
Meski kesal, Rainer dan Nayra mengikuti permintaan mamanya tersebut. Mereka terpaksa masuk ke dalam kamar orang tua Rainer di hotel tersebut. Nayra masih terlihat takut. Entah sadar atau tidak, kedua tangan mereka masih menggenggam dengan erat.
Orang tua Rainer sebenarnya melihat hal itu. Namun, mereka memilih untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Kamu ke bawah saja dulu, Pa. Ada mau aku bicarakan dengan mereka," mama Rainer masih berbicara dengan suaminya di depan pintu kamar.
"Baiklah. Aku akan ke bawah dulu. Setelah acara selesai, aku akan langsung kembali."
"Iya, Pa. Serahkan semuanya kepadaku." Mama Rainer mengusap-usap bahu suaminya sambil mengulas senyum bahagia.
Sang suami yang melihat hal itu, langsung paham. Dia hanya bisa mencebikkan bibir. "Aku tau apa yang kamu rencanakan, Ma."
Mendengar hal itu, mama Rainer langsung tergelak. Rupanya, dia tidak bisa membohongi sang suami yang sudah lebih dari tiga puluh tahun hidup bersama.
"Hehehe, kenapa kamu bisa menebaknya, Pa. Sudah hafal, ya?" Mama Rainer hanya bisa tersenyum sambil bergelayut manja pada lengan suaminya.
"Aku sudah lama hidup denganmu, Ma. Bahkan, hembusan napas kamu saja aku sudah hafal." Ciahh, si bapak mulai ngegombal.
__ADS_1
Mama Rainer langsung mencebikkan bibir. "Jelas saja hafal, orang setiap malam kamu ngabsenin mulu."
Kali ini, papa Rainer yang tergelak. Setelah itu, obrolan absurd orang tua Rainer terhenti. Papa Rainer langsung kembali ke tempat acara, sementara mama Rainer langsung menyusul putranya memasuki kamar.
Sementara di tempat acara, Aaron tampak kebingungan mencari keberadaan Nayra. Dia bahkan terpaksa bertanya kepada beberapa orang untuk menanyakan keberadaan Nayra.
Namun, rupanya tidak ada yang memperhatikan kemana Nayra pergi. Saat itu, memang beberapa orang masih tampak fokus pada acara hingga tidak terlalu memperhatikan sekitar.
Aaron juga sempat menghubungi ponsel Nayra beberapa kali. Namun, sama sekali tidak ada jawaban. Hal itu disebabkan karena Rainer sudah merebut ponsel Nayra dan mematikannya saat menarik Nayra berjalan menuju lift.
Felix yang sudah berada di tempat acara dan bergabung dengan para tamu undangan, tampak memperhatikan tingkah Aaron. Rupanya, Felix sudah mengamati Aaron sejak Rainer membawa Nayra pergi.
Hingga tak berapa lama kemudian, Aaron terlihat kesal karena tidak menemukan keberadaan Nayra. Setelah cukup lama mencari dan tidak menemukan Nayra, Aaron memilih untuk pergi meninggalkan tempat acara.
Sementara itu di dalam kamar hotel, Rainer tengah duduk di sofa panjang dan tentunya Nayra juga duduk di sampingnya. Entah sadar atau tidak, keduanya masih duduk saling menempel.
Mama Rainer yang saat itu sudah duduk di depan mereka, masih memperhatikan interaksi yang dilakukan oleh Rainer dan Nayra. Hingga setelah cukup lama menunggu, akhirnya mama Rainer membuka suara.
__ADS_1
"Bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya mama Rainer sambil menatap tajam ke arah kedua tersangka.
Rainer menghela napas berat dan menghembuskannya dengan kasar.
"Memangnya apa lagi yang mau Mama dengar? Sudah kubilang kami tidak melakukan apa-apa, Ma." Rainer masih berusaha membela diri.
Mama Rainer mencebikkan bibir dan beralih menatap ke arah Nayra.
"Nay, bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Rainer bisa membawa kamu naik ke sini dan melakukan hal tidak menyenangkan kepadamu?" tanya mama Rainer.
Mendengar pertanyaan sang mama, Rainer langsung bereaksi.
"Perbuatan tidak menyenangkan apa maksud Mama? Orang Nayra ikut menikmati. Jika dia tidak menikmati, dia tidak akan mendesaah, Ma."
\=\=\=
Oalah Rain. Apa lagi ini? 🤧
__ADS_1