Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Menikmati Makan Siang


__ADS_3

Felix masih menatap bayi laki-laki yang terlelap di atas pangkuannya tersebut. Samar-samar, dia bisa melihat wajah masa kecilnya pada wajah bayi itu. Ingatannya pada foto masa kecilnya, seketika tergambar dengan nyata di depannya tersebut.


Felix mendesahkan napas beratnya. Kalaupun benar bayi itu adalah anak biologisnya, Felix benar-benar tidak mengingat kapan dia membuat bayi itu. 


"Ini beneran anak gue bukan, sih? Jika iya, kapan gue buatnya?" Felix masih bergumam.


Hingga beberapa saat kemudian, Felix bergegas untuk pulang. Dia memang tidak membawa mobil hari itu. Tidak akan mungkin bagi Felix menyetir sedangkan ada bayi yang berusia sekitar tiga bulan bersamanya.


Setelah taksi pesanannya datang, Felix bergegas untuk kembali ke apartemen. Hari ini, Felix sudah meminta izin kepada Rainer untuk tidak pergi ke kantor. Sedangkan untuk besok? Entahlah. Felix masih belum bisa memikirkannya.


🌴


Sementara di kantor Rainer, dia langsung bergegas menuju ruangannya. Saat itu, adalah jam makan siang. Hampir seluruh karyawan kantor Rainer sedang makan siang. 


Rainer hanya membalas dengan anggukan saat mendapat sapaan dari para karyawan yang kebetulan sedang berpapasan dengannya. 

__ADS_1


Hingga setelah keluar dari lift, Rainer langsung bergegas menuju ruangannya. Dari kejauhan, Rainer melihat Resta yang sedang berjalan keluar dari ruangannya yang berada di seberang ruangan Nayra. Kedatangan Rainer tersebut, tentu saja membuat Resta terkejut. Dia buru-buru berjalan dengan cepat untuk menghampiri atasannya tersebut.


"Selamat siang, Pak." Resta menyapa sambil berjalan mengekori Rainer.


"Hhhmmm."


"Bapak sudah makan siang? Atau, mau saya pesankan?" Resta langsung menawarkan. Biasanya, jika bukan Nayra, Resta lah yang selalu mengurusi makan siang Rainer.


"Nayra sudah menyiapkan makan siangku."


"Oh, baiklah. Kalau begitu, saya permisi makan siang dulu, Pak."


Rainer bahkan tidak perlu bersusah payah untuk menjawab ucapan Resta. Dia tetap melangkahkan kakinya menuju ruangan Nayra. Lho, kok ruangan Nayra? Ya, Rainer mengetahui jika istrinya tersebut pasti sedang berada di ruangannya jika dirinya tidak ada di kantor.


"Makan siangku sudah siap?" tanya Rainer tiba-tiba. Bukannya menyapa atau bagaimana, Rainer justru langsung menagih makan siangnya.

__ADS_1


Nayra yang saat itu tengah streaming drakor sambil menikmati seblak, langsung menoleh ke arah Rainer. Dia cukup terkejut saat mendapati sang suami sudah berada di depannya.


"Lho, Mas? Kok sudah datang? Aku kira masih lama," ucap Nayra sambil bergegas berdiri.


"Aku kan sudah bilang langsung balik kantor tadi. Mana makan siangku? Lapar." 


Nayra mendesahkan napas beratnya. Dia meninggalkan seblaknya yang masih tersisa beberapa suap lagi dan segera berjalan memasuki ruangan Rainer. Melihat hal itu, Rainer langsung mengekori langkah kaki Nayra. Entah mengapa dia sudah tidak sabar untuk menyantap makan siang pesanannya.


Sambil menunggu Nayra menyiapkan makan siang, Rainer langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hingga beberapa saat kemudian, Rainer sudah selesai. Dia segera menghampiri Nayra yang sedang menatap makan siangnya di atas meja.


"Hhmmm, sepertinya enak," gumam Rainer dengan tatapan berkilat-kilat.


Mendengar ucapan suaminya tersebut, Nayra hanya mencebikkan bibir. Namun, Nayra segera menyerahkan sendok keoada Rainer.


Tanoa menunggu lebih lama lagi, Rainer langsung menyantap makan siangnya tersebut. Begitu merasakan suapan pertama, kedua netra Rainer bahkan langsung terpejam untuk menikmati santapan siangnya tersebut. Entah mengapa sekarang Rainer jadi suka makanan pedas.

__ADS_1


Melihat hal itu, Nayra hanya bisa menggelengkan kepala. Dia segera menuangkan air minum untuk Rainer.


Sebelum scroll, tinggalkan jejak dulu, ya. Terima kasih. 🤗


__ADS_2