Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Buka-Bukaan


__ADS_3

"Kamu benar, Nay. Maafkan Mama yang tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Linda. Kalian sudah sama-sama dewasa. Kalian bukan anak kecil lagi yang membutuhkan waktu untuk bermanis-manis ria."


"Memang sudah waktunya kalian melakukan hal itu. Toh, kalian kan juga sudah halal. Maafkan Mama yang tidak berpikir sampai sejauh itu, Nay," ucap mama Rainer.


Mama Rainer langsung menyadari tindakannya setelah beberapa saat yang lalu Nayra menceritakan tentang telepon Linda. Tak lupa juga, Nayra menjelaskan kekhawatirannya dan juga tingkah Rainer setelah mereka resmi menikah.


Dan, beruntung bagi Nayra sang mama mertua mengertikan hal itu. Mama mertuanya justru meminta maaf kepada Nayra karena telah mengusulkan tindakan itu.


Kalau boleh jujur, Nayra sebenarnya sangat malu mengatakan hal ini kepada mama mertuanya. Dia tidak mau jika mertuanya itu berpikiran dia terlalu agresif. Namun, Nayra juga tidak mau jika sampai Rainer 'jajan' di luar karena rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun.


Oleh karena itu, malu tidak malu, Nayra memberanikan diri menceritakan kegelisahannya kepada sang mama mertua. Beruntung mertua Nayra tersebut sangat pengertian. 


"Tidak kok, Ma. Sebenarnya, aku juga sempat berpikir seperti Mama. Ehm, tapi setelah kejadian tadi pagi dan mendengar ucapan Linda, entah mengapa aku menjadi bimbang. A-aku hanya khawatir jika Mas Rain, ehm, i-itu…," Nayra tampak tidak enak melanjutkan ucapannya.


"Iya, Nay. Mama mengerti. Mama juga tidak mau jika Rainer sampai 'jajan' di luar. Memang sudah seharusnya kamu memberikan 'treatment' khusus untuk Rainer. Kalau perlu, Mama akan membantu kamu mempersiapkan semuanya." 

__ADS_1


"Masih ada waktu sekitar lima hari, kan. Sebaiknya, kamu dan Rainer menitipkan pekerjaan kepada asisten Rainer saja. Kalian 'anggrem' saja di hotel sampai acara resepsi pernikahan kalian akhir minggu ini," ucap mama Rainer penuh semangat. Entah mengapa dia menjadi semakin bersemangat setelah menyadari kesalahannya.


Mendengar ucapan mama Rainer, sontak saja pikiran Nayra langsung membayangkan apa yang akan terjadi terhadap dirinya jika memang dirinya dan Rainer harus tinggal selama itu di hotel.


Astaga, bisa-bisa aku akan masuk IGD dan tidak akan melaksanakan acara resepsi jika sampai itu terjadi, batin Nayra. 


Bukannya lebay, tapi jika dilihat dari gelagat Rainer, sepertinya dia tidak akan puas jika hanya mengerjai Nayra satu, dua kali. Mungkin, bisa seperti orang minum obat tiga kali sehari. Dan, tentu saja hal itu bisa membuat Nayra bergidik.


"Ehm, ti-tidak perlu, Ma. A-aku sudah menyiapkan semuanya," jawab Nayra. Entah mengapa pipinya mendadak terasa panas. Dan, Nayra yakin jika saat ini wajahnya sudah merona saat membayangkan apa yang akan dilakukannya nanti.


"Iya, Ma."


Terdengar helaan napas lega dari seberang sana. "Mama bahagia, Nay. Mama bahagia kamu memikirkan kebahagiaan Rainer. Tidak salah memang Rainer memilih kamu sebagai istri. Selain bisa diandalkan dalam pekerjaan, kamu juga bisa diandalkan dalam rumah tangga."


"Mama hanya bisa berharap, rumah tangga kalian akan terus langgeng dan bahagia. Tetap jaga komunikasi kalian. Jangan ada yang disembunyikan. Jika ada yang tidak kamu sukai, segera diskusikan dengan Rainer. Jangan sampai hal itu membuat bibit-bibit masalah dikemudian hari," ucap mama Rainer panjang lebar.

__ADS_1


"Iya, Ma. Kami memang sudah sepakat untuk saling terbuka."


Belum sempat Nayra mendengar jawaban dari sang mertua, tiba-tiba ada sebuah suara terdengar dari belakang Nayra.


"Saling terbuka apanya? Kamu mau buka-bukaan sekarang?"


"Eh?"


•••


Habis gini, persiapan ya.


Othor ngetik banyak sekalian, biar nanti nggak ada yang komen nanggung-nanggung lagi. 


Nanti di up jika sudah banyak yang tinggalkan jejak like, komen dan vote.

__ADS_1


Ciiaaauuuww 😊😊


__ADS_2