
Rainer menggelengkan kepala setelah mendengar ucapan Dewa.
"Tidak usah. Dia bisa memilih makanan yang diinginkannya sendiri," jawab Rainer sambil melanjutkan langkah kakinya.
Dewa hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Rainer. Mereka akan menuju sebuah ruangan yang bagian samping dibatasi oleh dinding kaca yang cukup lebar. Ruangan tersebut memang biasa di sewa untuk mengadakan meeting.
Rainer mengambil kursi yang menghadap ke arah selatan. Entah mengapa dia mengambil kursi tersebut. Dari tempatnya, Rainer bisa melihat Nayra sedang memesan makanan. Terlihat Nayra sangat antusias memilih beberapa makanan dari daftar menu yang disodorkan oleh pegawai restoran.
Meeting siang itu segera dimulai. Rainer sudah mulai mendengarkan beberapa laporan yang diberikan oleh bawahannya. Ada empat orang yang melaporkan hasil kinerja mereka selama satu bulan ini. Rainer tampak memeriksa laporan dan mencocokkan dengan apa yang disampaikan.
Sesekali Rainer bertanya tentang ini itu dan bisa dijawab dengan mudah oleh para bawahannya. Mereka memang bekerja dengan serius dan bisa dipertanggungjawabkan.
Selama ini, Rainer memang tidak mengawasi langsung kinerja mereka. Tapi, Rainer selalu menerima laporan dari mereka setiap hari. Ya, setiap hari semua pihak yang bertanggung jawab harus melaporkan pekerjaan serta target-target yang sudah mereka capai.
Setiap pukul lima sore sampai pukul delapan malam, Rainer selalu menerima kiriman laporan dari para bawahannya melalui email. Dan, hal itu biasanya akan langsung dievaluasi oleh Rainer malam itu juga, atau esok hari.
Sesekali, Rainer menoleh ke arah Nayra yang baru saja menerima pesanan makan siangnya. Dia tampak bahagia menyantap es krim yang baru saja datang. Ternyata, Nayra sempat memesan es krim durian.
__ADS_1
Ketika sedang asyik menyantap es krim, tiba-tiba ponsel Nayra berbunyi. Nayra mengalihkan pandangannya pada layar ponsel tersebut. Terlihat nama mama Rainer tertera di sana. Nayra buru-buru mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Nyonya. Selamat siang." Nayra langsung menegakkan tubuh sambil mengucapkan salam.
"Selamat siang, Nay. Bagaimana kabarmu?"
"Saya baik, Nyonya. Nyonya apa kabar?" Nayra balik bertanya.
"Aku baik, Nay. Semuanya baik-baik saja, kan?"
"Eh, semuanya bagaimana maksudnya, Nyonya?" Nayra mendadak bingung.
Nayra cukup terkejut mendengar ucapan mama Rainer. Astaga, jadi sejak kecelakaan waktu itu, Pak Rain belum juga menghubungi orang tuanya? Cckkk, benar-benar kelewatan. Mentang-mentang orang tuanya di luar negeri jadi seenaknya, gerutu Nayra dalam hati.
Karena tidak mendapat jawaban, mama Rainer kembali bertanya.
"Nay, kamu masih disana?"
__ADS_1
Nayra yang terkejut langsung menjawab pertanyaan mama Rainer.
"Eh, iya, Nyonya. Saya masih disini. Pak Rain baik-baik saja, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir. Saat ini, Pak Rain sedang ada di Jogja." Nayra berusaha menjelaskan.
"Eh, di Jogja? Sama kamu juga?"
"Ehm, iya, Nyonya. Saya juga tidak tahu mengapa Pak Rain mengajak saya." Nayra mendesahkan napas berat.
Terdengar suara kekean dari seberang sana. "Mungkin itu karena Rain merasa dia tidak bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan kamu, Nay." Mama Rain langsung tergelak.
"Tapi saya tidak mengerti urusan pekerjaan Pak Rain, Nyonya."
"Hehehe, belajarlah sedikit-sedikit. Siapa tahu kamu nanti akan ditarik Rainer ke perusahaan pribadinya." Lagi-lagi terdengar suara kekean tawa dari mama Rainer.
Nayra hanya bisa melongo saat mendengar ucapan mama Rainer. Setelah itu, obrolan kembali dilakukan.
\=\=\=
__ADS_1
Masih sepi nih. Mohon bantuan untuk promote cerita ini ya. Promosikan ke sanak keluarga, saudara, teman, sahabat, bahkan gebetan juga boleh. Ya, itung-itung buat bahan obrolan 🤭