
Rainer hanya bisa mendesahkan napas berat setelah mematikan sambungan telepon tersebut. Dia masih menatap layar ponselnya itu sebelum memasukkan kembali ke dalam saku celananya. Setelahnya, Rainer berjalan menghampiri Nayra yang sedang menuangkan air minum untuk mereka.
Nayra yang melihat kedatangan Rainer, langsung menoleh. Dia merasa biasa-biasa saja saat sang suami menerima panggilan telepon dari wanita lain.
"Eh, sudah teleponnya?" tanya Nayra sambil meletakkan segelas air minum di depan Rainer.
"Hhhmmm."
Nayra tidak terlalu tertarik dengan urusan Rainer dan Regina. Namun, dia sebenarnya cukup penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Dulu, di awal-awal Nayra bekerja di kantor Rainer, Nayra masih sering melihat Regina wira-wiri ke kantor. Namun, saat papa Rainer menyerahkan perusahaan kepada Rainer, Nayra semakin jarang melihat Regina datang ke kantor. Rupanya, Regina sedang meniti karir di luar negeri.
"Besok ke Mama akan kembali ke Indonesia. Sepertinya, mama akan mulai mempersiapkan acara resepsi itu," ucap Rainer di tengah-tengah aktivitas makan malam mereka.
"Iya. Mama juga sudah mengirimkan pesan tadi."
Rainer hanya menganggukkan kepala. Setelah itu, dia kembali melanjutkan makan malamnya.
__ADS_1
Sementara itu, Nayra benar-benar penasaran dengan status pekerjaannya nanti setelah diumumkannya pernikahan antara Rainer dan dirinya. Jika hal itu sudah terjadi, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan banyak gosip di kantor. Dan, tentu saja hal itu akan membuat Nayra tidak nyaman.
"Ehm, Mas. Ada yang ingin aku tanyakan," Nayra mengucapkannya sambil menundukkan kepala. Dia tampak khawatir jika membuat Rainer marah.
"Apa?" Rainer mendongakkan kepala sambil menatap ke arah Nayra. Kedua alisnya hampir bertaut karena rasa penasaran.
"Ehm, nanti setelah acara resepsi pernikahan, orang-orang pasti mengetahui pernikahan kita. Dan, jika hal itu sudah terjadi, bagaimana dengan pekerjaanku di kantor?" Nayra masih ragu-ragu menanyakan hal itu.
"Maksudnya bagaimana? Apa kamu ingin berhenti bekerja?" Rainer rupanya belum mengerti maksud ucapan Nayra.
"Bukan begitu, Mas. Ehm, nanti jika kita sudah mengumumkan pernikahan, sudah pasti seluruh karyawan di kantor akan mengetahui hal itu. Dan, hal itu bisa saja menimbulkan banyak gosip dan spekulasi di antara para karyawan. Jika sudah begitu, bisa dipastikan aku akan sangat tidak nyaman dalam bekerja, Mas."
"Aku belum memikirkan hal itu sebelum ini. Nanti, coba aku diskusikan dengan Papa dulu."
"Iya, Mas. Tapi kalau bisa, aku ingin tetap bekerja meski tidak di kantor Papa. Tidak nyaman rasanya jika hanya berdiam sendiri di rumah dan tidak melakukan aktivitas seperti biasanya."
Kening Rainer berkerut. Dia masih berusaha mencerna ucapan Nayra. Masih mau bekerja meski tidak di kantor papa? Apa Nayra ingin mengundurkan diri? batin Rainer.
__ADS_1
"Apa maksudnya? Apa kamu ingin mengundurkan diri dari kantor? Kamu mau keluar?"
Nayra bingung harus menjawab apa. "Ehm, sebenarnya begini, Mas. Jika aku tetap bekerja di kantor Papa , sedangkan semua karyawan sudah mengetahui statusku, nanti pasti akan menimbulkan suasana yang canggung dan tidak nyaman."
"Mereka yang sudah cukup baik mengenalku, pasti akan menjaga jarak. Dan, tentu saja hal itu tidak nyaman buatku, Mas."
"Lalu, jika kamu mau keluar dari kantor, kamu akan bekerja dimana?"
"Ehm, aku bisa mencari pekerjaan di kantor lain. Masih banyak kan, kantor yang membuka lowongan pekerjaan?" Nayra menjawab sambil menyuapkan nasi kembali ke dalam mulut.
"Tidak boleh. Jika mau pekerjaan, aku akan memberikannya." Rainer menatap wajah Nayra lekat-lekat.
"Benarkah? Apa itu?" Nayra tampak antusias.
"Pekerjaan mengandung anak-anakku."
"Hah?"
__ADS_1
•••
Sepertinya si hujan sudah nggak sabar menunggu seminggu, nih. 🤭