Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Ungkapan Hati


__ADS_3

Menjelang sore, Rainer dan Nayra sudah tiba di rumah mereka. Kedua orang tua Rainer tidak bisa ikut mengantar kepindahan mereka karena harus berangkat kembali ke Australia. Rainer dan Nayra hanya ditemani seorang asisten rumah tangga.


"Barang-barang lainnya besok saja minta Bibi bereskan. Sekarang yang penting-penting saja dulu tidak apa-apa," ucap Rainer saat mengekori Nayra keliling rumah untuk melihat isi rumah baru mereka tersebut.


Nayra hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Dia masih mengagumi desain interior rumah minimalis namun mempunyai tata letak ruang yang pas tersebut.


"Kamu yang desain ini semua, Mas?" tanya Nayra saat berdiri di dekat mini bar dapur.


"Hhmmm. Felix yang cari lokasi ini. Maunya, aku akan mengajak kamu tinggal di rumah yang satunya. Tapi, ada dua lantai di rumah yang itu. Aku nggak mau kamu harus naik turun tangga di saat hamil dua baby bears ini," ucap Rainer sambil memeluk Nayra dari belakang. Tangannya langsung mengusap-usap perut Nayra yang memang sudah mulai terlihat membuncit itu.


Nayra menyandarkan punggungnya pada dada sang suami. Dia menoleh dan sedikit mendongakkan kepalanya agar bisa menjangkau wajah Rainer. Dan, tentu saja Rainer mengerti keinginan Nayra. Secepat kilat Rainer langsung menunduk dan menyambar bibir sang istri. Hingga keduanya larut dalam gairah yang semakin lama semakin panas.


Rainer melepaskan pagutan bibirnya karena mengetahui jika sang istri telah megap-megap kehabisan oksigen. Napas keduanya ngos-ngosan karena aktivitas panas yang baru saja dilakukan. 

__ADS_1


Rainer masih memeluk Nayra dari belakang dan posisi Nayra pun masih bersandar di dadanya. Kedua netra mereka saling mengunci bertatapan.


"I love you," ucap Rainer sambil mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bibir Nayra.


Mendengar ucapan sang suami, sontak saja kedua bola mata Nayra langsung membulat dengan sempurna. Bahkan, bibir Nayra pun ikut terbuka saking kagetnya. Ya, saat itu adalah pertama kali bagi Rainer mengucapkan kalimat sakral tersebut. Wajar jika Nayra langsung kaget.


"A-apa yang kamu ucapkan tadi, Mas?" Nayra langsung melepaskan pelukan Rainer dan berbalik menghadap ke arah sang suami dengan ekspresi terkejut.


"I love you, Nay. I love you." Rainer mengulangi ucapannya sambil membenamkan kecupan pada bibir sang istri dengan penuh semangat.


Nayra yang merasa sangat bahagia pun langsung membalas ciumann sang suami dengan tak kalah menggebunya. Bahkan, tanpa sadar Nayra pun meneteskan air mata saking bahagianya.


Rainer merasakan pipinya basah oleh air mata Nayra, langsung melepaskan pagutan bibirnya. Dia menatap wajah istrinya yang sudah berderai air mata tersebut. Rainer langsung menghapus air mata tersebut dengan ujung-ujung jarinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis, hhmm?" Rainer bertanya dengan lembut.


Nayra bahkan tidak kuasa menjawab pertanyaan Rainer karena saking terkejut sekaligus bahagia. Dia hanya bisa tersenyum sambil sedikit menggelengkan kepala. Tentu saja Rainer mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Nayra tersebut. Dan, semua itu akibat ketidakpekaannya sebagai seorang laki-laki sekaligus suami.


"Maaf, Sayang. Maafkan aku. Mulai sekarang, aku akan berusaha untuk lebih peka lagi. Jangan bosan-bosan untuk menungguku."


Cup.


Rainer lagi-lagi melabuhkan sebuah kecupan pada kening Nayra. Dalam hati, Rainer berjanji akan berusaha sebisa mungkin untuk berubah. Dia akan segera menjadi seorang ayah, dan tidak bisa jika terus-terusan menjadi orang yang cuek dan tidak peka seperti dulu.


"I love you, Nay. Love you so much," ucap Rainer sambil membenamkan tubuh Anyar dalam dekapannya.


"Love you, too." Nayra membalas sambil berbisik.

__ADS_1


__ADS_2