
Malam itu, Nayra benar-benar kelelahan. Rainer benar-benar tidak membiarkannya beristirahat. Hingga menjelang pukul dua dini hari, Rainer baru menyelesaikan aktivitasnya. Nayra yang memang sudah sangat kelelahan, langsung terlelap begitu saja saat Rainer mendekapnya usai adegan panas mereka.
Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir Rainer saat memeluk tubuh polos Nayra. Sesekali Rainer memberikan kecupan bertubi-tubi untuk istrinya tersebut. Entahlah, semakin hari rasanya Rainer mulai sulit berjauhan dengan Nayra.
Hhhmmm, apakah Rainer sudah jatuh cinta kepada Nayra? Entahlah. Dia masih awam dengan perasaannya sendiri. Dulu, saat Rainer masih muda, dia sama sekali tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Bahkan, kepada Regina sekalipun.
Meskipun Rainer cukup dekat dengan Regina, namun dia tidak gelisah jika tidak melihatnya seharian. Rainer merasa cukup meski hanya tahu aktivitas yang dilakukan oleh Regina.
Karena tubuhnya juga semakin lelah, Rainer pun akhirnya terlelap. Dia tidak bisa langsung tertidur begitu saja dengan mudah jika sudah menempel pada tubuh Nayra. Kenapa bisa begitu? 🤔
Hari berganti hari dengan cepat. Tak terasa, hari pernikahan Aaron sudah di depan mata. Nayra yang memang sudah mendapatkan undangan dari Aaron, masih terlihat bingung untuk menghadirinya atau tidak.
Rainer yang melihat tingkah Nayra, hanya mencebikkan bibir. Dia tidak melarang atau meminta Nayra untuk menghadiri pernikahan Aaron. Hanya saja, Rainer berharap jika Nayra mengurungkan niatnya untuk tidak menghadiri pernikahan Aaron tersebut karena inisiatifnya sendiri.
Saat ini, Rainer dan Felix tengah makan siang di sebuah restoran tak jauh dari kantor. Mereka baru saja menemui seorang klien di kantornya.
"Lo datang ke acara nikahannya Bastian, Rain?" tanya Felix.
__ADS_1
"Nggak. Gue nggak diundang. Males juga jika harus datang," jawab Rainer cuek. Padahal, di dalam hati dia misuh-misuh kesal karena merasa tidak dianggap sebagai suami Nayra. Bagaimana tidak, Nayra mendapatkan undangan, sedangkan dirinya tidak.
"Nayra datang?" tanya Felix.
"Mana gue tau." Rainer mengedikkan bahu sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Cckkk. Seharusnya, lo larang Nayra untuk datang. Atau paling tidak, lo ikut nemenin dia. Nggak sayang lo sama bini. Bagaimana coba jika nanti ada yang godain Nayra di sana?" Felix justru mengompori Rainer.
Entah Felix sadar apa tidak dengan ucapannya tadi. Rainer bisa berubah menjadi spesies yang sangat protektif jika sudah menyangkut dengan sesuatu yang menjadi miliknya.
"Gue yakin jika Nayra nggak bakalan datang," ucap Rainer dengan ekspresi yakin.
Felix tampak tidak percaya. Dia hanya bisa mencebikkan bibir sambil melirik ke arah Rainer.
"Lo yakin bini lo nggak bakal datang? Acaranya jam berapa sih? Jam satu kan, ya?"
"Mana gue tau!" Rainer langsung merasa kesal. "Eh, ngapain kita ngomongin acara nikahannya cecunguk itu. Nggak penting." Lanjut Rainer sambil kembali menyantap makan siangnya.
__ADS_1
Meskipun terlihat tidak peduli, tapi Felix sangat yakin jika Rainer masih kepikiran dengan Nayra.Â
"Jika lo masih ragu, kenapa nggak lo hubungin saja Nayra. Lo bisa pastikan dia datang atau tidak ke acara itu. Nayra kan tahu jika lo nggak suka sama Bastian. Jika Nayra memikirkan perasaan lo, dia pasti tidak akan datang," ucap Felix.
Dan, rupanya ucapan Felix tersebut berhasil mempengaruhi Rainer. Dengan segera, Rainer mengambil ponselnya dan menghubungi Nayra.
Cukup lama Nayra belum menjawab panggilan Rainer. Hingga pada dering ke empat, panggilan tersebut baru tersambung.
"Hallo?"
"Kamu dimana, Nay?" Rainer langsung bertanya.
"Eh, ini di luar, Mas."
"Apa? Kamu mau ke acara nikahannya Laron?"
"Eh?"
__ADS_1