
Keesokan pagi, Nayra terbangun lebih dulu. Dia baru membangunkan Rainer setelah aktivitasnya selesai.
Seperti biasa, awalnya Rainer enggan bangun. Namun, entah mengapa tiba-tiba dia teringat gumaman Nayra semalam. Rainer langsung membuka mata dan menatap manik Nayra yang saat itu masih duduk di sampingnya. Entah mengapa mendadak Rainer jadi salah tingkah.
Rainer tiba-tiba langsung duduk. Setelah itu, dia buru-buru berdiri dari beranjak menuju kamar mandi. Nayra yang melihat tingkah suaminya itu langsung mengernyitkan kening.
"Ada apa dengan Mas Rain?" gumam Nayra. "Sepertinya dia semalam memimpikan sesuatu," lanjut Nayra.
Setelah itu, Nayra segera menyiapkan sarapan. Hari itu, Nayra dan Rainer akan berangkat ke kantor bersama-sama. Mereka akan mengadakan meeting pada jam sembilan pagi.
Saat sarapan, Rainer tampak biasa saja. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nayra. Nayra sama sekali tidak menyadari gumamannya semalam. Sementara Rainer, dia juga masih sesekali mencuri-curi pandang terhadap Nayra.
Hingga saatnya mereka berangkat ke kantor, obrolan seperti biasa menemani perjalanan keduanya menuju kantor. Bahkan, setelah Rainer dan Nayra tiba, mereka langsung berkutat dengan beberapa pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
***
__ADS_1
Sementara di tempat Felix, dia sudah siap dengan baju kerjanya. Felix hendak sarapan, namun Citra memintanya menggendong Finn yang cukup rewel sejak bangun tadi. Citra harus menuntaskan hajatnya sebentar sehingga dia menitipkan Finn kepada Felix.
"Uuhhh, anak papa. Kenapa rewel terus, sih. Mau apa, hhmmm?" ucap Felix sambil berjalan kesana kemari untuk membuat nyaman Finn. Bayi laki-laki tersebut tampak sedikit-sedikit merengek.
Tak berapa lama kemudian, Citra terlihat keluar dari kamar mandi. Dia buru-buru mengambil alih Finn dari gendongan Felix.
"Sini, Om. Biar aku yang gendong Finn. Om sarapan saja. Aku hanya sempat membuat nasi goreng," ucap Citra.
Sebenarnya, Felix melarang Citra memasak makanan untuknya. Felix hanya meminta Citra menjaga dan mengasuh Finn saja. Namun, Citra tetap membuatkan makanan untuk Felix jika dia sempat. Toh, laki-laki itu juga tidak terlalu rewel dalam hal makanan.
Hingga tak berapa lama kemudian, Felix pun menyelesaikan sarapannya. Dia berjalan ke arah pintu yang menuju balkon untuk berpamitan. Namun, Felix tetap berdiri agak jauh untuk memberikan privasi kepada Citra. Dia tidak ingin Citra merasa tidak nyaman meskipun sebenarnya dia ingin melihat, ah sudahlah.
"Cit, aku berangkat ke kantor dulu, ya. Titip Finn. Jika ada apa-apa, segera hubungi nomorku," ucap Felix.
Citra segera menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Iya, Om. Hati-hati."
Felix pun mengangguk dan segera berangkat. Hari ini, dia ada janji untuk menemui seseorang yang akan membangunya menyelidiki Finn. Orang tersebut adalah orang suruhan papanya Rainer.
Hingga menjelang makan siang, Felix sudah bersiap-siap menuju sebuah kafe tempat dijanjikannya pertemuan dengan orang suruhan papanya Rainer. Felix benar-benar berharap orang tersebut mampu menemukan kebenaran yang tidak akan membuatnya galau lagi.
Setelah sekitar dua puluh menit menunggu, orang yang ditunggu-tunggu oleh Felix datang. Felix segera menyambut kedatangan orang tersebut sambil mengulurkan tangan.
"Anda Pak Felix?" sapa orang tersebut sambil menjabat tangan Felix.
"Benar. Anda Pak Farhan?" balas Felix.
"Benar, saya Farhan. Saya diutus Mas Rain untuk menemui Anda."
Felix mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia mempersilahkan Farhan untuk duduk.
__ADS_1