
Nayra langsung memekik tertahan. Kedua tangannya menutup mulut dengan kedua bola matanya langsung membulat. Nayra benar-benar terkejut dengan kejutan yang diberikan oleh Rainer.
Bagaimana tidak. Begitu pintu apartemen terbuka, Nayra langsung disuguhkan sebuah dekorasi indah yang penuh dengan bunga mawar merah. Tentu saja Rainer tahu jika Nayra sangat menyukai bunga mawar merah dan mawar putih.
Tak tanggung-tanggung, bunga-bunga tersebut bahkan menghiasi hampir di setiap penjuru ruang tamu, ruang tengah, bahkan ruang makan apartemen tersebut.
Nayra yang masih diam di tempatnya, terasa tak mampu menggerakkan kaki. Jangankan menggerakkan kaki, bernapas pun terasa berat saking terkejutnya.
Dari dekat pintu masuk hingga ruang tamu, banyak dihiasi buket bunga dengan ukuran fantastis. Balon-balon beraneka ukuran juga turut menghiasi langit-langit ruangan tersebut.
Nayra masih diam tak bergerak sambil mengedarkan pandangan ke bagian atas ruangan yang dipenuhi oleh balon tersebut. Bagian bawah balon, ada tali yang menjuntai ke bawah.
__ADS_1
Rainer yang melihat Nayra masih diam tidak bergerak, langsung menyentuh punggungnya dengan lembut sambil sedikit mendorongnya.
"Masuklah," ucap Rainer.
Nayra sempat menoleh ke arah Rainer. Namun, entah mengapa dia sulit sekali mengeluarkan suara. Nayra hanya mengangguk dan melangkahkan kaki pelan-pelan ke arah ruang tengah. Dia menuruti saat Rainer masih mendorongnya hingga mendekati sofa yang berada di ruang tamu.
Nayra menoleh ke arah sofa. Lagi-lagi, kedua bola matanya membulat karena terkejut. Di sofa, ada sebuah buket bunga mawar putih yang juga berukuran fantastis. Di atas meja ruang tamu, juga terdapat bunga dengan bentuk seperti panda. Ada beberapa lilin juga yang menghiasi sekitarnya.
Belum cukup rasa terkejut Nayra, saat berbalik, dia melihat sebuah tulisan di dekat jendela. Tulisan yang cukup besar dengan lampu dan bunga-bunga di sekitar nya. Nayra bahkan langsung terdiam. Dia seolah tersedak salivanya sendiri saking terkejutnya.
"Aku bukan seorang pujangga, yang pandai merangkai kata-kata mutiara. Aku juga bukan orang romantis yang pandai membuat puisi yang puitis. Aku bahkan belum pernah mengenal kata cinta. Entah, bagaimana rasanya aku juga tidak tahu."
__ADS_1
"Selain itu, kata orang, jatuh cinta itu terkadang menyakitkan. Tapi jika itu denganmu, mungkin aku akan rela merasakan jatuh berkali-kali." Rainer sempat terkekeh geli.
Bahkan, tubuh Nayra langsung menegang saat merasakan hembusan napas Rainer di dekat telinga kirinya. Dekat, bahkan sangat dekat. Entah halusinasinya atau memang pucuk hidung Rainer menyentuh bahunya. Ya, Nayra memang memakai dress dengan bahu agak sedikit terbuka.
"Aku tahu diantara kita belum ada rasa apa-apa. Entah kamu sudah pernah jatuh cinta atau belum. Namun, maukah kamu berusaha untuk sama-sama jatuh, sejatuh-jatuhnya bersamaku? Belajar saling memberi dan menerima, saling terbuka, dan saling bahu membahu membangun pondasi rumah tangga bersamaku?" tanya Rainer.
Entah dapat dari mana, Rainer langsung meraih jari tangan Nayra dan memasangkan sebuah cincin berlian di jari manis tersebut.
Yaelah, Rain. Diterima saja belum main pasang cincin. Memang ada lamaran modelan begini? 🤧
Belum cukup rasa keterkejutan Nayra, tiba-tiba dua buah tangan Rainer langsung melingkar dengan sempurna pada perut Nayra. Sambil menatap ke arah jendela yang terdapat sebuah tulisan yang cukup besar, Rainer berbisik pada telinga Nayra.
__ADS_1
"Will you marry me?"
Hayo semuanya, dijawab apa?