Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Mulai Membiasakan Diri


__ADS_3

Setelah makan malam, Rainer langsung memeriksa pekerjaannya, sementara Nayra segera membersihkan meja makan. Tadi, mama Rainer juga sempat menghubungi Nayra jika besok beliau akan menjemputnya untuk mulai mempersiapkan acara resepsi pernikahan.


Menjelang pukul sembilan, Nayra sudah selesai membersihkan meja makan sekaligus dapur. Dia berjalan menghampiri Rainer yang masih berada di dalam ruang kerjanya.


"Mau dibuatkan kopi?" tanya Nayra sambil melongokkan kepala ke dalam ruang kerja tersebut. Dia tidak masuk, namun hanya membuka sedikit lebih lebar pintu ruang kerja yang memang tidak tertutup rapat tersebut.


Rainer mengalihkan pandangan dari layar laptopnya dan menoleh ke arah Nayra. "Iya, boleh."


Nayra segera mengangguk dan berjalan kembali menuju dapur. Dia membuatkan kopi untuk Rainer. Hingga sekitar lima menit kemudian, kopi buatan Nayra sudah jadi. Dia segera membawa kopi tersebut beserta camilan untuk menemani lemburan Rainer.


"Kopinya, Mas. Cemilannya juga," ucap Nayra sambil meletakkan kopi dan cemilan di atas meja kerja Rainer.


"Hhhmmm."


"Aku ke kamar dulu. Jika butuh sesuatu, kamu bisa panggil aku."


"Hhhmmm."


Setelahnya, Nayra segera beranjak menuju kamar. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lupa juga Nayra mengganti bajunya dengan baju tidur. Eits, jangan berpikiran baju tidur yang Nayra pakai adalah baju tidur kurang bahan atau baju tidur jaring ikan. 

__ADS_1


Nayra menggunakan baju tidur yang biasa dipakainya saat di rumah kontrakan. Dan, baju tidur tersebut masih terbilang sangat sopan jika dipakai. Nayra tidak mau memakai baju tidur yang bisa membuat suaminya itu baper. 


Setelah selesai, Nayra segera beranjak menuju tempat tidur. Dia langsung mengambil ponselnya dan mulai memeriksa list pekerjaannya. Nayra kembali meneliti apakah ada pekerjaan yang luput dikerjakannya dalam minggu ini. 


Hal itu selalu dilakukan oleh Nayra setiap hari sebelum tidur. Dan, untuk akhir pekan, dia selalu memeriksa list pekerjaannya agar mengetahui apa-apa saja yang terlewat.


Tak sampai tiga puluh menit kemudian, Nayra sudah meletakkan ponselnya. Entah mengapa kedua kelopak mata Nayra benar-benar lengket malam itu. Nayra sudah sangat mengantuk. Sehingga, tak butuh waktu lama bagi Nayra untuk terlelap.


Menjelang pukul sebelas malam, Rainer sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia segera bergegas menuju kamar untuk beristirahat. Rainer yang melihat Nayra sudah terlelap dengan nyenyak, tidak tega membangunkannya.


Setelah membersihkan diri, Rainer segera ikut bergabung dengan Nayra. Namun, sebelum merebahkan diri, Rainer masih sempat menatap wajah Nayra yang tengah tertidur tersebut.


Dan, setelah itu, Rainer menarik tubub Nayra pelan-pelan ke dalam pelukannya. Rainer sudah bertekat untuk memulai pernikahan ini dengan baik. Jadi, dia juga harus membiasakan diri untuk melakukan hal itu. Bahkan, bisa jadi lebih dari sekedar pelukan.


Keesokan hari, Rainer dan Nayra baru selesai sarapan. Mama Rainer sudah menjemput Nayra untuk menemui pihak WO yang akan menghandle acara resepsi pernikahan Nayra.


"Nanti pulang jam berapa?" tanya Rainer sambil berjalan menghampiri Nayra dan sang mama.


Kening mama Rainer berkerut sambil menoleh ke arah sang putra.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Kamu mau ikut?"


"Ya, nggak begitu juga, Ma. Aku masih ada pekerjaan dengan Felix. Aku hanya tanya." Rainer mencebikkan bibir.


"Cckkk. Bilang saja jika kamu kangen sama Nayra. Ngomong begitu saja kok repot, Rain." Mama Rainer mencebikkan bibir.


Merasa tidak terima, Rainer mendengus kesal sambil menyambar jaketnya. "Siapa yang kangen. Aku sama sekali tidak merasa seperti itu," jawab Rainer tidak terima.


"Alah alasan. Jika kamu tidak kangen, jangan salahkan Mama jika nanti Mama bawa Nayra pergi lagi."


Mendengar ucapan mamanya, sontak saja Rainer langsung membulatkan kedua bola matanya. Seketika Rainer berbalik dan menatap horor ke arah sang mama.


"Apa maksud Mama? Mama mau bawa Nayra pergi kemana? Jangan suka aneh-aneh deh, Ma. Nayra sudah menjadi istriku. Tidak ada yang boleh membawanya pergi tanpa seizinku," ucap Rainer berapi-api.


"Heleh. Bilang saja takut kangen. Gitu saja ngeles Rain."


•••


Kira-kira, si Rainer bakalan kangen nggak nih jika Nayra di bawa pergi lagi oleh sang mama?

__ADS_1


__ADS_2