
"Eh?"
Nayra langsung terkejut saat Rainer tiba-tiba menarik tubuhnya semakin menempel. Dia bahkan sedikit meeremas bagian bawah pinggang Nayra hingga membuat darah Nayra berdesir Hebat.
Belum selesai keterkejutan Nayra, Rainer tiba-tiba langsung mendaratkan sebuah kecupan pada bibirnya. Awalnya, hanya sebuah kecupan biasa. Namun, lama kelamaan kecupan tersebut berubah menjadi sebuah llumatan.
Nayra yang awalnya kaget, kini justru memejamkan mata. Refleks kedua tangannya mengalung dengan sempurna pada leher sang suami dan menyusupkan jari-jari tangannya pada bagian belakang rambut Rainer.
"Eehhhmmmmpphhhh. Ehhhmmmppphhh."
Suara pertemuan benda kenyal tersebut langsung terdengar. Saat itu, posisi Rainer dan Nayra masih berdiri di dekat pintu kamar. Jadi, mereka berdiri langsung menghadap ke arah pintu utama.
Dan, ketika Nayra dan Rainer sedang menghayati aktivitas mereka, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah pintu.
"Permisi."
Sontak saja Nayra dan Rainer langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka menoleh ke arah pintu utama. Beruntung pintu tersebut masih tertutup sebagian. Jadi, aktivitas mereka tidak terlihat dari luar.
__ADS_1
Eh, benarkah? Atau jangan-jangan, sebenarnya pintu tadi sedang terbuka lebar, namun langsung di tutup oleh si tamu saat tuan rumahnya sedang adu mulut? Entah lah. Nayra tidak mau memikirkan hal itu.
Rainer segera berjalan mendekati pintu utama. Terlihat Pak Budi, sopir pribadi keluarganya, sudah berdiri di depan pintu rumah kontrakan Nayra.
"Tolong bawa barang-barang Nayra ke mobil, Pak," ucap Rainer.
"Baik, Tuan."
Pak Budi langsung bergegas membawa barang-barang Nayra. Siang itu, Nayra dan Rainer benar-benar pindah ke penthouse Rainer. Meskipun beberapa barang milik Nayra, masih ada di rumah kontrakan. Dia belum bisa membawa semuanya ke penthouse Rainer.
Pak Budi membawa mobil yang cukup besar. Jadi, semua barang-barang Nayra bisa masuk ke bagian belakang mobil. Rainer dan Nayra juga ikut pulang bersama dengan mobil tersebut. Rainer yang tidak membawa mobil saat datang ke rumah Nayra, sudah meminta bantuan orang-orangnya untuk mengambil mobil yang ada di bandara.
Saat ini, tidak ada lagi istilah kamar Rainer dan Nayra tetanggaan. Mama Rainer sudah memberikan ultimatum sejak mengetahui mereka menikah.
Nayra membereskan barang-barangnya hingga menjelang sore. Sementara Rainer, masih sibuk memeriksa pekerjaannya yang dari Singapura kemarin. Sebenarnya, pekerjaan Rainer belum sepenuhnya selesai. Hanya saja, dia masih bisa menghandle dari Jakarta.
Menjelang sore, Nayra memasak makan malam untunya dan Rainer. Kali ini, Nayra memasak olahan brokoli dengan sosis dan bakso yang ada di dalam kulkas. Beruntung Rainer bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan.
__ADS_1
Setelah sama-sama membersihkan diri, Rainer dan Nayra bersiap untuk makan malam bersama. Namun, sebuah telepon mengurungkan niat Rainer untuk melangkahkan kaki menuju meja makan.
Nayra yang mendengar suara ponsel Rainer berbunyi, langsung mengalihkan pandangan dari aktivitasnya menyiapkan makan malam.
"Siapa, Mas?" tanya Nayra.
"Regina," jawab Rainer sambil menoleh ke arah Nayra.
Nayra mencebikkan bibir sambil mengedikkan bahu. Dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya jika Regina menghubungi Rainer.
"Hallo," sapa Rainer begitu panggilan telepon terhubung.
"Kak? Kemana saja, sih? Dari kemarin susah sekali di hubungi. Aku ke Indonesia, kamu ke Singapura. Aku balik lagi ke Singapura, kenapa Kak Rain sudah balik ke Indonesia? Kakak nggak kangen lagi kepadaku?"
"Hee?"
•••
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak tang banyak ya. Terima kasih.