
Kedua bola mata Nayra langsung membulat saat mendengar ucapan Aaron. Dia juga mendadak bingung saat telinganya menangkap ketidaksukaan Aaron tentang pernikahannya dengan Rainer.
Ada apa ini? Apa maksud Aaron mengatakan hal itu? Apa dia tahu siapa suamiku? Apa Aaron ada masalah dengan Rainer? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus terngiang-ngiang di dalam kepala Nayra.
Hingga beberapa saat kemudian, Nayra tersadar dan langsung menghempaskan cekalan tangan Aaron pada lengannya. Tak mau kalah, kini Nayra balas menatap Aaron dengan tatapan tajamnya.
"Apa urusan kamu ingin tahu aku menikah dengan siapa, hah?! Bukan urusan kamu aku menikah dengan siapapun. Dan, kamu juga tidak punya hak untuk melarang ataupun ikut campur dengan urusan pribadiku. Kamu bukan pacar ataupun keluargaku. Kita hanya sebatas orang yang kebetulan pernah bertemu beberapa kali," ucap Nayra berapi-api. Bahkan, suaranya sudah menggema kemana-mana.
Beberapa orang karyawan yang baru saja tiba pun, tak luput memperhatikan perdebatan Aaron dan Nayra. Dan, mereka cukup terkejut saat mendengar ucapan Nayra tersebut.
Para karyawan mengetahui siapa Nayra sebenarnya. Dan, mereka juga tahu jika Nayra belum menikah. Tapi, setelah ucapan Nayra, kini para karyawan tersebut mulai bertanya-tanya. Tidak sedikit juga yang mulai berbisik-bisik. Mereka tampak penasaran dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Mendengar ucapan Nayra, tampak Aaron semakin kesal. Rahangnya sudah semakin mengeras dengan kedua tangan terkepal. Aaron ingin kembali mencengkeram lengan Nayra, namun tiba-tiba sebuah tarikan mencegah Aaron menjalankan niatnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?!" Terdengar suara teriakan laki-laki yang cukup memekakkan telinga.
__ADS_1
Sontak saja suara itu membuat suasana pagi di lobi kantor menjadi semakin tegang. Netra Aaron menatap si pelaku yang menariknya dengan tatapan bengis. Tampak sekali amarah yang sangat besar pada ekspresi wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, hah?! Mau cari masalah dan gara-gara di kantor orang?!" Suara menggelegar kembali terdengar.
Nayra yang melihat hal itu, buru-buru mendekat dan langsung mencengkeram lengan laki-laki tersebut.
"Sudah, Mas. Jangan buat keributan pagi-pagi di kantor," bisik Nayra sambil mengusap-usap lengan suaminya.
Ya, laki-laki yang baru saja datang adalah Rainer. Beberapa saat yang lalu, Rainer sudah menyelesaikan pertemuannya dengan Felix. Setelah selesai, Rainer langsung bergegas menuju kantor. Namun, saat dia sudah sampai di lobi, Rainer melihat Nayra tengah bersitegang dengan seorang laki-laki.
Dan, seperti sebelumnya, emosi Rainer langsung memuncak. Dia tidak bisa terima saat ada yang sudah berani mengganggu Nayra. Seketika Rainer mendekat dan menarik lengan Aaron.
Aaron yang melihat tangan Nayra yang sudah melingkar dengan erat pada lengan Rainer, semakin murka. Dia benar-benar tidak terima jika harus bersaing kembali dengan Rainer.
Tatapan mata Rainer dan Aaron langsung bertemu. Tampak jelas amarah Aaron dari tatapan matanya.
__ADS_1
"Jika dulu aku bisa mengalah, tapi tidak kali ini. Aku pastikan, kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan lagi," ucap Aaron sambil menatap tajam ke arah Rainer.
Setelah mengatakan hal itu, Aaron menatap ke arah Nayra sekilas sebelum beranjak pergi. Beberapa orang yang melihat hal itu, masih diam mematung. Mereka seolah masih bertanya-tanya tentang apa yang baru saja terjadi.
Rainer yang menyadari masih banyak karyawannya yang berada di lobi, langsung kembali bersuara.
"Apa yang kalian tunggu di sini, hah?! Sudah merasa tidak butuh pekerjaan lagi?"
Mendengar ucapan Rainer, sontak saja seluruh karyawan yang sedang menonton sejak tadi langsung berhamburan. Mereka tergesa-gesa berjalan menuju ruang kerjanya masing-masing.
Sementara itu, Nayra hendak melepaskan tangannya dari tangan Rainer, namun langsung di cegah. Rainer langsung menarik tangan Nayra dan membawanya keluar dari lobi kantor.
•••
Eh, mau dibawa kemana itu?
__ADS_1