
Nayra langsung membuka email yang dikirimkan oleh Resta. Dia harus mulai memeriksa pekerjaannya yang mulai menumpuk. Bahkan, ponselnya pun tidak lepas dari telinganya sejak beberapa waktu yang lalu.
Beberapa klien penting memang langsung menghubungi Nayra jika ada sesuatu yang ingin disampaikan. Sangat jarang sekali mereka menghubungi Rainer atau tim yang bekerja sama dengan mereka.
Hingga menjelang pukul sebelas siang, Nayra baru menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Dia memang berniat untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu dua hari ke depan.
Persiapan acara resepsi pernikahan yang akan dilakukan pada akhir pekan ini memang tidak terlalu membutuhkan kehadiran Nayra. Dia cukup menyampaikan keinginan yang mendasar saja. Setelahnya, semua persiapan diurusi oleh mama Rainer.
Menjelang jam makan siang, Nayra memesan makan siang untuk dibawakan ke kamarnya. Dia sudah mendapat pesan dari Rainer jika sang suami akan makan siang di kamar.
Nayra membereskan pekerjaannya sebelum makan siang mereka datang. Setelah itu, dia juga langsung membersihkan diri, karena tubuhnya terasa lengket.
Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, pesanan makan siang Nayra sudah datang. Nayra segera membawa makan siang tersebut dan menatanya di atas meja ruang tengah. Namun, aktivitas Nayra tersebut terhenti ketika terdengar suara bel berbunyi.
Nayra menghentikan aktivitasnya sambil menoleh ke arah pintu.
"Apa itu Mas Rain? Kenapa sudah kembali?" gumam Nayra. Setelahnya, dia beranjak menuju pintu untuk membukanya.
__ADS_1
Ceklek.
Nayra cukup terkejut saat melihat kedatangan seseorang. Dan, tentu saja orang tersebut bukanlah Rainer, sang suami.
Regina.
Perempuan yang sedang berdiri di depan pintu kamar hotel Nayra adalah Regina. Setelah dari bandara, Regina meminta managernya untuk mengantarkan menuju hotel tempat Nayra dan Rainer menginap.
"Eh, Mbak?" Nayra menyapa sambil berusaha mengulas senyuman. Entah mengapa pikirannya sekarang menjadi tidak enak.
Regina menatap Nayra dengan tatapan datarnya. Dia memperhatikan penampilan Nayra yang hanya memakai gaun rumahan sederhana berwarna salem. Sebuah dress sepanjang lutut dan berlengan pendek.
Regina masih menatap wajah Nayra dengan tatapan menelisik. Dia langsung melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Nayra.
"Dimana Rainer?" tanya Regina.
Nayra mengerutkan kening. Dia bingung bagaimana Regina bisa mengetahui jika Rainet menginap di kamar itu? batin Nayra. Namun, Nayra buru-buru mengubah ekspresinya.
__ADS_1
"Pak Rain tidak ada, Mbak."
"Bohong! Kamu mau membohongiku?" Regina tidak terima. "Aku ingin bertemu dengan Rainer. Minggir!" Regina langsung menerobos masuk ke dalam kamar sambil mendorong tubuh Nayra untuk menyingkir dari pintu.
Mau tidak mau, Nayra membiarkan Regina memasuki kamar hotel tersebut. Kalaupun dia dilarang, Regina pasti akan semakin kesal. Dan, tidak menutup kemungkinan dia akan mengamuk disana.
"Dimana Rainer?" tanya Regina setelah mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar hotel, dan tidak menemukan keberadaan Rainer.
"Hhhh. Sudah saya bilang Pak Rain tidak ada di sini, Mbak." Nayra berjalan menghampiri Regina. Dia masih bisa melihat wajah kesal Regina yang tengah menatapnya.
Regina berbalik dan menatap tajam ke arah Nayra. Dia terlihat tidak puas dengan jawaban Nayra.
"Sebenarnya, ada hubungan apa antara kamu dan Rainer?"
Nayra mengerutkan kening bingung. Dia cukup penasaran apa yang membuat Regina berpikir jika dirinya memiliki hubungan dengan Rainer. Apa Regina sudah mengetahui jika mereka telah menikah? batin Nayra.
"Kami…,"
__ADS_1
Scroll ya…