Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Turun Tangan


__ADS_3

Felix masih terdiam terpaku meski Citra sudah kembali sibuk memilih beberapa pernak pernik Finn. Felix mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk menyadarkan diri dengan apa yang baru saja terjadi.


"Tadi dia memanggilku 'sayang', kan?" gumam Felix sambil masih menatap ke arah Citra yang sedang berjalan kesana kemari.


Lamunan Felix tersadar saat mendengar rengekan Finn karena mainan nya jatuh. Buru-buru Felix mengambilkan mainan Finn dan mendorong trolley untuk mencari keberadaan Citra yang baru saja berbelok ke rak sebelah. Belum sampai Felix berbelok ke tempat Citra, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara percakapan. Felix menghentikan langkah kakinya tepat di ujung rak dan masih menghalangi pandangan orang-orang yang sedang mengobrol tersebut.


"Waahhh, putranya sudah lima bulan berarti, ya? Putriku baru dua bulan ini," ucap sebuah suara.


"Iya, Bu. Usia segitu sedang gemas-gemasnya."


Felix mengenali dengan jelas jika suara tersebut adalah milik Citra.

__ADS_1


"Benar sekali. Selalu saja ada tingkahnya yang membuat kakak-kakaknya betah berlama-lama bermain dengannya."


Felix mengerutkan kening. Dia baru menyadari pola aktivitasnya selama ini setelah mendengar ucapan perempuan tersebut. Ternyata, Felix selama ini tidak terlalu menyadari mengapa dia bisa pulang tepat waktu dan tidak tertarik dengan aktivitas di dunia malam seperti sebelum adanya Finn. Padahal, Felix yang dulu sangat betah sekali keluar malam. Bahkan, hal itu dilakukan langsung setelah pulang dari kantor.


Felix masih mendengar obrolan lain tentang jenis pakaian, popok, bahkan perkara asi. Mendengar obrolan kedua wanita tentang asi tersebut, langsung membuat Felix bersemangat. 


"Beruntung sekali asinya lancar, Mbak. Atau mungkin karena masih muda, ya. Saya usia tiga puluh delapan tahun kenapa sedikit sekali asinya. Bahkan, beberapa kali tidak keluar. Beda sekali saat anakku yang pertama dan kedua. Asiku lancar-lancar saja."


"Sepertinya memang begitu. Dulu, saat kehamilan anak pertama dan kedua, saya ditemani suami hingga anak-anak usia dua tahun pun suami ikut menemani. Tapi saat hamil anak ketiga ini, suami saya bertugas di Kalimantan. Jadi, saya sama sekali tidak ditemani hingga sekarang. Suami saya selesai bertugas sekitar satu tahun lagi."


"Masih lama ya, Bu. Apa suami ibu tidak kangen anak-anaknya?"

__ADS_1


"Ya, pastilah. Ini tadi saya tinggal sedang video call an sama anak-anak di rumah. Ibu mertua saya yang jaga anak-anak di rumah."


Citra manggut-manggut sambil melanjutkan memilih celana pendek untuk Finn. Setelahnya, obrolan ringan kembali dilakukan. Felix yang sudah cukup lama menunggu, akhirnya memutuskan untuk menemui Citra dan si ibu tadi. Kedua wanita tersebut langsung menoleh saat mendengar celotehan Finn. 


"Sayang, sudah selesai pilih bajunya Finn?" tanya Felix yang langsung memeluk pinggang Citra.


Mendapati perlakuan Felux yang tiba-tiba tersebut, sontak saja membuat Citra melotot karena kaget. Namun, beda halnya dengan si ibu yang sejak tadi mengobrol dengan Citra.


"Oh, ini suaminya ya, Mbak? Waahh, masih sama-sama muda. Pantesan asinya mengalir deras, lha wong papanya pasti semangat empat lima membantu memompa asi. Hihihi," ucap si ibu sambil terkekeh.


Wajah Citra jangan ditanya lagi bagaimana merahnya. Dia benar-benar malu dan kikuk di hadapan si ibu. Namun, hal berbeda justru dilakukan oleh Felix.

__ADS_1


"Tentu saja, Bu. Saya kan juga tidak mau jika anak kami kekurangan sumber makanannya. Kalau mampet, saya pasti akan turun tangan dan mulut sekalian biar tidak jadi mampet."


__ADS_2