Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Ingin Cepat Pulang


__ADS_3

Nayra cukup terkejut saat bertemu dengan Aaron di minimarket tersebut. Entah mengapa perasaan tidak enak langsung dirasakan oleh Nayra. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Aaron saat acara pesta tempo hari.


Bahkan, Nayra juga tidak sempat memberikan kabar karena ponselnya langsung disita begitu saja. Kini, Nayra bingung harus menjelaskan apa kepada Aaron.


Aaron masih menunggu jawaban Nayra. Dia terlihat sangat tidak sabar karena rasa penasarannya.


"A-aku…," belum sempat Nayra menjelaskan sesuatu, tiba-tiba terdengar sebuah suara seorang wanita memanggil nama Aaron dari arah balik rak bahan makanan. 


Sambil mendesahkan napas berat, Aaron menatap sendu ke arah Nayra dan segera berpamitan.


"Aku harus pergi sekarang. Aku harap, kita masih bisa bertemu dan saling bertukar kabar. Hubungi aku setelah ini, okay?" ucap Aaron.


Mau tidak mau, Nayra langsung mengangguk mengiyakan. Toh, Nayra menganggap Aaron adalah salah satu temannya. Dia bukan tipe orang yang membeda-bedakan jenis kelamin dalam berteman.


"Pasti. 


Setelahnya, Aaron langsung berpamitan untuk menghampiri wanita yang memanggilnya tadi. Nayra masih menatap ke arah Aaron menghilang dari balik rak bahan makanan. Dia mendesahkan napas berat sambil kembali mendorong trolley miliknya.


Bukan Nayra tidak tahu diri dengan mengiyakan permintaan Aaron. Tapi, Nayra hanya berusaha menjaga pertemanan antara dirinya dan Aaron. Setelah beberapa kali bertemu, Nayra merasa Aaron adalah sosok teman yang baik. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh Nayra.


Tak butuh waktu lama, Nayra sudah selesai dengan barang belanjaannya. Dia bergegas menuju kasir untuk membayar semua bahan belanjaan yang telah dipilihnya.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, Nayra sudah selesai dengan barang belanjaannya. Saat itu, Nayra tidak terlalu kesulitan membawa barang belanjaannya. Dia cukup membawa barang belanjaan tersebut di kedua tangannya. 


Tak sampai lima belas menit kemudian, Nayra sudah sampai di penthouse Rainer. Meski tidak terlalu banyak barang belanjaan yang dibelinya, namun ternyata Nayra cukup kelelahan membawa dua kantong besar barang belanjaannya tersebut.


"Huft, kenapa capek sekali. Tahu begini aku minta bantuan tadi," gerutu Nayra sambil mulai menata barang-barang belanjaannya di dapur.


Setelah semua beres, Nayra mulai memasak makan siang. Siang itu, dia ingin memasak sup ayam dengan sambal dan kerupuk. Entah mengapa Nayra jadi menginginkan makanan itu sejak dari minimarket.


Hingga sekitar satu jam kemudian, Nayra sudah selesai memasak. Dia segera mengambil nasi dan sup ayam tersebut. Nayra benar-benar lapar. Saat Nayra sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba telepon rumah Rainer berbunyi. Nayra mengerutkan kening sesaat sebelum beranjak mengambil telepon tersebut.


Nayra segera menyambungkan panggilan setelah mengambil telepon tersebut.


"Hallo?" sapa Nayra.


Nayra bisa langsung hafal suara siapa yang menghubungi tersebut. "Eh, Pak Rain?"


"Cckkk. Kamu kira siapa lagi yang akan telepon jika bukan aku, hah?"


Nayra mencebikkan bibir. "Nggak usah marah-marah juga kali, Pak. Maaf, saya tadi habis dari minimarket, belanja. Setelah itu, saya langsung masak. Saya lupa jika ponsel saya masih di charge tadi." Nayra berusaha menjelaskan aktivitasnya kepada Rainer.


Terdengar gerutuan kecil dari seberang sana. "Setelah ini, segera nyalakan ponselnya."

__ADS_1


"Iya, iya."


"Kamu masak apa?" Tiba-tiba Rainer mengalihkan pembicaraan.


"Eh, ini tadi masak sup ayam."


"Sisakan juga untukku. Setelah ini, aku pulang."


Nayra menoleh ke arah jam dinding. Keningnya berkerut saat melihat jam dinding baru menunjukkan pukul 13.19.


"Kok sudah mau pulang? Ini masih siang, kan?"


"Cckkk. Memangnya kenapa? Jika tidak ada jadwal penting aku juga tidak akan ke kantor hari ini." Suara Rainer terdengar kesal.


"Kenapa?" Nayra masih belum bisa mencerna ucapan Rainer.


"Masih tanya kenapa? Tentu saja untuk honeymoon. Kita kan baru menikah."


"Eh, haruskah?"


•••

__ADS_1


Hayo, jawab apa Rain?


__ADS_2