
Citra buru-buru memutar tubuhnya membelakangi Felix. Dia tidak mungkin melepaskan kenyotan Finn, karena jika hal itu dilakukan, sudah pasti Finn akan merengek tidak karuan.
"Apa-apaan sih, Om? Apanya yang mentul-mentul? Dan, sejak kapan Om Felix datang? Kok aku nggak lihat," ucap Citra sambil menepuk-nepuk paha Finn agar kembali terlelap karena tadi sempat kaget karena teriakannya.
"Sudah dari tadi, sih. Ini bahkan sudah selesai mandi," jawab Felix sambil berjalan untuk mengambil baju ganti.
Citra tidak menoleh ke arah Felix. Dia tidak mau melihat hal-hal yang menggida imannya. Citra yakin jika saat ini Felix sedang memakai bajunya. Entah apa maksud Felix yang tidak kembali ke kamar mandi untuk mengganti baju.
"Jika sudah datang dari tadi, kenapa nggak bangunin sih, Om? Mana tahu aku jika Om sudah datang tadi." Citra menggerutu kesal sambil masih menimang Finn.
"Aku nggak tega bangunin kamu tadi. Tidurmu nyenyak sekali tadi."
Citra mencebikkan bibir. Dia tidak mau memperpanjang urusan dengan Felix. Citra hanya fokus pada Finn yang saat itu sudah kembali tidur dengan lelapnya. Bahkan, kenyotan bibirnya terhadap sumber nutrisinya juga sudah terlepas.
Setelahnya, Citra segera merapikan pakaiannya dan hendak memindahkan Finn kembali ke dalam box bayinya. Namun, Felix yang melihat hal itu segera menghentikan tindakan Citra.
"Jangan ditidurkan di sana. Bawa saja ke tempat tidurku," perintah Felix.
__ADS_1
"Eh, di sana?" tunjuk Citra dengan anggukan kepala.
"Hhmmm."
Setelah itu, Citra segera beranjak menuju tempat tidur Felix dan langsung meletakkan Finn di sana. Dia juga segera mengambil perlengkapan tidur Finn agar bayi laki-laki itu merasa nyaman.
"Sudah. Aku tinggal ke kamar ya, Om." Citra segera beranjak menuju pintu kamar Felix.
Namun, langkah kaki Citra terhenti saat tiba-tiba Felix mencekal tangannya hingga membuat Citra menghentikan langkahnya.
"Tunggu."
"Ada apa, Om?" tanya Citra bingung.
Felix masih menatap wajah Citra lekat-lekat. Entah mengapa dia merasa sulit untuk mengatakan sesuatu.
"Terima kasih," ucap Felix. Setelah beberapa saat diam, akhirnya kata itu yang keluar dari bibir Felix.
__ADS_1
Citra yang masih bingung pun hanya bisa menganggukkan kepala.
"Iya, Om. Sama-sama."
Dan, setelahnya Citra segera keluar dari kamar Felix. Dia tidak mau berlama-lama berada di dalam kamar laki-laki itu. Bisa-bisa, dia akan tergoda untuk menerjang Felix. Eh.
Sebenarnya, bukan Citra tidak tertarik dengan sosok Felix yang beberapa hari ini sudah tinggal bersamanya. Namun, Citra cukup sadar diri untuk membatasi interaksi yang berlebihan dengan laki-laki yang mendadak sudah menjadi seorang ayah tersebut.
Felix mendesahkan napas beratnya setelah Citra keluar dan menutup pintu kamarnya. Entah mengapa dia mendadak blank tadi. Felix menoleh dan menatap putranya yang sedang terlelap. Sebuah senyuman langsung terbit saat kedua kakinya melangkah menuju tempat tidur.
"Uuhhh, anak papa sudah bobok nyenyak, ih." Felix menciumi pipi gembulnya yang menggemaskan. Jika sedang bangun, dia pasti akan menggigit pipi Finn hingga membuat putranya tersebut risih dan menangis dengan kencang.
Namun, saat Felix mengingat kembali penjelasan Agung, tiba-tiba wajahnya langsung berubah sendu. Ya, Felix merasa bersalah kepada Finn.
"Maafkan papa, Nak. Maafkan papa yang membawamu hadir ke dunia ini dengan cara yang salah. Maafkan papa," ucap Felix dengan mata berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit saat menyadari kesalahannya dulu.
Masih sambil menatap wajah damai Finn yang terlelap, Felix kembali bersuara.
__ADS_1
"Papa berjanji akan menjaga dan memberikan apa yang kamu butuhkan. Papa akan memberikan kasih sayang sebesar-besarnya kepadamu, Nak. Papa janji," ucap Felix sambil memeluk Finn.
Dan, tak berapa lama kemudian, Felix ikut terlelap di samping putranya tersebut.