
Mama Rainer masih menunggu dengan gelisah di depan pintu kamar mandi. Rasanya, mama Rainer sudah tidak sabar menunggu hasil test Nayra.
Sementara di dalam kamar mandi, Nayra sudah memeriksa keenam alat tes kehamilan tersebut setelah membaca petunjuk pada bungkusnya masing-masing. Kini, dia tinggal menunggu hasilnya keluar.
Dari keenam alat tes kehamilan yang dicoba oleh Nayra, rupanya memunculkan hasilnya hampir bersamaan. Kedua bola mata dan mulut Nayra langsung terbuka dengan lebar saat mengetahui hasil dari alat tes kehamilan tersebut.
"Po-positif? A-apa aku hamil?" Nayra terpekik kaget. Dia benar-benar terkejut dengan hasil yang ditunjukkan oleh keenam alat tes kehamilan tersebut. Dan, dari keenam alat itu, semuanya menunjukkan hasil positif.
Mama Rainer yang sudah cukup lama menunggu di depan kamar mandi, semakin tidak sabar. Beliau segera mengetuk pintu kamar mandi dan meminta Nayra segera keluar.
"Nay, sudah apa belum? Kenapa lama sekali, Sayang?"
Nayra yang tersadar pun langsung buru-buru mengambil alat tes kehamilan tersebut.
"Iya, Ma. Ini sudah selesai, kok."
Setelahnya, Nayra langsung membuka pintu kamar mandi. Dia mendapati sang mama mertua menyambutnya dengan ekspresi penuh harap.
"Bagaimana hasilnya, Nay?" tanya mama Rainer yang langsung tidak sabar mengetahui hasil tes Nayra.
"I-ini, Ma." Nayra segera memberikan keenam alat tes tersebut kepada mama Rainer.
Mama Rainer yang menerima alat tes kehamilan tersebut, langsung memeriksa hasilnya. Kedua bola mata dan mulutnya langsung terbuka dengan lebar. Setelahnya, diikuti oleh pekikan bahagia.
"Nay, kamu hamil, Sayang! Kamu hamil! Alhamdulillah!" Mama Rainer berteriak-teriak heboh sambil memeluk Nayra dengan erat.
__ADS_1
Tak lupa juga mama Rainer memberikan kecupan di kedua pipi dan kening Nayra. Sebuah pelukan hangat juga langsung diberikan oleh mama Rainer pada menantu satu-satunya tersebut.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan di keluarga ini. Semoga kehamilan kamu ini lancar dan sehat-sehat selalu," ucap mama Rainer dengan linangan air mata haru.
"Iya, Ma. Aamiin." Nayra membalas pelukan mama Rainer dengan lembut.
"Nanti, kita periksa ke dokter, ya. Mama penasaran usia kandungan kamu sudah berapa minggu."
Mama melepaskan pelukannya dan mengajak Nayra berjalan menuju ruang tengah. Nayra hanya bisa menuruti permintaan mama mertuanya itu.
"Iya, Ma."
"Kok bisa sih kamu nggak nyadar jika isi, Nay?"
"Ah, iya benar. Kemungkinan karena itu. Kemarin, kita sama-sama sibuk ngurusin Rain." Mama mengangguk-anggukkan kepala. Dia juga bisa mengertikan keadaan Nayra saat itu yang cukup sibuk dengan kesehatan Rainer.
Mama masih setia dengan mengusap-usap perut Nayra. Rasanya, mama sudah tidak sabar menunggu cucunya segera launching. Nayra juga bisa melihat kebahagiaan yang terpancar pada wajah mama Rainer. Dia benar-benar merasa sangat bahagia memiliki keluarga seperti mereka.
"Nanti mama antar ke dokter untuk periksa. Ah, mama lupa memberitahu papanya Rainer. Sebentar, mama telepon papa dulu," ucap mama Rainer sambil beranjak menuju balkon.
Nayra menatap sang mertua yang sedang membuka pintu balkon tersebut. Keadaan pada pukul 04.40 subuh tersebut, membuat udara masih cukup dingin. Nayra membiarkan mama menelpon, sementara dirinya beranjak menuju kamar tidur untuk membangunkan Rainer.
Ceklek.
Nayra membuka pintu kamar dan mendapati Rainer yang masih bergelung di dalam selimut. Nayra berjalan mendekat ke samping Rainer dan mencondongkan wajahnya hingga berada di atas pipi kanan Rainer.
__ADS_1
Cup cup cup.
Nayra memberikan beberapa kecupan pada pipi Rainer. Tak lupa juga sebuah kecupan basah hingga menimbulkan suara diberikan Nayra untuk membangunkan sang suami.
Eeuughhhh.
Rainer menggeliat namun masih enggan membuka kedua matanya. Nayra yang sudah cukup hafal dengan tingkah Rainer mencoba kembali untuk membangunkannya. Dia menarik tangan Rainer dan membawanya pada perutnya. Setelah itu, Nayra membuat gerakan seperti mengusap-usap di atas perut.
Nayra sedikit membungkuk di atas telinga Rainer dan menggigit pelan daun telinga suaminya itu. Merasa terusik, Rainer hanya bisa protes sambil mendesis kesal.
"Nay," geram Rainer.
"Daddy, ayo bangun. Mau ketemu aku, nggak?" bisik Nayra dengan suara seperti anak kecil.
Sontak saja bisikan Nayra tersebut membuat Rainer kaget dan membuka kedua matanya. Belum sempat Rainer bertanya, Nayra sudah sedikit menekan tangan Rainer pada perutnya dan dia juga langsung membungkam Rainer dengan sebuah ciiuaman.
"Eehhmmmmn. Eehhmmmm."
Tidak lama, tapi cukup membuat Rainer nagih. Nayra segera melepaskan pagutannya begitu merasakan lidah Rainer mulai aktif bekerja. Belum sempat Rainer protes, Nayra sudah lebih dulu mengecup bibir Rainer sekilas sambil tersenyum hangat.
"I love you, Mas. I love you so much."
Kira-kira apa yang dilakukan Rainer?
Kasih jawaban di komen ya.
__ADS_1