
Pagi itu, Nayra tampak segar bugar setelah bangun tidur. Meski semalam, seperti biasa dia dan Rainer adu gulat dengan saling berbagi keringat. Entah mengapa menurut Nayra, semalam terasa berbeda saat berbagi peluh di atas ring empuk dengan suaminya tersebut.
Setelah membangunkan Rainer, Nayra langsung berkutat di dapur. Pagi ini, dia ingin membuat sandwich. Beruntung selama ini Rainer tidak pernah komplain dengan segala masakan yang disajikan oleh Nayra. Bahkan, lidah Rainer sudah cukup terbiasa dengan cita rasa masakan buatan sekretarisnya tersebut.
"Hari ini yakin nggak ke kantor dulu, Mas?" tanya Nayra saat memulai sarapan mereka.
Rainer menyuapkan potongan sandwich ke dalam mulutnya sebelum menggelengkan kepala. Dia mengunyah suapanya dulu sebelum menjawab pertanyaan Nayra.
"Kamu bilang jadwalku longgar hari ini? Aku mau menemui Felix dulu. Dia sulit sekali dihubungi," jawab Rainer.
Nayra hanya bisa menganggukkan kepala.
"Longgar sih, Mas. Tapi tetap ada dokumen yang harus kamu periksa."
"Simpan saja dulu. Setelah makan siang, aku balik ke kantor."
Nayra segera mengangguk. Rainer memang sudah biasa melakukan hal itu.
"Memangnya pak Felix kemana, Mas? Kamu suruh ke Jogja?" tanya Nayra.
__ADS_1
Rainer menggelengkan kepala.
"Enggak. Justru itu aku hendak memintanya kesana untuk memeriksa proses pengerjaan proyek. Tapi, sejak kemarin dia tidak bisa dihubungi."
Nayra juga merasa heran. Tidak biasanya Felix menghilang seperti ini. Setelah obrolan singkat tersebut, Nayra dan Rainer bergegas berangkat. Mereka akan pergi dengan tujuan yang berbeda.
Sementara itu di apartemen, Felix tengah bersiap-siap. Wajahnya tak berhenti mengulas senyuman saat melihat Finn mandi sambil bermain-main dengan Citra. Citra? Ya, semalam Citra menyetujui untuk menjadi pengasuh Finn. Dia mengurungkan niat untuk menerima tawaran pekerjaan menjaga villa di Lembang.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Citra, semalam Felix langsung membuat surat kontrak kerja. Dia juga menjelaskan apa yang akan diperoleh Citra selama menjadi pengasuh Finn. Tidak hanya itu, Citra juga membuat beberapa persyaratan yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh Felix. Dan, karena dirasa masih wajar, Felix pun menyetujui persyaratan Citra.
Oleh karena itu, pagi ini Citra sudah resmi pindah ke tempat Felix karena dalam perjanjian kontrak kerja Felix ingin Citra tinggal bersama dengannya agar lebih mudah menjaga Finn. Felix juga tidak mungkin bolak balik mengantarkan Finn jika Citra ingin menyusui bayi laki-laki tersebut.
Citra menoleh dan menganggukkan kepala.
"Iya, Om. Nanti aku akan mengirimkan foto kegiatan Finn."
Felix langsung mengangguk. Itu adalah salah satu syarat yang diajukan oleh Felix. Entah mengapa meskipun hasil tes DNA belum keluar, Felix merasa jika Finn adalah darah dagingnya. Kini, dia harus segera memulai mencari siapa ibu Finn sebenarnya.
Felix menyempatkan diri menghampiri Finn yang tengah mandi tersebut. Sebuah senyum lebar langsung diperlihatkan oleh Finn saat Felix mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Uuhhh, anak papa lagi mandi, ya. Senengnya mainan air. Sini, cium sedikit," ucap Felix sambil mendekatkan wajahnya.
Cup.
Sebuah kecupan langsung mendarat pada pipi kiri Finn yang kini semakin terlihat gembul saja. Tawa bayi laki-laki tersebut terlihat keras seperti tengah bahagia mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Felix.
Ketika hendak berbalik, Felix sempat menoleh ke arah Citra. Dengan senyuman jahilnya, Felix mendekatkan wajahnya pada wajah Citra.
"Mamanya Finn mau juga nggak?"
Seketika Citra langsung cengo mendapati wajah Felix yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya.
"Eh, ma-mau apa?"
"Ciumm muuaahh muuaahh," jawab Felix sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
Byuurrr.
Haduuhh suara apa itu?
__ADS_1
Mumpung ada jatah vote, sisakan satu buat cerita ini ya, 🤗