Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Mencari Solusi


__ADS_3

Nayra sempat kesal dengan segala tingkah Rainer yang berhasil membuatnya seperti perempuan penggoda. Eh, tapi Rainer suaminya kan, ya? Jadi, tidak apa-apa kan menggoda suami sendiri, batin Nayra.


Dengan gerakan terburu-buru, Nayra langsung melepaskan ikat pinggang Rainer. Setelah itu, Nayra mulai melucuti penutup bawah sang suami. 


Tiuunngg.


Begitu celana Rainer sudah terlepas, Nayra sudah disuguhkan dengan senjata andalan Rainer yang sudah berdiri tegak sambil melambai-lambai. Nayra langsung mendongakkan kepala untuk menatap wajah Rainer.


Dan, benar saja. Sangat jelas sekali jika wajah Rainer sudah benar-benar mupeng. Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat sambil sedikit menggoda kepala bawah Rainer.


"Kalau sudah mupeng, nggak usah sok-sokan nggak tertarik. Wajah kamu nggak mempan di bohongi, Mas," cibir Nayra.


Belum sempat Rainer menjawab ucapan Nayra, Rainer sudah merasakan tarikan tangan Nayra pada senjata tempur miliknya dan menuntunnya menuju kamar mandi. Eh, mau apa? Tentu saja mau mandi kan ya, orang mau ke kamar mandi memang mau apa lagi. 🤧


Acara mandi tersebut berlangsung hingga hampir satu jam lamanya. Entah apa yang mereka bersihkan hingga membutuhkan waktu selama itu untuk membersihkan diri.


Malam itu, Rainer dan Nayra sudah memesan makan malam. Mereka enggan makan malam di luar. Namun, ketika menunggu makan malam mereka datang, tiba-tiba ponsel Rainer berbunyi. Rainer yang saat itu tengah duduk di meja kerjanya, langsung menyambungkan panggilan telepon tersebut.


"Hallo," sapa Rainer begitu panggilan tersebut terhubung.


"...."

__ADS_1


"Hah? Serius?!" Rainer tampak kaget. Dia bahkan langsung berdiri dari duduknya.


"...."


"Baiklah. Aku akan segera kesana," ucap Rainer setelah mendengar informasi dari seberang sana.


Setelah memastikan sesuatu, Rainer mengakhiri panggilan telepon tersebut. Rainer langsung berjalan menghampiri Nayra yang sedang ada di dapur.


"Nay, aku keluar dulu," ucap Rainer saat sudah ada di belakang tubuh Nayra.


Seketika Nayra yang sedang mencuci gelas tersebut langsung menoleh.


"Baru saja Refan menelpon. Dia ingin bertemu untuk membahas masalah perusahaan," jawab Rainer.


Kening Nayra berkerut. Dia masih bingung mengapa Refan, sekretaris papa mertuanya yang menghubungi Rainer? Mengapa bukan papa sendiri yang menghubungi Rainer? Batin Nayra.


"Om Refan? Kenapa om Refan yang menghubungi kamu, Mas? Papa dimana?"


"Papa ada. Tadi juga ngomong jika menungguku di rumah. Saat ini, mereka sedang dalam perjalanan pulang dari bandara."


Nayra mengangguk-anggukkan kepala. Nayra juga tahu jika mertuanya tersebut langsung terbang kembali ke Jakarta setelah mendengar kabar yang menimpa perusahaan. Jika sudah seperti itu, Nayra tidak akan bisa membantah lagi.

__ADS_1


"Mau aku temani, Mas? Aku bisa menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat klarifikasi," tawar Nayra.


Rainer tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengiyakan usulan Nayra. Walau bagaimanapun juga, Rainer pasti akan membutuhkan bantuan Nayra nanti.


"Baiklah. Segera ganti baju," jawab Rainer.


Nayra segera menganggukkan kepala dan berjalan menuju kamar untuk berganti baju. Bukan pakaian formal, tapi setidaknya dia tidak memakai baju rumahan seperti saat itu.


Tak sampai lima belas menit kemudian, Rainer dan Nayra langsung berangkat menuju rumah utama. Rainer tidak terlalu buru-buru mengendarai mobilnya, karena tahu jika orang tuanya masih dalam perjalanan dari bandara.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rainer ternyata tiba lebih dulu di rumah utama. Baru sekitar lima belas menit kemudian, orang tuanya tiba.


Nayra langsung memeluk mama mertuanya dengan erat. Tak lupa juga dia menyapa papa Rainer yang sudah hampir dua minggu tidak bertemu.


"Kalian malam ini tidur disini saja. Ada banyak hal yang harus kita bahas malam ini," ucap papa Rainer.


"Baik, Pa." Nayra dan Rainer menjawab dengan kompak.


Dan, benar saja. Sepanjang malam mereka membahas dan menganalisis segala sesuatu yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan di perusahaan. Tak jarang juga mereka harus menghubungi beberapa pihak terkait.


Hingga menjelang pukul dua dini hari, mereka baru menyelesaikan pembahasan. Papa Rainer lebih dulu meninggalkan ruang tengah. Sementara Nayra masih berkutat dengan beberapa berkas. Resta juga ikut bergabung dengan mereka melalui panggilan video.

__ADS_1


__ADS_2