Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Apa Kamu Bahagia?


__ADS_3

Nayra sudah keluar dari hotel. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju penthouse Rainer dengan menggunakan taksi. Sejak tadi, pikirannya tak bisa lepas dari apa yang baru diketahuinya tadi pagi. Apalagi jika bukan kegagalan kerjasama yang akan dilakukan oleh perusahaan suaminya tersebut.


"Kok bisa kerjasama yang sudah direncanakan secara matang jadi harus batal secara tiba-tiba begini?" gumam Nayra. Dia masih merasakan sesuatu yang janggal dari adanya pembatalan kerjasama tersebut.


Namun, pikiran Nayra kembali fokus saat taksi yang membawanya sudah berhenti di depan lobi apartemen. Nayra segera turun dan membawa koper yang berisi bajunya dan baju Rainer.


Langkah kaki Nayra terhenti saat kedua netranya bersitatap dengan sepasang mata yang menatapnya dengan tak kalah tajam.


"A-Aaron?" Nayra cukup terkejut saat mendapati Rainer yang baru saja keluar dari lift tersebut dengan penampilan yang berantakan.


Tidak ada balasan yang keluar dari bibir Aaron. Dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nayra masih dengan tatapan tajamnya.


"Apa kamu bahagia menikah dengan laki-laki itu, Nay?" tanya Aaron tiba-tiba.


Kening Nayra berkerut saat Aaron berhenti melangkah dan berdiri di depannya.


"Apa maksud kamu menanyakan hal itu?" Nayra menatap Aaron dengan ekspresi bingung.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastikan jika kamu bahagia dengan pernikahanmu ini."


Nayra mencebikkan bibir ke arah Aaron. "Tentu saja aku bahagia. Kamu tidak usah repot-repot mengkhawatirkan aku bahagia atau tidak dengan pernikahanku ini," ucap Nayra ketus. Entah mengapa dia cukup merasa kesal setelah Aaron terkesan mencampuri urusan rumah tangganya.


Aaron menaikkan kedua alisnya saat menyadari intonasi suara Nayra sedikit lebih tinggi dari biasanya.


"Kamu tidak tahu saja siapa Rainer sebenarnya, Nay. Jika kamu tahu siapa dia sebenarnya, kamu pasti akan menyesal sudah menikahinya."


Bukannya takut, Nayra justru mencibir ucapan Aaron. Dia melepaskan pegangan tangannya pada pegangan koper, dan melipat kedua tangannya di depan daada.


"Justru seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Kamu tidak tahu siapa Rainer yang sebenarnya. Kamu mungkin juga lupa jika aku adalah sekretaris dan asisten pribadi Rainer. Jadi, jangankan luarnya Rainer, ********** pun aku sudah tahu dan bahkan sudah cukup hafal." Entah apa maksud ucapan Nayra tersebut. 


"Bass!"


Sontak Nayra dan Aaron langsung menoleh. Aaron langsung berbalik dan berjalan untuk menghampiri orang yang telah memanggilnya tersebut tanpa berpamitan kepada Nayra.


Lagi-lagi, kening Nayra berkerut saat dia merasa tidak asing dengan orang yang telah memanggil Aaron tersebut.

__ADS_1


"Siapa dia? Sepertinya aku pernah melihat wajah laki-laki itu," gumam Nayra.


Setelah melihat kepergian Aaron dan laki-laki yang memanggilnya tadi, Nayra bergegas melanjutkan langkah kakinya menuju penthouse Rainer. 


Sementara di sebuah restoran, Rainer tampak membahas sesuatu dengan Felix. Ya, siang itu mau tidak mau Felix menuruti permintaan Rainer untuk bertemu. 


"Lo yakin mau melakukan hal itu, Rain?" tanya Felix setelah menyesap minumannya siang itu.


"Hhmmm."


"Ngapain harus repot-repot balik lagi ke dalam negeri jika lo sudah bisa pegang yang di Timur Tengah, Rain?" Felix masih tidak habis pikir dengan apa yang akan Rainer lakukan.


Bukannya langsung menjawab ucapan Felix, Rainer justru menatap wajah sahabat sekaligus asistennya tersebut dengan tatapan kesal.


"Berisik!"


Felix mencebikkan bibir kesal setelah mendengar ucapan Rainer. "Jika lo sudah serius memutuskan melakukan hal itu sejak awal, ngapain lo repot-repot minta gue kesini hanya untuk mendengar cerita lo ini, hah?!"

__ADS_1


"Memang kenapa? Lo kesel gue minta datang kesini?" tanya Rainer dengan ekspresi songong.


Felix be like….


__ADS_2