
Melihat Nayra yang sudah tidak sanggup menapakkan kedua kakinya, Rainer langsung menegakkan tubuhnya. Dia segera menatap wajah Nayra yang sudah benar-benar mupeng tidak karuan.
Secepat kilat, Rainer langsung membopong Nayra menuju tempat tidur berukuran besar yang sudah melambai-lambai sejak tadi.
Rainer merebahkan Nayra di tengah-tengah tempat tidur berukuran king size tersebut. Napas Nayra masih memburu, dengan rambut dan gaun tidurnya yang sudah tidak berbentuk karena ulah Rainer. Bahkan, kedua kaki Nayra pun masih terasa lemas karena sudah dua kali ledakan besar menerpanya.
"Huh huh huh, a-aku capek, Mas." Napas Nayra masih ngos-ngosan.
"Kamu istirahat dulu. Aku ke kamar mandi sebentar. Setelah ini, kita lanjutkan lagi," ucap Rainer sambil buru-buru ke kamar mandi.
Entah apa yang dilakukan Rainer, Nayra sudah tidak terlalu peduli. Dia masih sibuk mengatur napasnya yang masih terasa senin kamis tersebut. Hingga tidak sampai lima menit kemudian, Nayra mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Nayra menoleh, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Rainer sudah menanggalkan semua pakaiannya. Kini, Rainer hanya memakai handuk yang dililitkan pada pinggangnya.
__ADS_1
Kini, tatapan mata Nayra tidak lagi berpusat pada tubuh sang suami. Namun, netra Nayra langsung tertuju pada sebuah tonjolan senapan yang membuat handuk Rainet menggembung di bagian depan.
Bahkan tanpa diperintah, otak Nayra langsung otomatis mulai melakukan pengukuran terhadap benda yang tampak menonjol tersebut.
Astaga! Ke-kenapa itu jadi menggembung besar dan panjang seperti itu? Apa dia tadi memasang sambungan di dalam kamar mandi? Ya Tuhan, jadi ingat botol minuman penyegar dengan kaki bercabang tiga itu, batin Nayra.
Kedua netra Nayra bahkan tidak berkedip saat melihat Rainer berjalan ke arahnya. Tubuh Nayra yang masih terasa lemas pun, hanya mampu tergeletak lemas dengan kepala sedikit mendongak. Bahkan, kedua kaki Nayra pun masih dalam posisi yang, ah sudahlah.
Rainer tang menyadari arah pandangan mata Nayra, justru semakin bersemangat menggoda istrinya tersebut.
Nayra mendadak panik. Dia berusaha menggeser tubuhnya, namun Rainer langsung mencengkram pinggangnya hingga membuat Nayra tidak bisa bergerak.
"Eh, ma-mau apa?" Tatapan mata Nayra masih tertuju pada wajah Rainer.
__ADS_1
"Mau apa? Tentu saja mau melanjutkan yang tadi. Kamu kira aku tidak mau gantian setelah tadi kamu sudah melepaskan lahar sebanyak dua kali? Aku juga mau," ucap Rainer sambil mulai menjalankan aksinya.
Kali ini, kedua tangan Rainer langsung bergerak ke sana kemari. Jangan ditanya apa yang dilakukan oleh tangan tersebut. Meskipun Rainer adalah orang yang sangat ketus dan suka seenaknya sendiri, tapi dia bukan termasuk orang yang suka kasar dan main tangan. Apalagi, terhadap perempuan. 🙄
Meskipun tidak suka main tangan, tapi bukan berarti Rainer tidak ahli dalam memainkan jari. Hal itu terbukti dari Rainer yang sudah terlihat sangat ahli memainkan jarinya. Bahkan, dia sudah cukup mahir bergerilya di lembah berbelukar dan gersang. Tak lupa juga, gua-gua sempit dan gelap, juga sudah dirasakan oleh jari maupun mulutnya. 🙄
Dan, kali ini dengan cepat Rainer langsung melucuti pakaian yang masih menempel pada tubuh Nayra. Dia tidak mau ada yang menghalangi aktivitasnya nanti.
Nayra yang kaget saat Rainer melepaskan jubah gaun tidurnya, langsung memekik tertahan.
"Ma-mas, kok di lepas?"
"Memangnya kenapa? Aku nggak mau ribet ada yang menghalangi tangan dan mulutku nanti."
__ADS_1
Tinggalkan jejak dulu sebelum scroll ya.