
Sekitar satu jam kemudian, Nayra dan Rainer baru keluar dari kamar mandi. Acara membersihkan diri yang seharusnya bisa dilakukan sekitar lima belas menit, harus terpaksa molor karena tingkah Rainer yang lagi-lagi minta tambahan.
Nayra sudah terlihat sangat kelelahan. Bahkan, hanya untuk mengganti baju saja dia sudah merasa tidak sanggup lagi. Beruntung Rainer cukup peka, sehingga dia langsung mengganti baju tidur Nayra dan membaringkan tubuh sang istri setelah semua aktivitas tersebut selesai dilakukan.
Rainer masih menatap wajah lelah Nayra yang sudah terlelap setelah dia menarik selimut dan memasangkannya. Entah mengapa dia merasakan kelegaan yang susah untuk dijelaskan.
Setelah memastikan Nayra terlelap, Rainer beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil ponsel. Rainer ingin menghubungi Resta dan memintanya mengosongkan jadwal esok hari. Dia ingin menghabiskan hari dengan Nayra di hotel.
Begitu panggilan telepon dengan Resta selesai, Rainer langsung menghubungi Felix. Esok hari, dia juga ingin menikmati hari dengan Nayra.
"Hhhhmmm?" Gumam Felix saat menerima panggilan telepon dari Rainer. Tentu saja saat itu dia sedang terlelap.
"Lix, batalkan meeting online kita besok siang," ucap Rainer begitu panggilan teleponnya terhubung.
"Hah?"
"Hah apa?" Rainer balik bertanya.
"Kenapa tiba-tiba? Lo mau kemana?" tanya Felix dengan suara seraknya.
"Gue ada urusan sama Nayra."
__ADS_1
Terdengar dengkusan Felix dari seberang sana. "Urusan? Urusan apaan? Jangan bilang lo mau nyuruh Nayra nyobain hadiah yang gue berikan kemarin?"
"Cckkkk." Rainer berdecak kesal. "Lo ikhlas nggak sih ngasih hadiah itu?"
"Ikhlas, lah."
"Kalau ikhlas, boleh gue manfaatin, dong?"
"Ya, boleh-boleh aja, sih. Tapi, untuk meeting online besok benar-benar penting, Rain. Kita sudah jadwalkan ini dari dua minggu yang lalu. Apalagi, Mr. Henry benar-benar memiliki jadwal padat." Felix tetap kekeh menolak keinginan Rainer.
Dan, benar saja. Rainer yang memang mengetahui hal itu, menjadi berpikir ulang. Mereka memang sudah menjadwalkan meeting kali ini sejak dua minggu yang lalu.
"Hhmmm, baiklah. Tapi, aku mau langsung online dari sini." Rainer akhirnya menyetujui ucapan Felix untuk tidak membatalkan niatnya mengadakan meeting esok hari.
"Hhmmm."
Setelahnya, panggilan telepon tersebut terputus. Rainer berjalan menuju nakas untuk meletakkan kembali ponselnya. Setelah itu, baru dia beringsut naik ke atas tempat tidur.
Sebelum memejamkan mata, Rainer masih setia menatap wajah sang istri yang sudah terlelap tersebut. Wajah Nayra benar-benar terlihat sangat kelelahan. Rainer merasa sedikit bersalah karena telah membuat Nayra kelelahan.
"Maaf jika aku membuatmu kelelahan," ucap Rainer sambil menyibakkan anak rambut yang menutupi kening Nayra. Setelah itu, Rainer meninggalkan sebuah kecupan di atas sana.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Rainer menyusul Nayra terlelap dengan Nayra yang berada di dalam rengkuhannya.
***
Keesokan pagi, Nayra sudah bangun terlebih dahulu. Wajahnya langsung terasa panas saat mengingat aktivitas yang sudah dilakukannya dengan Rainer semalam.
Saat ini, Nayra sedang menyiapkan sarapan yang baru saja diantar ke kamarnya. Nayra memindahkan sarapan tersebut di balkon yang menghadap timur. Dia ingin menikmati sinar matahari pagi.
Rainer yang sudah siap dengan setelan kerjanya, berjalan menghampiri Nayra. Tanpa aba-aba, Rainer langsung memeluk Nayra dari belakang, serta memberikan sebuah kecupan pada pipi kiri istrinya tersebut. Tentu saja hal itu membuat Nayra kaget.
"Eh, Mas?"
"Hhmmm." Rainer tidak melepaskan pelukannya, dan kini wajahnya sudah menyusup pada ceruk leher Nayra.
"I-ini mau apa? Sarapannya sudah siap." Nayra bergerak-gerak gelisah.
"Sarapan ini boleh?" tanya Rainer sambil menyentuh bagian sensitif Nayra di bawah sana.
"Eehhmmmm, sshhhhh, Maasss."
Mohon maaf, slow up kemarin-kemarin. Othor benar-benar nggak sanggup buat ngetik 🤧🙏
__ADS_1
Mumpung libur, ini di usahakan ngetik biar bisa up.