Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Kenapa Lo Jadi Kesal?


__ADS_3

Sementara di dalam, Rainer sudah datang sejak sore. Dia sudah berada di sana dengan ditemani oleh Felix, sahabat sekaligus asisten pribadi Rainer untuk perusahaannya.


"Kenapa lo nggak gabung sama orang tua lo sih, Rain? Lo masih marah karena kejadian kemarin saat di Jogja?" tanya Felix setelah meneguk minumannya.


"Cckkk. Nggak ada, ya." Rainer langsung mendengus kesal. "Lagian, ini kan perusahaan bokap, bukan perusahaan gue. Gue cuma bantu ngurusin perusahaan yang di Jakarta."


"Iya, gue juga tau kalau itu. Ya, meskipun ini acara perayaan ulang tahun perusahaan, tapi lo kan juga menjadu salah satu pimpinan di cabang Jakarta. Mana yang paling besar juga. Setidaknya, lo bisa bergabung dengan orang tua lo, kan?"


"Ogah. Males."


Felix hanya bisa mendesahkan napas dengan kesal. Jika sudah seperti itu, Rainer pasti tidak akan bisa dibantah.


"Terserah lo, Rain. Gue sudah bosan nasehatin lo." Felix memilih mengambil minumnya dan meneguknya hingga tandas.


Rainer hanya bisa mengedikkan bahu sambil menatap hall yang sudah di desain sedemikian rupa untuk acara kantornya. Hingga sesaat kemudian, Felix kembali bersuara.


"Ngomong-ngomong, kemana Nayra? Kenapa dari tadi gue belum melihatnya?" Felix mengedarkan pandangan ke sekitar aula. Ya, dia memang belum melihat keberadaan aula semenjak kedatangannya.


Rainer menoleh sekilas dan menggelengkan kepala. "Gue juga nggak tau. Belum datang mungkin."

__ADS_1


"Kok tumben? Biasanya Nayra sibuk banget untuk acara beginian, Rain?"


"Cckkk. Jika acara kantor sendiri sudah pasti dia ikut sibuk. Tapi, kali ini kan beda. Ini acara untuk semua cabang. Jadi, bukan Nayra yang harusnya bertanggung jawab menghandlenya." Rainer menjelaskan kepada Felix.


Felix yang mendengar penjelasan Rainer, langsung menatap lekat-lekat wajah sahabatnya tersebut. Rainer yang merasa sedang diperhatikan pun langsung menoleh.


"Ada apa?" tanya Rainer.


"Sejak kapan lo perhatian sama Nayra? Jangan biang lo punya perasaan sama Nayra."


"Ngaco. Jangan suka ngomong sembarangan!" Rainer melempar tisu bekas yang dipegangnya ke arah Felix.


"Cckkk. Ngomong sembarangan apanya. Gue ngomong apa adanya kali, Rain. Lagian ya, kalau dipikir-pikir, Nayra itu tipe-tipe BPK lah. Jika gue belum terikat, sudah gue kekepin tuh cewek," ucap Felix menggebu-gebu.


Rainer menoleh ke arah Felix dengan kening berkerut. "BPK? Apa itu?"


"Bini Paket Komplit, Rain. Apa coba kurangnya Nayra itu? Sudah cakep maksimal, pinter, cekatan, pinter masak, rajin, dan body nya itu Rain, beuuhhh bener-bener bikin jakun gue naik turun." Felix langsung mulai mendramatisir.


Lagi-lagi Rainer melempar gumpalan tisu yang diambilnya dari tisu di depannya. Kali ini, Felix tidak bisa menghindar. lemparan Rainer berhasil mengenai kening Felix.

__ADS_1


"Ngapain sih lho lempar-lemparin gue? Gabut banget nggaka da Nayra." Felix langsung menggerutu kesal.


"Ngomong lo di saring, kek. Jangan suka ngawur." Rainer terlibat gusar.


"Bagian mana dari ucapan gue yang ngawur, Rain? Semua yang gue bilang bener, kan? Nayra itu memang rajin, pinter, cekatan, pinter masak, dan cantik juga. Mana coba yang salah."


Rainer masih menatao tajam ke arah Felix.


"Jika lo suka sama Nayra, ngapain nggak lo pacarin dia, hah?"


"Maunya sih gitu. Mau gue jadiin simanan si doi." Felix kembali terkekeh sendiri.


"Siaalaan!" Rainer langsung kesal mendengar jawaban Felix. Entah mengapa dia merasa sangat kesal saat mendengar jawaban tersebut.


"Eh, kok lo jadi kesal, Rain? Kenapa? Lo cemburu?"


\=\=\=


Hayo, ngaku nggak sih ni si hujan? 🤭

__ADS_1


__ADS_2