Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Cicilan


__ADS_3

Nayra langsung beringsut mundur ketika tubuh Rainer semakin mendekat. Bahkan, wajah Rainer sudah mulai bergerak mendekat ke arah wajah Nayra. Tentu saja hal itu membuat Nayra was-was. Entah mengapa otaknya langsung travelling membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dan, tanpa dikomando lagi, Nayra justru langsung memejamkan mata. Rainer yang melihat hal itu, langsung mengerutkan kening bingung. Padahal, tujuan utama Rainer bergerak mendekat ke arah Nayra, adalah untuk mengambil butiran nasi yang menempel pada poni rambut di sebelah kiri Nayra.


Namun, saat melihat Nayra memejamkan mata, Rainer melupakan niatnya. Ya kali sudah pasrah dan siap sedia begitu dianggurin, batin Rainer.


Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Seperti tebakan para reader semua, Rainer langsung melakukan aksinya. Awalnya, dia hanya menempelkan bibirnya pada bibir Nayra. Namun, rupanya Rainer masih kurang puas. 


Jika hanya menempel, rasanya anyep. Toh, jika mau lebih dari sekedar menempel, sudah sah-sah saja. Kami kan sudah halal ini, batin Rainer.


Dan, benar saja. Rainer langsung menaring pinggang Nayra dengan tangan kanannya. Sontak saja hal itu membuat Nayra kaget hingga menarik kepalanya sedikit mundur. Tentu saja tindakannya tersebut, langsung melepaskan pertemuan bibir mereka.


Merasa tidak terima, Rainer langsung meraih tengkuk Nayra. Lagi, pagutan bibir keduanya tidak terelakkan lagi. Kali ini, Rainer tidak hanya menempelkan bibir keduanya. Tapi, dia dengan penuh semangat bergerak, menyeesap, bahkan meelumat bibir ranum sang istri.

__ADS_1


Entah dapat bisikan dari mana, Nayra bahkan tidak melawan sama sekali. Dia seolah ikut terbawa suasana yang diciptakan oleh sang suami. Bahkan, kini kedua tangan Nayra sudah bergerak hingga mengalung dengan sempurna pada leher Rainer.


Bibir keduanya refleks terbuka untuk memberikan akses pada pertemuan benda kenyal tersebut. Tak ayal, pertukaran saliva pun langsung terjadi. Bahkan, kini lidah Rainer sudah mulai ahli mengabsen mulut sang istri.


Hhmmpphhh. Hhmmpppmmmmhhh.


Suara peraduan benda kenyal tersebut, seolah bersahut-sautan menyaingi suara hujan yang mengenai atap rumah kontrakan tersebut. Hhmm, di luar dan di dalam rumah, sepertinya hujan sama-sama sedang beraksi.


Hingga beberapa saat kemudian, pagutan keduanya terlepas karena mereka sama-sama kehabisan napas. Baik Rainer maupun Nayra, langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Napas keduanya langsung memburu. 


"Aku tahu kita sudah menikah. Tapi, aku juga tidak mungkin langsung memintamu melakukan 'itu' sekarang. Setidaknya, kita sama-sama berusaha mendamaikan hati dan perasaan masing-masing dulu, sebelum benar-benar melakukannya."


"Aku tidak mau kamu menyesal di kemudian hari setelah kita benar-benar melakukannya. Tapi, aku berjanji kita pasti akan mencobanya," ucap Rainer sambil menatap dalam-dalam manik Nayra.

__ADS_1


Sebenarnya, Nayra sudah mengetahui hal itu. Kemarin, saat makan siang Rainer sudah membicarakan hal ini saat mereka sama-sama punya waktu istirahat. Dan, Nayra sudah setuju dengan hal itu. Namun, entah mengapa ada sedikit rasa yang mengganjal saat ini.


Kemarin, mungkin dia menyetujui apa yang dikatakan oleh Rainer. Namun, kali ini berbeda. Dia merasakan sendiri sentuhan yang diberikan oleh Rainer. Dan, saat Rainer menghentikannya, Nayra merasa seolah-olah dirinya tidak diinginkan. 


Rainer melihat perubahan ekspresi Nayra. Sebenarnya kalau boleh jujur, Rainer tidak mau melakukan hal ini. Tapi, dia ingin memastikan jika Nayra benar-benar sudah menerimanya sebagai suami.


Melihat ekspresi Nayra yang mendadak sendu, Rainer tidak bisa tinggal diam. Dia segera beranjak dan menarik lengan Nayra agar mengikutinya.


"Eh, mau kemana?" tanya Nayra saat Rainer menariknya.


"Meski kita belum bisa iya-iya, tapi bukan berarti kita tidak bisa depe dulu, kan? Nyicil sedikit boleh, dong?"


"Hah?"

__ADS_1


•••


Depe? 🤔


__ADS_2