Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Linda Putus


__ADS_3

"Resta?!"


Rainer langsung melepaskan dekapannya pada tubuh Nayra. Dia berbalik dan mendapati Resta yang menatap ke arahnya dengan ekspresi horor. 


"Ngapain kamu disini?" tanya Rainer. Jangan lupakan tatapan matanya yang langsung menghunus tajam ke arah Resta.


Mendapati tatapan mematikan dari sang atasan, tentu saja Resta langsung gelagapan. Dia terlihat bingung harus menjawab apa. Nayra yang melihat hal itu, langsung menengahi.


"Kami tadi merekap semua hasil meeting tadi, Mas. Ada juga beberapa hal yang harus aku rembukin bareng Resta," ucap Nayra sambil berusaha menenangkan Rainer. Kali ini, Nayra bahkan memanggil Rainer dengan panggilan 'mas' karena tahu Rainer sedang emosi.


"I-iya, Pak. Kami memang sedang merekap beberapa hasil meeting." Resta masih ketakutan.


Rainer menoleh ke arah Nayra dan Resta bergantian. Ekspresi kesalnya pun masih terlihat walaupun sudah mendengar alasan mengapa mereka berada di ruangannya.


"Ya sudah. Kamu selesaikan sendiri di ruangan kamu," ucap Rainer pada akhirnya.


Resta yang mendapati perintah tersebut, buru-buru mengambil barang-barang miliknya. Dia langsung berpamitan dan ngibrit pergi dari ruangan Rainer. Nayra yang melihat hal itu, menjadi kasihan kepada Resta.

__ADS_1


"Mas, lain kali jangan begitu, ih. Kasihan Resta. Dia sudah banyak membantu kamu. Jangan galak-galak jadi orang." Nayra berusaha menasehati Rainer.


"Cckkk. Dia ganggu aktivitas kita, Nay." Rainer menatap Nayra dengan ekspresi tidak terima.


"Bukan Resta yang mengganggu, Mas. Kamunya saja yang nggak tahu dltempat. Mana ada orang langsung sosor begitu saja. Nggak ingat ini masih di kantor? Masih beruntung hanya Resta yang melihat, bagaimana jika ada tamu yang kebetulan menunggu kamu. Bisa jatuh harga diri kamu, Mas." Nayra ngomel panjang kali lebar.


Rainer mendesahkan napas berat. Entah mengapa dia merasa semakin lama Nayra semakin cerewet. Dan anehnya, Rainer sama sekali tidak bisa protes atau bahkan membalas ucapan Nayra tersebut.


Karena aktivitasnya sudah nanggung, Rainer terpaksa melanjutkan pekerjaannya hingga jam pulang kantor. Hingga menjelang pukul lima sore, Rainer sudah geger mengajak Nayra pulang. Mau tidak mau, Nayra segera membereskan pekerjaannya. 


Ketika Nayra dan Rainer hendak memasuki lift, terdengar sebuah suara memanggil Nayra. Seketika kedua orang tersebut menoleh ke arah sumber suara.


"Iya. Tapi, masih nunggu jemputan," jawab Linda sambil menganggukkan kepala ke arah Rainer untuk menyapanya.


"Di jemput Kak Haris?" tanya Nayra. Setahu Nayra, kekasih sahabatnya tersebut adalah Haris.


Linda menolehkan kepala sambil mencebikkan bibir ke arah Nayra.

__ADS_1


"Bukan. Aku sudah putus sama dia," jawab Linda ketus.


Mendengar jawaban Linda, tentu saja hal itu membuat Nayra terkejut 


"Eh, putus? Kalian beneran putus? Kok bisa?" Nayra langsung heboh sambil menggoyang-goyangkan lengan Linda.


Belum sempat Linda menjawab, pintu lift sudah terbuka. Ketiganya langsung masuk ke dalam lift tersebut. Nayra masih menunggu jawaban Linda.


"Ya, bisa aja sih. Namanya juga mungkin belum jodoh kali," jawab Linda yang terlihat cukup santai.


"Kok mendadak sih, Lind? Memang ada apa? Cerita sama aku. Ehm, atau kita pergi ke suatu tempat sekarang, deh. Kamu bisa cerita apa saja nanti," usul Nayra.


Linda yang mendengar usulan Nayra, langsung menoleh ke arah Rainer. Bukan Linda tidak menyukai usulan sahabatnya tersebut, namun Linda tidak mau membuat singa mengamuk.


Dan, benar saja. Belum sempat Linda menyahuti ucapan Nayra, Rainer sudah lebih dulu bersuara.


"Enak saja mau ninggalin tugas kamu. Selesaikan dulu tugasmu baru urus yang lainnya. Nggak tahu apa dari tadi sudah pilek begini," ucap Rainer dengan ekspresi kesal.

__ADS_1


Yah, kalau pilek di kasih apa reader?


__ADS_2