
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi ini, Nayra sudah mulai di make up sejak pukul enam pagi tadi oleh MUA yang sudah disiapkan oleh mama Rainer. Sejak kemarin sore, Nayra dan Rainer sudah berada di hotel tempat berlangsungnya resepsi pernikahan mereka.
Nayra melirik saat Rainer baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di kamar hotel tempat mereka menginap.
"Mau sarapan sekarang, Mas?" tanya Nayra yang saat itu tengah mendapatkan make up di bagian mata tersebut.
"Sekarang?" Rainer yang saat itu tengah berjalan mendekat ke arah Nayra. Dia sudah mengganti baju dengan kaos putih polos.
"Ya, iya. Ini sudah hampir jam delapan, Mas. Nanti malah nggak sempat sarapan."
"Kamu sudah sarapan?" tanya Rainer sambil menarik sebuah kursi dan meletakkannya tepat di samping kiri Nayra.
Melihat hal itu, Nayra langsung menoleh sambil mengerutkan kening. "Belum. Mau apa?" tanyanya.
"Nggak apa-apa. Mau lihat saja."
__ADS_1
"Ishh. Jangan disini, Mas. Gangguin Mbak Anin make up, ih." Nayra mendengus kesal.
"Nggak akan. Aku kan nggak ngapa-ngapain. Aku hanya duduk diam."
Nayra mencebikkan bibir. Dia hanya bisa mendengus kesal karena tidak bisa meminta Rainer beranjak.
Mbak Anin, perias, yang saat itu sedang merias Nayra pun hanya bisa mengulas senyum. Dia yang sudah cukup mengenal Rainer, sudah tidak terlalu kaget dengan sifat keras kepala dan tukang memaksa Rainer.
"Tidak apa-apa, Mbak Nay. Biarkan saja Mas Rain disini. Wajar dia ingin selalu dekat dengan sang istri," ucap Mbak Anin sambil terkekeh.
"Mama?" sapa Rainer saat melihat sang mama dan seeorang yang tengah mendorong trolley makanan.
"Kamu kok masih belum siap-siap sih, Rain?" tanya mama Rainer sambil berjalan memasuki kamar.
"Nanti juga siap-siap, Ma."
__ADS_1
"Ini sudah jam berapa? Acara kalian jam sepuluh pagi. Lagian, kalian ini dibangunin dari jam lima pagi juga nggak bangun-bangun. Pasti kerjaan kamu kan, Rain?" Mama Rainer mendelik tajam menatap wajah putranya tersebut.
"Cckkk. Kerjaan apa sih, Ma? Aku nggak ngapa-ngapain. Nayra tuh yang kerja giat semalaman. Aku tinggal nikmatin aja," ucap Rainer tanpa dosa.
Mendengar ucapan sang suami, sontak saja Nayra langsung mendelik ke arah Rainer. Wajah yang langsung merona, membuatnya semakin salah tingkah. Apalagi, saat itu ada orang lain yang turut mendengarkan ucapan Rainer.
"Apaan sih, Mas?" Nayra merona sambil menundukkan wajah. Dia tidak berani menatap wajah mama mertuanya.
Terdengar kekehan tawa dari mama Rainer. "Tidak apa-apa, Nay. Rain memang mulutnya suka lemes. Maklum, turunan papanya."
Rainer yang mendengar ucapan sang mama, hanya bisa mendengus kesal. Setelah itu, dia segera menyantap sarapan yang sudah dibawakan oleh mamanya tersebut. Nayra, mau tidak mau juga segera menyantap sarapan yang sudah dibawakan oleh mertuanya itu.
Menjelang pukul 09.40 pagi, semua persiapan Nayra dan Rainer sudah selesai. Mereka sudah bersiap untuk berangkat menuju tempat diadakannya acara resepsi pernikahan mereka. Ya, meski undangan saat itu tidak terlalu banyak, namun acara resepsi pernikahan Rainer dan Nayra tetap digelar dengan maksimal.
Hingga tepat pukul 10.15 pagi, rangkaian acara resepsi sudah dimulai. Hampir semua tamu undangan yang hadir saat itu, cukup terkejut saat melihat pengantin Rainer yang ternyata adalah Nayra, sang sekretaris. Namun, ada beberapa orang yang tampak tidak terkejut dengan hal itu.
__ADS_1
Hhmmm, siapa?