Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Sudah Move On


__ADS_3

Nayra cukup terkejut saat mendengar penjelasan Linda yang mengaku jika saat ini dia tengah dekat dengan seorang laki-laki. Sebenarnya, belum ada hubungan secara resmi yang keluar dari bibir keduanya yang menyatakan jika saat ini mereka berpacaran.


Namun, usia keduanya yang sudah tidak muda lagi, sepertinya tidak membutuhkan ungkapan kalimat yang menyatakan jika mereka sudah berpacaran. Mereka cukup mengetahui perasaan masing-masing dari sikap dan tindakan yang mereka lakukan.


"Jadi, kamu saat ini tengah dekat dengan Kak Haris?" tanya Nayra memastikan.


Linda menganggukkan kepala. Dia masih menatap ekspresi Nayra. Linda khawatir jika Nayra akan kembali ingat dengan masa lalunya.


"Sejak kapan? Kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya? Kamu sengaja menyembunyikannya dari ku ya, Lin?" Nayra mencebikkan bibirnya kesal. Terlihat sekali jika saat itu Nayra tengah kesal.


Linda buru-buru menggelengkan kepala dengan cepat. Tangan kanannya langsung terulur untuk menggenggam tangan Nayra.


"Tidak. Bukan seperti itu, Nay." Linda buru-buru menjelaskan alasannya menyembunyikan kedekatan dengan Haris untuk menjaga perasaan Nayra. "Aku sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan hal ini dari kamu. Hanya saja, aku ingin menjaga perasaan kamu."


"Kita sama-sama tahu siapa Haris sebenarnya. Dia adalah kakak kandung Helga, mantan pacar kamu yang sudah membuat kamu sakit hati. Aku tidak ingin membuat kamu semakin sakit jika mengetahui hubunganku dengan dia, Nay." Linda menjelaskan dengan ekspresi tidak enak.


Nayra cukup terkejut mendengar ucapan Linda. Dia sama sekali tidak menyangka jika sahabatnya itu memikirkan perasaannya. Nayra benar-benar beruntung. 


Namun, sepertinya dugaan Linda salah. Memang benar dulu dia memiliki hubungan dengan Helga, laki-laki yang sudah menghianatinya. Tapi sekarang, Nayra sudah tidak memiliki perasaan apapun tentang kisah masa lalunya. Nayra sudah berhasil melupakan cerita masa lalunya tersebut. Bahkan, dia sempat bertemu dengan Helga beberapa kali, dan sudah tidak memiliki perasaan apa-apa.


Nayra masih menatap wajah Linda lekat-lekat. Nayra jadi merasa bersalah saat mengetahui sang sahabat harus menyembunyikan hubungannya karena ingin menjaga perasaan Nayra.


"Lin, aku minta maaf jika selama ini kamu merasa tertekan karena harus menyembunyikan status hubungan kalian. Aku benar-benar tidak tahu jika kamu punya hubungan dengan Kak Haris."


"Jujur, aku tidak apa-apa, Lin. Aku benar-benar sudah melupakan masa laluku. Aku sudah move on. Jadi, kamu jangan berpikir aku akan mengingat masa laluku jika melihat Kak Haris."


"Kak Haris tidak ada hubungannya dengan masa lalu ku, Lin. Dulu saat masih pacaran dengan Helga, aku sempat bertemu beberapa kali dengan kak Haris. Dia orangnya cukup baik dan sangat dewasa. Jadi, aku yakin dia tidak akan seperti adiknya," ucap Nayra memberikan penjelasan kepada Linda.


Linda tampak bahagia mendengar ucapan Nayra.

__ADS_1


"Kamu serius, Nay? Kamu tidak apa-apa jika aku dekat dengan Haris? Jika aku punya hubungan dengannya?" tanya Linda penasaran.


Nayra menggelengkan kepala. "Tidak, Lin. Aku tidak apa-apa. Bahkan, aku akan sangat bahagia jika kamu sudah menemukan laki-laki yang baik untuk kamu."


Linda mengangguk-anggukkan kepala sambil mengucapkan terima kasih. Dia benar-benar bersyukur mempunyai sahabat yang bisa mengerti dirinya.


Setelah itu, Nayra dan Linda melanjutkan makan siang. Sesekali mereka juga mengobrol dan bercerita tentang apa yang akan mereka lakukan di acara ulang tahun kantor. Setelah makan siang mereka selesai, Nayra dan Linda langsung bersiap kembali ke kantor.


Begitu sampai di kantor, Nayra dan Linda langsung beranjak menuju ruangan mereka masing-masing. Nayra juga langsung mengerjakan semua pekerjaannya yang sudah menumpuk.


Saking sibuknya, Nayra bahkan tidak menyadari jika sang atasan sudah berdiri di depan pintu ruangannya sejak beberapa saat yang lalu. Hingga sebuah deheman menyadarkan Nayra dari konsentrasinya menatap layar komputer.


"Eheemm."


Nayra langsung mendongakkan kepala. Dia melihat Rainer sudah berdiri dan bersandar di dekat pintu.


"Eh, Pak Rain? Ada apa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nayra sambil berdiri.


"Sudah, Pak. Saya baru saja mengirim kepada mereka."


"Bagus. Rekap semuanya dan jadikan dalam satu file. Beri catatan di setiap bagian yang sudah aku tandai tadi. Jika sudah selesai, kirim ke emailku," ucap Rainer sambil berbalik.


"Baik, Pak." Nayra tetap menjawab meski Rainer tidak mendengarnya.


Begitu Rainer sudah tidak tampak lagi, Nayra buru-buru mengerjakan apa yang sudah diperintahkan oleh Rainer. Tak butuh waktu lama, Nayra sudah menyelesaikan apa yang diminta oleh atasannya tersebut. Dia juga sudah mengirimkan data tersebut ke email Rainer.


Setelah menyelesaikan pekerjaan dari Rainer, Nayr hendak melanjutkan pekerjaannya tadi. Namun, suara dering telepon menginterupsi niatnya. Nayra segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo, selamat sore."

__ADS_1


"..."


"Oh, untuk malam ini?"


"..."


"Baik. Saya akan sampaikan kepada Pak Rain. Setelah itu, saya akan konfirmasi kepada Anda."


"..."


"Selamat sore."


Nayra meletakkan telepon tersebut pada tempatnya dan segera beranjak menuju ruangan Rainer.


Tok tok tokk


"Masuk."


Nayra segera membuka pintu ruang kerja Rainer dan berjalan memasukinya. Dia berdiri di depan meja Rainer untuk menyampaikan pesan yang baru saja didapatnya.


"Ada apa?" Rainer masih fokus pada layar komputernya.


"Tadi ada telepon dari sekretaris Pak Jimmy, Pak. Beliau ingin mengundang Anda untuk menghadiri acara soft opening restoran terbaru beliau. Bagaimana? Apa Anda bersedia hadir?"


Rainer menoleh ke arah Nayra. Dia terlihat memikirkan sesuatu sebelum kembali bersuara. "Baiklah. Aku akan datang nanti malam. Kamu ikut."


"Eh,"


\=\=\=\=

__ADS_1


Bantu promosi cerita terbaru ini ya. Masih sepi nih 🤧


__ADS_2