Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Apa Kamu Bahagia?


__ADS_3

Nayra langsung bengong setelah mendengar ucapan Rainer. Mendadak otaknya langsung tertuju pakaian yang dipakainya malam itu. Semuanya lengkap dan pas seperti ukuran tubuhnya. Atau jangan-jangan, Rainer juga yang memesannya?


Seketika Nayra langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tatapan matanya langsung menghunus tajam ke arah Rainer.


"A-apa Pak Rain juga yang memesan baju ini untukku?" tanya Nayra was-was.


Rainer menoleh sekilas ke arah Nayra sekilas. Dia mengernyitkan kening saat melihat Nayra bersikap aneh seperti itu.


"Kenapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Nayra, Rainer justru balik bertanya.


"Cckkk. Saya hanya ingin tahu, Pak. Apa Pak Rain yang membelikan semua baju yang saya pakai ini? Kenapa semua terasa pas?" 


Rainer mencebikkan bibir. "Hhmmm."


Tentu saja jawaban Rainer tersebut membuat Nayra semakin kesal. Bisa-bisanya atasannya tersebut hanya menjawab ham hem ham hem seperti itu.


"Ckkk. Lain kali, Pak Rain tidak perlu repot-repot menyiapkan baju untuk saya. Saya bisa melakukannya sendiri," ucap Nayra dengan kesal.


Kening Rainer berkerut saat menatap wajah Nayra. "Memangnya kenapa?"


"Masih tanya kenapa? Tentu saja saya malu, Pak."


"Kenapa harus malu? Besok kita kan akan menikah. Jadi, sudah seharusnya kamu mulai membiasakan diri dengan hal itu."

__ADS_1


Nayra hendak protes, namun segera dihentikan oleh Rainer. Dia mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan ucapan Nayra.


"Sudah, aku sudah lapar. Jangan ngomong lagi," ucap Rainer.


Meski kesal, Nayra hanya bisa pasrah sambil mengerucutkan bibir. Setelah itu, acara makan malam romantis yang tidak ada romantis-romantisnya tersebut kembali berlanjut. Nayra dan Rainer makan malam dengan lahap tanpa ada obrolan apapun.


Hingga makan malam keduanya selesai, Rainer dan Nayra benar-benar tidak mengobrol. Bahkan, hanya untuk mengomentari rasa makanan yang disantap pun tidak mereka lakukan. 


Hhh, makan malam romantis modelan apa ini? 🤧


Setelah semua selesai, Rainer meminta beberapa orang untuk membereskan makan malam yang baru saja dilakukannya. Sementara itu, Rainer dan Nayra menunggu di balkon apartemen yang menghadap ke arah ramainya kota Jakarta.


Nayra berdiri sambil berpegangan pada pagar pembatas. Hal yang sama juga dilakukan oleh Rainer yang berdiri di sampingnya.


Nayra menoleh ke arah Rainer yang sedang berdiri di samping kanannya.


"Maksud Pak Rain?"


"Besok kita akan menikah. Apa kamu bahagia?"


Nayra masih menatap atasannya tersebut. Kalau boleh jujur, Nayra sendiri juga tidak tahu apa yang sedang dirasakannya. Apakah dia bahagia? Entahlah. Dia hanya merasa sedikit berbeda. Sedikit, gugup.


"Entahlah, Pak. Saya tidak bisa menjelaskan apa yang saya rasakan."

__ADS_1


Rainer memutar tubuhnya hingga kini menghadap ke arah Nayra.


"Mungkin sekarang kamu belum bisa merasakannya. Tapi nanti, aku bisa memastikan kamu akan selalu bersyukur karena bisa menikah denganku." 


Nayra mengerutkan kening bingung. Belum sempat dia bertanya, Rainer sudah lebih dulu mencegahnya.


"Sudah cukup malam. Istirahatlah. Besok pagi, akan datang seseorang yang akan merias kamu pagi-pagi sekali."


"Eh, memang acaranya jam berapa, Pak?" Nayra bahkan tidak mengetahui waktu ijab kabulnya.


"Sekitar jam sembilan."


"Hhahh? Sepagi itu?" Nayra cukup terkejut.


"Biar cepat selesai," jawab Rainer sambil mengedikkan bahu.


Setelah itu, Rainer benar-benar meminta Nayra untuk beristirahat. Mau tidak mau, Nayra mengikuti perintah Rainer. Begitu Nayra pergi ke kamar, Rainer segera menghubungi seseorang untuk menanyakan kelengkapan persyaratan yang dibutuhkan. Dan, setelah memastikan semuanya lengkap, Rainer beranjak untuk beristirahat.


•••


Siapkan isi amplopnya lho ya, buat angpao si Hujan.


Sambil nunggu up, bisa mampir di cerita othor yang baru, ya. Judulnya 'The Unexpected Partner'

__ADS_1


__ADS_2