
Rainer berangkat lebih dulu dari pada Nayra dan mamanya yang masih berada di penthouse. Dia sudah ada janji hari itu dengan Felix. Rainer ingin segera menyelesaikan pekerjaan di Singapura.
Sementara itu, Nayra dan mama Rainer sudah bersiap. Mereka sudah ada janji dengan pengurus WO untuk resepsi pernikahan nanti.
"Nay, Rainer nggak macam-macam kan sama kamu?" tanya Mama Rainer saat keduanya sedang berjalan menuju lift.
Nayra menoleh ke arah mertuanya itu sambil mengulas senyuman. Nayra menggelengkan kepala saat menjawab. "Nggak ada, Ma. Mas Rain nggak macam-macam."
Mama Rainer tampak tidak percaya. Jika dilihat dari tingkah putranya itu, Rainer pasti sudah berusaha untuk menggoda Nayra dan mulai 'nyemek-nyemek' Nayra.
"Kamu serius Rainer nggak aneh-aneh, Nay?"
Nayra mengangguk. "Iya, Ma. Ya, meskipun terkadang suka jahil, tapi Mas Rain tidak melakukan hal macam-macam, kok."
"Dia tidak memaksa kamu untuk melakukan 'itu', kan?" Mama Rainer menatap tajam ke arah Nayra. Mama ingin melihat apakah Nayra berbohong atau tidak.
Seketika wajah Nayra langsung terasa panas. Dia cukup yakin jika saat itu wajahnya sudah semerah buah semangka.
__ADS_1
"Ehm, ti-tidak, Ma." Nayra menggelengkan kepala dengan cepat. Wajahnya masih bersemu merah.
Mama Rainer yang melihat hal itu, menjadi semakin yakin jika putranya sudah mulai icip-icip. Dia hanya bisa mendengus kesal saat permintaannya tidak diindahkan oleh keduanya.
"Mama kan sudah pernah bilang, Nay. Tahan dulu. Pukul Rainer jika berani macam-macam."
"Kami tidak melakukan apa-apa kok, Ma. Ya, kami hanya hanya coba-coba sedikit." Entah mengapa Nayra merasa ingin sekali mengubur tubuhnya saat itu. Dia benar-benar merasa malu ketika mengatakan hal itu.
Mama Rainer hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Dia menarik lengan Nayra keluar dari lift, setelah mereka sampai di lobi. Bukannya berjalan menuju mobil, mama Rainer justru membawa Nayra ke arah taman. Tentu saja hal itu membuat Nayra bingung.
"Ma, kita mau kemana? Bukannya kita akan menemui pihak WO?"
Mendengar hal itu, Nayra hanya bisa pasrah. Dia mengekori sang mertua yang berjalan cepat menuju gazebo yang berada di sebelah timur taman.
Sebenarnya lokasi gazebo tersebut masih berada di area restoran. Biasanya, para tamu juga sering menempati gazebo tersebut untuk menikmati makanan mereka.
Nayra berinisiatif untuk memesankan minuman untuk mama Rainer. Setelah selesai, dia langsung kembali untuk menghampiri mertuanya tersebut.
__ADS_1
"Nay, ada yang ingin Mama ceritakan kepada kamu. Dan, setelah mendengar cerita ini, Mama harap kamu akan membantu Mama untuk menjaga Rainer."
Kening Nayra berkerut setelah mendengar ucapan sang mertua. Dia masih belum mengerti maksud ucapan mertuanya itu. Saat itu, yang ada dalam pikiran Nayra adalah Rainer memiliki penyakit yang mematikan. Dia membutuhkan perhatian ekstra agar bisa memperpanjang usia.
Seketika pikiran Nayra sudah berkelana kemana-mana. Dia mulai membayangkan bagaimana jika Rainer meninggal nanti, dan dia menjadi janda. Padahal, mereka belum sempat ngapa-ngapain.
Mama Rainer yang melihat reaksi Nayra, langsung menyenggol lengan menantunya tersebut.
"Nay, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya mama Rainer.
Nayra segera mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia menatap wajah mertuanya itu dengan tatapan khawatir.
"A-apa Mas Rain punya penyakit, Ma? Apa usianya sudah tidak lama lagi?"
"Hah?"
•••
__ADS_1
Sabar, Nay. Orang sabar disayang mertua. 🤧