
Setelah perdebatan absurd tersebut, Rainer terpaksa harus kembali menunggu sang mama dan Nayra menyelesaikan acara memasaknya. Rainer menunggu di ruang tengah sambil berbalas pesan dengan sahabat sekaligus asistennya. Siapa lagi jika bukan Felix.
Rain. ~ tulis Felix dalam pesannya.
Hhhmmm. Apa? ~ Rainer.
Gue udah ketemu keluarga Monic. ~ Felix.
Serius, lo? ~ Rainer.
Serius, lah. Ya kali gue bercanda masalah beginian. 😡 ~ Felix.
Terus, lo sudah putuskan pertunangan itu? ~ Rainer.
Iya, sudah. Gue juga sudah jelaskan semua alasan dan tunjukkan beberapa buktinya langsung ke orang tua Monic. ~ Felix.
Karena merasa tidak nyaman berbalas pesan, akhirnya Rainer langsung menghubungi Felix. Pada dering kedua, panggilan telepon tersebut di angkat oleh Felix.
"Hallo," sapa Felix.
"Terus, bagaimana tanggapan orang tua Monic setelah mereka melihat bukti-bukti yang lo tunjukin?" tanya Rainer.
"Awalnya, mereka tidak percaya dan marah sama gue. Tapi, setelah gue tunjukkan semua bukti yang ada, mereka langsung terkejut. Dan, mau tidak mau mereka menerima keputusan itu," ujar Felix.
"Lo nggak ngomong dulu sama Monic tentang hal ini?"
"Gue dari pagi sudah berusaha menghubungi dia, Rain. Tapi, dia tidak menjawab panggilan bahkan tidak membalas pesan yang gue kirim. Saat makan siang pun, gue sudah mencoba menghubungi kembali. Namun, ponselnya justru tidak aktif."
__ADS_1
Rainer mendesahkan napas berat setelah mendengar ucapan Felix. Sepertinya, memang Monic sengaja menghindari Felix.
"Sepertinya, Monic memang sengaja menghindar dari lo, Lix," ucap Rainer.
"Gue juga berpikiran seperti itu, Rain. Makanya, tadi gue langsung ke rumah orang tua Monic. Gue beberin semuanya ke orang tuanya biar mereka semua tahu kelakuan anaknya. Gue sudah capek dibohongi terus." Felix terdengar gusar.
Rainer mengangguk-anggukkan kepala. Dia bisa memahami apa yang dirasakan oleh Felix.
"Gue dukung apapun keputusan lo, Lix. Jika lo butuh bantuan, ngomong aja langsung."
"Oke, Rain. Thanks dukungannya. Kali ini, gue memang butuh bantuan." Suara Felix terdengar serius.
"Bantuan apa? Langsung ngomong aja."
"Gue butuh cuti, Rain. Satu atau dua minggu an lah."Â
Namun, rasanya Rainer tidak setega itu. Dia sudah sangat dibantu oleh Felix. Jika kali ini Rainer melarang Felix untuk mengambil cuti, bisa-bisa Felix akan kesal dan marah. Mau tidak mau, Rainer memberikan izin untuk Felix mengambil cuti.
Saat obrolan keduanya selesai, bersamaan dengan makan malam yang juga sudah siap. Mama Rainer langsung memanggil putranya tersebut yang sejak tadi sudah merengek kelaparan.
"Mama malam ini tidur sini saja, ya. Kita bisa ngobrol sampai pagi," ucap Nayra sambil terkekeh di sela-sela aktivitas makan malam mereka.
Rainer yang mendengar ucapan sang istri, langsung mendelik tajam menatap Nayra. Tentu saja dia tidak akan terima jika Nayra harus tidur terpisah dengannya. Tadi sore saja saat Nayra mengajak Linda hangout, Rainer sudah mencak-mencak tidak terima.Â
Mama Rainer yang menyadari sang putra tengah kesal, langsung tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Mama pulang, Nay. Besok mama dan papa harus ke Aussie," ucap mama Rainer.
__ADS_1
"Eh, kesana lagi, Ma?"
"Iya, Nay. Ada beberapa acara yang harus papa kamu hadiri. Dan, tentu saja Mama harus ikut mendampingi."
Nayra mengangguk-anggukkan kepala. Sambil mengambil sambal terasi kesukaannya, Nayra menoleh ke arah Rainer. Rupanya, suaminya tersebut merasa cukup lega saat mendengar mamanya tidak jadi menginap.
Tak berapa lama kemudian, acara makan malam tersebut sudah selesai. Mama dan Nayra segera membereskan meja makan. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, sopir mama Rainer sudah datang menjemput. Mau tidak mau, Mama segera berpamitan.
Setelah semuanya beres, Nayra bergegas menuju ke kamar. Namun, langkah kakinya terhenti saat melewati Rainer yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
Rainer menarik tangan Nayra hingga tubuhnya terjatuh di pangkuan Rainer. Tanpa aba-aba, Rainer langsung meluumat bibir istrinya tersebut. Tak tinggal diam, tangan Rainer juga langsung beraksi.Â
Tangan kanan Rainer langsung menyusup ke dalam baju Nayra dan melepaskan kaitan 'kacamata' istrinya tersebut. Nayra yang saat itu sedang memakai kaos, langsung ditarik oleh Rainer. Kini, Nayra sudah langsung polosan bagian atas tubuhnya.
"Ehm, Ma-masss?" Nayra mendorong bahu sang suami.
Tatapan wajah Rainer sudah sangat sayu. Entah sudah sejak kapan Rainer menahan keinginannya.
"Aduuhh, ini yang bawah sudah mulai 'molet'. Kamu bantu dulu biar tenang, ya." Rainer langsung menurunkan Nayra dari pangkuannya. Secepat kilat dia langsung berdiri dan mulai melepaskan kaitan dan resleting celananya.
Nayra yang melihat hal itu, sudah mulai paham apa yang harus dilakukannya. Segera, dia memulai aktivitasnya untuk menenangkan si 'rudal hidup' agar tidak semakin berontak.
Entah mengapa si 'rudal hidup' sangat suka saat bermain-main di dalam mulut kecil Nayra. Hingga sekitar lima menit kemudian, Rainer merasakan sesuatu yang berbeda di bawah sana. Seketika Rainer menarik benda pusaka kesayangannya tersebut menjauh dari depan wajah Nayra.
"Nay, kok rasanya panas, ya?" Rainer tampak meringis.
"Astaga, Mas! Aku tadi makan sambal!"
__ADS_1
Hurutuh kunu.