Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Foto


__ADS_3

Menjelang petang, Nayra baru bangun dari tidur siangnya. Nayra merasakan tubuhnya seperti remuk saat bangun. Dia bahkan langsung membenahi selimut yang membungkus tubuh polosnya.


"Astaga. Aku bahkan belum sempat berpakaian tapi justru malah tertidur," gumam Nayra.


Nayra mencari-cari keberadaan Rainer, namun sepertinya sang suami tidak berada di kamar. Setelahnya, Nayra memutuskan untuk segera beranjak menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket dan gerah.


Tak butuh waktu lama bagi Nayra untuk membersihkan diri. Setelah bersih, Nayra segera memakai bathrobe dan keluar dari kamar mandi. Dia cukup kaget saat melihat keberadaan Rainer di dalam kamar.


"Lho, Mas? Dari mana?" tanya Nayra sambil berjalan mendekat.


Rainer yang saat itu tengah memasangkan kabel charger pada ponselnya, langsung menoleh.


"Dari bawah." Rainer menjawab singkat.


Kening Nayra berkerut. Dia cukup kaget Rainer mau turun ke bawah untuk mencari sesuatu. Karena Rainer tidak menjelaskan alasan dia pergi tadi, Nayra pun juga tidak bertanya. Jika itu adalah urusan penting, Rainer pasti akan memberitahu Nayra.


Setelahnya, Nayra berjalan menuju meja rias. Namun, langkah kakinya terhenti saat Rainer menahan lengannya.


Brukkk.


Tubuh Nayra langsung menabrak dada bidang Rainer. Tentu saja hal itu membuat Nayra terkejut.

__ADS_1


"Eh? Ada apa, Mas?" tanya Nayra bingung. Dia bisa melihat tatapan mata Rainer yang menghunus tajam ke dalam matanya.


"Kok kamu nggak tanya ngapain aku ke bawah?" tanya Rainer.


"Hah?" Nayra langsung cengo setelah mendengar pertanyaan Rainer.


"Kok, hah? Kamu nggak penasaran ngapain aku ke bawah tadi?"


Tiba-tiba Nayra jadi bingung dengan tingkah Rainer. Apa maksudnya dia harus bertanya tentang apa yang dilakukan Rainer tadi? batin Nayra.


Kedua netra Rainer masih menatap tajam Nayra. Tampaknya, Rainer masih menunggu reaksi Nayra.


"Ehm, memangnya tadi kamu ngapain di bawah, Mas? Ada urusan?" tanya Nayra pada akhirnya.


"Tadi aku menunggu Felix. Dia mampir memberikan beberapa dokumen yang sempat aku minta."


Nayra mengangguk-anggukkan kepala.


"Sudah beres semua?"


"Hhhmmm. Tapi, Nay. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."

__ADS_1


Kening Nayra berkerut. Dia masih mengamati ekspresi Rainer yang juga sedang dalam mode serius saat itu.


"Tentang?"


"Reginan dan papanya."


"Eh? Mereka? Memangnya ada apa dengan mereka? Mereka mau cari gara-gara lagi?" Entah mengapa Nayra sudah langsung bisa menebak ke arah sana.


"Hhmmm. Sepertinya, mereka merencanakan sesuatu. Dan, kita harus mulai waspada dengan mereka. Pram, adalah laki-laki yang nekat. Jika dia memiliki keinginan, dia bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya."


"Eh, benarkah?" Nayra cukup terkejut mendengar penjelasan Rainer.


Setelahnya, Rainer langsung beranjak menuju meja kecil yang ada di dekat pintu kamar. Dia mengambil sebuah amplop berwarna coklat. Entah apa isi amplop yang terlihat tebal tersebut.


Nayra masih mengamati amplop yang dibawa oleh Rainer tersebut. Setelah berada di depan Nayra, Rainer menyerahkan amplop tersebut kepada Nayra dan memintanya untuk membuka amplop tersebut.


"Ini baru saja diberikan oleh Felix. Bukalah," ucap Rainer.


Nayra segera menerima amplop tersebut dan membukanya. Kedua bola mata Nayra tampak membesar saat melihat ternyata isi amplop tersebut adalah beberapa foto. Nayra memperhatikan beberapa foto yang diambil dari beberapa sudut tersebut.


Setelah memastikan semua foto sudah diperiksanya, Nayra langsung menoleh ke arah Rainer.

__ADS_1


"I-ini, kan?"


__ADS_2