Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Merepotkan


__ADS_3

Nayra dan Rainer masih menyusuri Malioboro malam itu. Udara dingin, sudah mulai terasa menyusup ke pori-pori kulit. Rainer menoleh ke arah Nayra yang sudah mulai mengusap-usap lengannya. Maklum, malam itu Nayra menggunakan dress sepanjang lutut dan lengan bajunya juga cukup pendek.


Rainer hanya bisa mendesahkan napas berat sambil melepas jaketnya. Kebetulan sekali malam itu Rainer memakai jaket. Sebenarnya, Rainer adalah orang yang tidak terlalu tahan dengan dingin. Namun, melihat Nayra yang kedinginan, Rainer menjadi tidak tega.


Nayra langsung menoleh saat Rainer tiba-tiba menyampirkan jaketnya pada bahu Nayra.


"Eh, Pak? Apa ini?" Nayra menatap jaket Rainer yang sudah tersampir di bahunya.


"Jaket. Nggak bisa lihat?"


"Iya, saya tahu ini jaket. Tapi kenapa Anda memberikan jaket ini kepada saya?"


"Baju kamu pendek sekali. Aku nggak mau kamu sakit karena kedinginan dan merepotkanku nanti."


"Cckkk. Mana ada yang seperti itu, Pak. Yang ada juga Bapak bisa terkena flu dan sakit gara-gara kedinginan." Nayra masih mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak ngomong. Pakai saja."


Mau tidak mau, Nayra terpaksa memakai jaket Rainer. Dia juga sudah merasa sangat dingin.


Malam semakin larut. Kini, Rainer dan Nayra memutuskan untuk segera kembali ke hotel. Mereka ingin segera beristirahat.


Tak butuh waktu lama, Nayra dan Rainer sudah kembali ke hotel dengan menaiki taksi online. Mereka bergegas membersihkan diri dan ingin segera beristirahat.


"Pak, terima kasih jaketnya," ucap Nayra saat keduanya sudah berada di depan pintu kamar masing-masing. Nayra segera memberikan jaket Rainer sebelum masuk ke dalam kamar.


"Hhhmm."


Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju tidur, Nayra langsung beranjak menuju tempat tidur. Tubuhnya terasa lelah sekali. Bahu dan punggungnya juga terasa pegal.


"Pijat di spa sepertinya enak nih," gumam Nayra sambil merenggangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, Nayra segera menarik selimut dan mulai untuk memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, Nayra sudah masuk ke alam mimpi. Dia bahkan bisa langsung tertidur dengan nyenyak dalam beberapa menit saking lelahnya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, tidur Nayra terusik. Nayra yang tidur miring menghadap ke arah jendela kamar, merasakan sesuatu di balik punggungnya. Tubuhnya juga bergetar dan sebuah suara gemetaran mengisi pendengaran Kiara.


Dengan sangat malas, Nayra terpaksa membuka kedua matanya. Dia benar-benar bisa merasakan tubuhnya bergetar dan selimutnya semakin sempit.


Setelah nyawanya terkumpul, Nayra menjadi semakin ada seseorang yang tengah tertidur di belakangnya. Dan, orang tersebut tengah menggigil kedinginan. Jantung Nayra mendadak berdegup kencang. Pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran di kepalanya.


Nayra membalik menggeser tubuhnya pelan-pelan dan berbalik. Setelah beberapa saat, Nayra merasa sedikit lega saat mengetahui siapa orang yang berada di tempat tidurnya tersebut.


"Pak Rain?! Mengapa Anda ada di kamar saya? Apa yang Anda lakukan disini?" Suara Nayra sedikit lebih keras hingga berhasil membangunkan Rainer.


Rainer membuka kedua matanya dengan berat. Bibirnya bergetar dengan tangan menggenggam selimut erat-erat. Tak berapa lama kemudian, Rainer langsung bersin-bersin dengan hebat. Ya, Rainer langsung terserang demam karena terkena udara malam yang cukup lama. Dia alergi udara dingin.


\=\=\=

__ADS_1


Kalau sudah seperti ini, jadinya siapa yang merepotkan siapa sih? 🤧


Scroll ya, jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak buat Nayra si pawang hujan 🤭


__ADS_2