Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Gumaman Nayra


__ADS_3

Nayra terpaksa mengembalikan brokoli yang tadi sudah diambilnya karena permintaan Rainer. Rainer tidak mau melihat brokoli tersebut dan bisa membuat perutnya kembali merasa mual.


Setelah membayar semua belanjaannya, Nayra membawa semua belanjaan tersebut menuju mobil. Rainer yang sejak keluar dari kamar mandi, langsung beranjak menuju mobil mereka. Dia tidak menemani Nayra melanjutkan belanjanya karena tubuhnya terasa lemas.


Nayra juga yang akhirnya mengemudikan mobil menuju penthouse mereka. Dia tidak tega melihat tubuh Rainer yang lemas setelah muntah-muntah hebat tadi.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rainer dan Nayra sudah tiba di parkiran. Mereka segera bergegas menuju penthouse. Rainer langsung bergegas membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya setelah itu. Sementara Naura, langsung berjalan menuju dapur untuk membereskan barang belanjaannya.


Setelah selesai, Nayra segera menghampiri Rainer yang sudah tidur tengkurap di atas tempat tidur. Nayra menggoyang-goyang kaki Rainer untuk membangunkan suaminya itu.


"Mas, bangun dulu. Ganti posisi tidurnya, jangan begini," ucap Nayra.


"Hhmmm."


Tidak menyerah, Nayra mencoba kembali membangunkan sang suami.


"Mas, bangun dulu. Jangan begini tidurnya, nanti sakit pinggang."


"Biar, Nay. Aku mual jika berbalik." Rainer menjawab sambil masih memejamkan mata.

__ADS_1


Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat setelah mendengar jawaban Rainer. Mau tidak mau, dia akhirnya membiarkan Rainer tidur senyamannya saja. Nayra beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Malam itu, Nayra memasak balado hati sapi. Entah mengapa saat belanja tadi tiba-tiba Nayra ingin memasak olahan tersebut. 


Setelah menyelesaikan masakannya, Nayra segera menyiapkan masakan tersebut di atas meja makan. Begitu semua sudah siap, Nayra bergegas membangunkan Rainer. Namun saat dia memasuki kamar, Nayra tidak mendapati keberadaan suaminya tersebut di sana. Nayra mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Tak berapa lama kemudian, Rainer terlihat keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah terlihat segar.


"Makan malam sudah siap, Mas. Makan dulu," ucap Nayra.


"Hhhmmm." 


Saat keduanya sudah berada di ruang makan, kedua netra Rainer langsung berbinar. Air liurnya terasa menetes saat melihat masakan istrinya tersebut. Rasa-rasanya, Rainer sanggup menghabiskan seluruh masakan tersebut saking laparnya.


Secepat kilat Rainer dan Nayra melahap makan malam mereka. Sesekali mereka mengobrol tentang banyak hal. Hingga beberapa saat kemudian, tak terasa makan malam tersebut sudah selesai. Nayra bergegas membereskan makan malam, sementara Rainer beranjak ke ruang tengah. Dia merebahkan diri di atas sofa yang menghadap televisi.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ponsel Rainer. Dia segera menyambungkan panggilan tersebut setelah mengetahui Resta menghubunginya.


"Ada apa?" sapa Rainer setelah panggilan telepon terhubung.

__ADS_1


"Maaf mengganggu malam-malam, Pak. Saya sedikit ada masalah," jawab Resta dari seberang sana.


Kening Rainer berkerut. Dia penasaran dengan maksud ucapan Resta.


"Masalah? Ada apa?"


"Ehm, begini, Pak…," selanjutnya, Resta mulai menjelaskan beberapa kendala yang dihadapinya terkait pekerjaan.


Rainer mendengarkan sambil berjalan menuju meja kerjanya. Dia segera membuka laptop dan membuka email yang baru saja dikirimkan oleh Resta. Setelah itu, mereka berdua larut dalam pembicaraan terkait pekerjaan. 


Nayra yang sudah menyelesaikan aktivitasnya di dapur, segera ikut bergabung dengan Rainer. Malam itu, mereka bertiga bekerja bersama untuk menyelesaikan temuan Resta.


Hingga menjelang pukul sebelas malam, seluruh aktivitas sudah selesai. Nayra dan Rainer pun bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri sebelum beranjak istirahat.


Saat Nayra dan Rainer sudah berbaring di atas tempat tidur, Nayra langsung menempel pada tubuh Rainer. Nayra juga langsung melingkarkan tangannya pada perut Rainer. Dia sudah tidak merasa canggung lagi saat melakukan hal itu. Refleks, Rainer juga langsung melingkarkan tangannya pada bahu Nayra dan mendaratkan sebuah kecupan pada kening istrinya tersebut.


Karena sudah sangat mengantuk, Nayra hanya bisa bergumam sambil mengeratkan pelukan pada perut Rainer.


"I love you, Mas."

__ADS_1


__ADS_2