilat dia menundukkan wajahnya pada ceruk leher Nayra. Dan, dengan bibirnya, Rainer menyusuri leher istrinya tersebut sambil sesekali meninggalkan jejak di sana.


"Aahhh, Massshhh." Nayra hanya bisa merem melek sambil menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan.


Sialnya, bagian bawah tubuhnya sudah mulai kedutan. Dan, hal itu membuat tubuhnya bergerak-gerak gelisah. Karena hal itu pula, Nayra menjadi bisa merasakan sesuatu yang mengeras dan mengganjal di bawah tubuhnya. 


Seketika kedua tangan Nayra langsung mendorong bahu Rainer. Tatapan sayu keduanya saling mengunci dengan napas yang memburu.


Rainer hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Dia memejamkan kedua matanya untuk menurunkan cairan tubuhnya yang sudah mulai menanjak. 🙄


Nayra bisa mengetahui dengan jelas hal itu dari ekspresi Rainer dan dari apa yang baru saja dirasakan di bagian bawah tubuhnya. Nayra berniat turun dari pangkuan Rainer, agar tidak membuat suaminya tersebut semakin menderita. Namun, kedua tangan Rainer langsung menghentikan gerakan Nayra.


"Eh?" Nayra mengurungkan niatnya dan langsung menatap ke arah Rainer.


"Mau kemana?" tanya Rainer dengan suara tertahan.

__ADS_1


Nayra berusaha mengatur napas dan degup jantungnya yang masih berdebar tidak karuan.


"Aku mau turun dulu, Mas. Jika kita masih seperti ini, bukan tidak mungkin kita bisa lepas kendali lagi," jawab Nayra sambil mengulas senyuman.


"Tapi kita sudah menikah. Wajar jika kita melakukannya, kan?"


Nayra memberanikan diri mengusap-usap bahu Rainer sambil tersenyum.


"Memang wajar. Tapi, setelah dipikir-pikir benar apa yang disampaikan oleh mama. Kita hanya harus menunggu selama beberapa hari, untuk mendapatkan momen yang bagus setelahnya. Dan, momen itu pasti akan menjadi kenangan kita seumur hidup nanti, Mas. Jadi, kita bisa memulainya dengan pelan-pelan tanpa harus terburu-buru, kan?" Nayra mengulas senyumannya sambil mengusap pipi Rainer.


Mendengar hal itu, Rainer hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Dia harus berusaha menekan keinginannya lebih keras lagi. 


Sabar, sabar. Hanya tinggal beberapa hari lagi. Setelah itu, kita akan lepas landas, batin Rainer.


Setelah itu, keduanya segera merapikan penampilan. Rainer juga sempat pergi ke kamar mandi untuk membereskan sesuatu. Malam itu, acara cicil mencicilnya harus puas untuk di tunda.


Sabar.

__ADS_1


__ADS_2