
Rainer terus memaksa Nayra untuk menuntaskan apa yang sudah dimulainya. Salah sendiri Nayra sudah berani menggoda Rainer. Namun, Nayra sadar jika tidak akan mungkin bagi mereka untuk melakukan hal yang lebih dari apa yang sudah mereka lakukan tadi.
"Sshhhh, Nay. A-aku ehhmmmm."
Rainer mulai meracau. Dia hanya bisa merem melek saat tangan Nayra dengan semangat empat limanya bergerak naik turun di bawah sana. Bahkan kini, kedua kaki Rainer sudah terbentang dari Sabang hingga Merauke untuk memudahkan akses Nayra.
Tak sampai situ saja, Nayra langsung memberikan llumatan pada bibir Rainer yang masih mendesis nikmat tersebut. Tangan kiri Rainer yang bebas, langsung mencari-cari jelly alami Nayra.
Nayra yang merasa Rainer masih belum puas, kini mulai menggunakan cara yang lain untuk berusaha memuaskan sang suami. Nayra berpikir, apa yang dilakukannya sebagai bentuk permintaan maafnya kepada Rainer atas sikapnya kemarin.
"Sshhhh, ja-jangan sampai kena gi-giggih, ouuhhh. Eehmmmm."
Nayra yang mendengar ucapan Rainer, segera menegakkan tubuhnya. Dia bisa merasakan jika akan ada ledakan lahar putih yang akan terjadi sebentar lagi. Kini, tangan Nayra sudah mulai aktif kembali bergerak atas bawah atas bawah hingga capek.
Dan, benar saja. Tak berapa lama kemudian, terjadi ledakan yang membuat tubuh Rainer lemas seketika. Nayra bisa mendengar napas memburu Rainer saat masih lemas tersebut.
Setelah memastikan sang suami sudah selesai, Nayra segera membersihkan sisa-sisa ledakan lahar tersebut. Dia juga mengganti celana tidur Rainer yang tadi sempat terkena lelehan lahar.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Nayra sudah selesai membersihkan diri. Dia juga sudah nampak segar setelah keluar dari kamar mandi. Nayra berjalan menghampiri Rainer sambil mengikat rambutnya asal.
Rainer masih menatap wajah Nayra dengan tatapan tak terbaca. Sementara itu, Nayra masih tetap mengulas senyumannya saat menghampiri sisi brankar sebelah kiri Rainer.
__ADS_1
"Apa masih ada yang kamu butuhkan, Mas?" tanya Nayra sambil memeriksa infus Rainer yang memang baru saja diganti.
"Nggak." Rainer menjawab sambil menggelengkan kepala. Tatapan matanya masih menatap wajah Nayra dalam-dalam.
"Yasudah, sekarang kamu istirahat dulu. Aku bantu rebahan."
"Tunggu!" Rainer mencegah tangan Nayra saat hendak membantu merebahkan tubuhnya.
Kening Nayra berkerut saat menatap wajah suaminya tersebut.
"Ada apa? Apa ada yang kamu inginkan, Mas?"
Rainer masih menelisik kedua netra Nayra.
Nayra mengulas sedikit senyumannya sambil menangkup kedua pipi Rainer dengan kedua tangannya. Dia meninggalkan sebuah kecupan singkat pada bibir Rainer.
"Kenapa? Kamu nggak suka jika aku agresif seperti tadi, Mas? Kamu bilang aku harus lebih aktif. Kamu nggak mau jika aku hanya diam pasif. Katanya jadi seperti tempe goreng dibolak balik saja."
Rainer mencebikkan bibir disertai dengan lirikan kesalnya.
"Ya, maksudku bukan seperti itu juga, Nay."
__ADS_1
"Ssttt." Nayra menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Rainer. "Mulai sekarang, aku akan berusaha buat kamu senang, Mas. Aku nggak mau menahan apapun yang aku rasakan. Akan ku sampaikan apa yang aku rasakan dan aku inginkan."
Nayra menatap wajah suaminya dengan kedua mata berkaca-kaca. Entah mengapa ingatannya kembali saat kemarin Rainer tengah menjalani operasi. Hatinya benar-benar kacau saat itu. Nayra benar-benar takut tidak bisa menyampaikan apa yang dirasakannya kepada Rainer. Dan, Nayra tidak ingin mengulanginya lagi.
Rainer menatap wajah Nayra yang pipinya mulai basah karena air mata yang sudah mulai jatuh. Dia mengangkat tangan kirinya untuk mengusap air mata tersebut.
"Kenapa jadi menangis lagi."
Nayra menggeleng pelan sebelum mendekatkan wajahnya dan meninggalkan kecupan di bibir Rainer. Dia tersenyum manis sambil mengusap pipi Rainer.
"Aku mencintaimu, Mas."
***
Keesokan pagi, kamar Rainer sudah berisik. Sejak pukul enam pagi, Resta sudah ada disana untuk meminta tanda tangan Rainer. Tak berselang lama, Felix pun juga datang dengan tergesa-gesa. Dia baru saja datang dari Sidney mewakili Rainer untuk menghadiri pertemuan.
Felix yang baru kemarin sore mendapat kabar kecelakaan Rainer, langsung bergegas kembali ke Indonesia setelah pekerjaannya selesai. Dia juga sudah mendapatkan hasil tes DNA yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu.
"Jadi, hasil tesnya sudah keluar?" tanya Rainer.
Felix menganggukkan kepala. "Iya. Dan ternyata, dugaanku benar."
__ADS_1
"Eh,"
Maaf ya, masih nyambung sama Felix ceritanya.