
Kedua netra Rainer langsung terbuka setelah mendengar bisikan Nayra. Di kepalanya langsung terisi dengan adegan yang bisa membuatnya full senyum tersebut.
"Aku mandi dulu. Habis dari kantor seharusnya kamu biarkan aku mandi, bukan malah tindih-tindih begini. Kalau kamu mau nanti saja aku berikan sepuasmu," ucap Rainer sambil mendorong bahu Nayra dengan lembut.
Setelahnya, dia langsung ngeloyor pergi menuju kamar mandi. Nayra yang melihat tingkah Rainer, hanya bisa melongo. Dia benar-benar tidak habis pikir jika suaminya akan mengatakan hal seperti itu.
"Dasar semaunya sendiri," gerutu Nayra sambil beranjak menyiapkan baju ganti untuk Rainer.
Setelah semuanya siap, Nayra segera pergi ke dapur. Dia langsung menyiapkan makan malam yang sengaja dipesannya tadi. Entah mengapa Nayra merasa malas untuk memasak. Beruntung Rainer malam ini tidak rewel seperti biasa.
Begitu selesai membersihkan diri, Rainer segera berganti baju dengan baju rumahan yang sudah disiapkan oleh Nayra. Namun, entah mengapa tubuhnya mendadak lemas dan merasa tidak nyaman.
Bukannya segera beranjak menuju ruang makan, Rainer justru kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meskipun perutnya sudah cukup terasa lapar, namun entah mengapa Rainer benar-benar merasa lemas.
__ADS_1
Nayra yang merasa Rainer sudah terlalu lama di dalam kamar, langsung bergegas menyusul suaminya itu.
Ceklek.
Begitu pintu kamar terbuka, Nayra langsung dikejutkan oleh Rainer yang sudah bergelung di dalam selimut. Nayra buru-buru menghampiri Rainer karena khawatir suaminya itu sakit.
"Mas, kamu sakit?" tanya Nayra was-was sambil memeriksa suhu tubuh Rainer. Nayra segera menempelkan punggung tangannya untuk memeriksa apakah sang suami tengah demam.
"Nggak. Aku hanya merasa lemas." Rainer hanya menjawab dengan gumaman. Kedua matanya juga masih terpejam dengan kening berkerut. Entah mengapa tiba-tiba saja perut Rainer merasa mual.
"Aku mual, Nay."
"Eh, aku panggilkan dokter saja, ya. Semalam kamu juga mual-mual begitu, Mas."
__ADS_1
Rainer menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak mau minum obat lagi.
"Aku nggak mau minum obat lagi, Nay. Eneg rasanya membayangkan obat lagi." Perut Rainer terasa diaduk-aduk.
"Nggak apa-apa. Nanti kita minta obat anti mual. Yang penting, kita tahu dulu kamu kenapa, Mas. Aku nggak mau jika kamu sakit nanti semakin menjadi jika tidak ditangani segera," ucap Nayra sambil meraih ponselnya di atas nakas. Nayra tidak mengindahkan penolakan Rainer.
Nayra segera menghubungi dokter keluarga yang sudah biasa memeriksa orang tua Rainer. Rainer benar-benar tidak mau lagi memanggil dokter Sandy yang dulu pernah menangani Rainer. Entah mengapa Rainer selalu merasa kesal jika Nayra bersikap ramah terhadap dokter tersebut.
Tak sampai satu jam kemudian, dokter Arif sudah datang. Beliau adalah dokter senior yang sudah lama menjadi dokter keluarga Rainer. Jadi, bisa dipastikan beliau sudah cukup mengetahui riwayat kesehatan keluarga Rainer. Termasuk Rainer itu sendiri.
"Selamat malam, Rain. Bagaimana luka kamu? Masih sering terasa nyeri?" tanya dokter Arif. Ya, beliau memang mengetahui jika Rainer baru saja mengalami kecelakaan.
"Baik, Dok. Sudah tidak terlalu nyeri. Hanya saja, jika melakukan aktivitas beras masih lumayan terasa nyut-nyutan." Rainer menjawab dengan sesekali membuka kedua matanya. Dia merasa mual jika lama-lama membuka mata.
__ADS_1
"Baiklah. Ini aku periksa dulu tekanan darah kamu."
Setelahnya, dokter Arif melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan. Beliau juga menanyakan beberapa keluhan yang dialami oleh Rainer pasca kecelakaan beberapa waktu yang lalu.