
Setelah Nayra dan Resta kembali, kini giliran orang tua Rainer yang pergi ke kantin. Mereka juga sama-sama belum makan malam karena pergi dari rumah dengan tergesa-gesa tadi.
Nayra yang masih ditemani oleh Resta, kini sedang menunggu di depan ruang operasi Rainer. Tanpa harus disuarakan, apa yang mereka khawatirkan sama.
"Ta, sudah malam. Sebaiknya, kamu pulang saja dulu," pinta Nayra. Dia tidak ingin membuat Resta kelelahan. Resta harus beristirahat yang cukup karena esok hari dia harus menghandle pekerjaan Rainer dan pekerjaannya.
"Nanti saja, Mbak. Aku tidak akan tenang pulang jika belum tahu keadaan Pak Rain."
Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat. Mau tidak mau dia hanya bisa membiarkan Resta di sana. Keduanya menunggu operasi Rainer saat kedua orang tua Rainer sedang berada di kantin.
__ADS_1
Sekitar satu jam kemudian, lampu ruang operasi Rainer sudah padam. Keempat orang yang sejak tadi menunggui di depan ruang operasi, langsung beranjak berdiri. Mereka semua harap-harap cemas menunggu hasil operasi yang baru saja dilakukan oleh Rainer.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruang operasi tersebut terbuka. Seorang dokter dan diikuti seorang perawat terlihat keluar dari dalam ruang operasi tersebut. Seketika Nayra dan orang tua Rainer bergegas menghampiri dokter tersebut.
"Dokter Ervan, bagaimana hasil operasi putra saya?" tanya papa Willy dengan ekspresi khawatir yang terlihat cukup jelas.
Dokter Ervan menatap papa Willy dan yang lainnya sambil mengulas senyuman menenangkan.
Seketika kelegaan dirasakan oleh Nayra dan yang lainnya. Ucapan syukur tak berhenti keluar dari bibir mereka sebagai ucapan syukur atas keberhasilan operasi Rainer.
__ADS_1
Setelah itu, Resta dipaksa pulang oleh Nayra dan papa Rainer. Dia harus beristirahat karena esok hari harus menghandle pekerjaan Rainer. Dia harus mengatur ulang jadwal pekerjaan Rainer beserta meeting yang harus dilakukannya.
Mendekati tengah malam, Rainer baru dipindahkan ke ruang VVIP yang sudah dipesan oleh Resta. Di ruangan tersebut dilengkapi dengan tempat tidur untuk penjaga pasien. Kedua orang tua Rainer sempat meminta Nayra untuk pulang malam itu. Papa Rainer yang akan menjaga di rumah sakit.
Namun, hal itu langsung ditolak oleh Nayra. Nayra yang tetap kekeh ingin menjaga Rainer di rumah sakit. Mau tidak mau, kedua orang tua Rainer mengizinkan Nayra menjaga di rumah sakit. Mereka berjanji akan kembali esok hari dengan membawakan baju ganti dan keperluan Nayra lainnya.
Sepeninggal kedua orang tua Rainer, Nayra langsung beringsut mendekati brankar. Dia menggenggam tangan Rainer dan mulai menangis sesenggukan. Beberapa kecupan pun diberikan Nayra pada pipi, kening, hidung, dagu, hingga bibir Rainer. Dia benar-benar merasa takut kehilangan suaminya tersebut.
"Maaf, Mas. Maafkan aku. Maafkan sifat kekanak-kanakanku. Hiks hiks hiks."
__ADS_1
Nayra masih terus menangis sesenggukan sambil mengecupi tangan kiri Rainer yang tidak terluka parah. Nayra tidak berani menyentuh area kanan Rainer karena baru saja menjalani operasi. Apalagi, pada bagian bahu kanan Rainer.
Rainer yang masih berada dibawah pengaruh obat, belum bisa memberikan respon apapun terhadap sang istri. Hingga menjelang pagi, Rainer masih belum juga sadar. Nayra juga sempat terlelap dengan posisi duduk beberapa saat setelah kelelahan menangis.