
Sepanjang perjalanan pulang, Rainer masih menempel pada tubuh Nayra. Dia bahkan tidak melepaskan tangannya untuk mengusap-usap perut Nayra yang sebenarnya memang sudah cukup membuncit. Entah mengapa Nayra sama sekali tidak menyadari hal itu. Mungkin, beberapa minggu terakhir dia cukup repot mengurusi Rainer yang kecelakaan.
"Mas, geli ih. Usap-usap nya dari luar baju jangan dari dalam," ucap Nayra protes saat tangan Rainer tidak hanya mengusap bagian perut Nayra, tapi juga sudah mulai bergerak kesana kemari.
Tentu saja tindakan Rainer tersebut membuat Nayra merasa malu. Apalagi, di dalam mobil tersebut masih ada mama Rainer dan pak Budi, sang supir. Mama sempat melirik tingkah Rainer di belakang dan mendengus kesal. Namun, mama tidak bisa mengatakan apa-apa saat melihat binar bahagia pada wajah Rainer.
"Pukul saja tangannya, Nay. Rain memang suka kelewatan nggak tau tempat jika mau encum. Bener-bener nggak ada sopan-sopannya di depan orang tua," gerutu mama.
Rainer menghentikan gerakan tangannya pada perut Nayra. Dan, hal itu dijadikan kesempatan oleh Nayra untuk mengeluarkan tangan Rainer dari balik bajunya. Rainer menatap ke arah sang mama dengan ekspresi kesal karena aktivitasnya terganggu.
"Mana ada aku nggak sopan di depan orang tua, Ma. Nggak nyadar aku ada dibelakang kalian, nih."
__ADS_1
Mama hanya bisa merotasikan kedua bola matanya. Sepertinya, mama sudah cukup lelah berdebat dengan sang putra yang selalu punya alasan untuk menjawab ucapannya.
Tak sampai tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di area parkir tower apartemen Rainer. Mama langsung berpamitan dengan pak diantar oleh pak Budi. Sedangkan Rainer dan Nayra langsung bergegas menuju kembali ke penthouse.
"Hari ini kamu nggak ngantor, Mas?" tanya Nayra saat baru saja keluar dari lift.
"Nanti saja, lah. Nggak ada pekerjaan yang mendesak juga."
"Tapi Mas, kerjaanku di kantor masih lumayan banyak, lho. Ada beberapa yang belum aku selesaikan. Nanti kasihan Resta jika harus handle semua pekerjaanku sendirian," Nayra berusaha membujuk Rainer.
"Nggak apa-apa. Jika Resta kewalahan, aku bisa cari penggantimu nanti." Rainer menjawab dengan santai seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah hal biasa.
__ADS_1
Namun, ternyata Nayra yang sedang mengalami mood yang suka berubah-ubah, langsung menghentikan langkah kakinya dan mendelik tajam ke arah Rainer. Rainer yang menyadari jika Nayra sudah berhenti melangkah, langsung menoleh.
"Kenapa berhenti?" tanya Rainer dengan kening berkerut.
"Kamu tadi bilang apa, Mas? Mau cari penggantiku? Mau cari istri lagi karena sebentar lagi tubuhku pasti akan membengkak begitu? Kamu benar-benar ya, Mas. Aku begini kan juga gara-gara kamu. Jika kamu nggak rajin-rajin 'nyembur' di dalam pasti aku juga nggak begini, Mas. Hiks hiks hiks." Nayra langsung menangis.
Rainer yang melihat hal itu mendadak panik. Dia bingung sekali apa yang membuat Nayra tiba-tiba menangis. Dan, apa itu tadi maksudnya dengan mencari istri lagi? Rainer benar-benar bingung.
"Kenapa kamu menangis? Siapa yang mau cari istri lagi? Satu istri saja belum habis aku nikmatin masa iya mau cari istri lagi. Yo ndak mampu aku, iso megap-megap, Nay."
"Huaaa, hiks hiks hiks."
__ADS_1