
Obrolan unfaedah antara Rainer dan Nayra pun terhenti saat Felix tiba-tiba menghubungi Rainer. Felix memberitahukan jika ada beberapa masalah di kantor Rainer sendiri. Mau tidak mau, Rainer akhirnya berangkat ke kantornya.
Gagal sudah acara honeymoon singkat yang direncanakan oleh Rainer. Entah honeymoon model apa yang akan dilakukannya hari itu.
Nayra yang kini ditinggal kembali oleh Rainer, langsung membereskan meja makan. Dia juga mulai membersihkan ruang tamu dan ruang tengah penthouse Rainer. Setelah itu, Nayra bergegas menuju kamar Rainer. Dia ingin memeriksa walk in closet Rainer yang biasanya berantakan.
Namun, langkah kaki Nayra terhenti saat hendak memasuki walk in closet. Dia mendengar seseorang memencet bel penthouse tersebut. Nayra segera berbalik dan berjalan untuk melihat siapa yang bertamu sore itu.
Kening Nayra berkerut saat mendapati seorang perempuan berdiri di depan pintu penthouse tersebut. Merasa sudah tidak terlalu asing dengan perempuan tersebut, Nayra bergegas membuka pintu.
Ceklek.
Nayra langsung mengulas senyuman dan membuka pintu lebar-lebar.
"Mbak Regina. Selamat sore. Apa kabar, Mbak?" sapa Nayra.
"Kok kamu ada di sini?" Bukannya menjawab sapaan Nayra, perempuan tersebut justru balik bertanya.
__ADS_1
"Ya, biasalah, Mbak." Nayra masih tidak melunturkan senyumannya. "Mari, silahkan masuk, Mbak." Nayra langsung bergeser dan memberikan jalan kepada tamu perempuan tersebut.
Tanpa merasa malu dan sungkan, perempuan tersebut langsung melangkahkan kaki memasuki penthouse Rainer. Seperti biasa, kedua netranya langsung memindai penthouse tersebut.
"Silahkan duduk, Mbak." Nayra langsung memerintahkan tamu perempuannya tersebut untuk duduk di ruang tengah.
Namun, alih-alih melakukan apa yang diucapkan oleh Nayra, tamu perempuan tersebut justru berbalik dan menatap wajah Nayra dengan tatapan tidak sukanya.
"Cckkk. Seenaknya saja kamu menyuruhku duduk. Kamu pikir ini rumahmu?!"
Bukannya takut, Nayra hanya mengedikkan bahu sambil ngeloyor pergi ke dapur. Nayra terlihat tidak peduli dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Heh! Seenaknya saja kamu mengabaikanku? Kamu tahu siapa aku sebenarnya, kan?!" Perempuan tersebut menatap tajam ke arah Nayra yang saat itu sedang mengambil gelas untuknya.
Nayra menoleh sekilas dan menyunggingkan senyuman tipis.
"Tentu saja saya tahu siapa Mbak. Mbak Regina Salim, kan? Sepupu Pak Rain." Nayra menjawab sambil menuangkan jus jeruk instan ke dalam gelas.
__ADS_1
"Jika sudah tahu, seharusnya kamu bisa jauh lebih sopan kepadaku!" ucap Regina.
Ya, perempuan tersebut adalah Regina Salim, sepupu dari Rainer. Regina hanya terpaut usia dua tahun lebih muda dari Rainer. Sebenarnya, Regina sudah cukup sering mampir ke kantor ataupun ke rumah Rainer.
Namun, sejak sekitar tujuh tahun yang lalu, Regina pindah ke Singapura untuk menjadi model di sana. Sejak saat itu, intensitas pertemuan Regina dan Rainer sudah semakin jarang. Hal itu disebabkan karena pekerjaan Regina yang cukup padat.
"Ini saya juga sudah sopan, Mbak. Saya ambilkan minum lho. Jika saya tidak sopan, sudah pasti minuman ini tidak akan saya taruh gelas, tapi akan langsung saya…," belum sempat Nayra melanjutkan ucapannya, Regina langsung menyahuti ucapan Nayra.
"Apa? Kamu mau apa? Mau menyiramkan jus itu, iya?" wajah Regina langsung berapi-api.
Nayra langsung mencebikkan bibir. "Mbak Regina ngomong apa, sih? Saya kan belum selesai. Maksudnya tadi, jika saya tidak sopan, saya pasti akan langsung memberikan jus ini langsung dari botolnya. Tapi, tidak saya lakukan, kan?" Nayra masih bersikap santai.
Regina yang mendengar jawaban Nayra langsung mendengus kesal. Setelah itu, dia langsung beranjak berlalu meninggalkan dapur tanpa berkata-kata.
Cckkk. Dasar. Perempuan jadi-jadian kenapa harus kesini lagi, sih?
•••
__ADS_1
Mohon maaf up masih belum rutin, ya. 🙏